Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan

Berapa Banyak Kita Bertaruh?


oleh Italo Calvino

Logika sibernetika, jika dihubung-hubungkan dengan sejarah jagat raya, adalah proses yang menjelaskan bagaimana galaksi, sistem tata surya, Bumi, dan makhluk bersel satu tercipta. Merunut teori sibernetika, jagat raya dibentuk dari serangkaian kejadian timbal balik, positif dan negatif. Diawali dengan gaya gravitasi yang memadatkan hidrogen di awan primitif, lalu melalui serangkaian reaksi atom dan akhirnya dipengaruhi oleh gaya sentrifugal yang menjaga semuanya tetap seimbang. Sejak itu, semua berjalan sesuai aturan. Semua mengikuti logika rangkaian proses seperti di atas.
Begitulah prosesnya, meski pada mulanya tidak ada yang mengetahuinya, jelas Qfwfq. Maksudku, kau mungkin bisa meramalkannya, atau dengan kata lain, menebaknya. Aku tidak ingin membual, tapi sejak awal aku merasa bakal ada jagat raya. Dan aku benar. Bahkan aku benar pula tentang bagaimana proses terjadinya. Tersebab itulah aku menang banyak dari Si Tua Dean (k)yK.
Ketika itu, saat kami pertama kali bertaruh, belum ada apa-apa untuk diramalkan. Paling hanya beberapa partikel yang berputar-putar, beberapa elektron yang berserakan di sini dan di sana, dan proton-proton yang berputar di tempatnya. Aku mulai merasakan sesuatu yang janggal, seperti perasaan bahwa cuaca akan berubah. Memang, aku merasakan di sekitarku semakin dingin. Akhirnya aku berkata, “Bagaimana kalau kita taruhan? Sebentar lagi akan tercipta atom.”
“Halah, omong kosong. Atom? Tidak ada hal semacam itu. Dan aku akan bertaruh tidak untuk apapun yang kaukatakan.” kata Dean (k)yK.
“Kita mulai taruhan dari ix?” kataku.
“Dari ix kunaikkan jadi en!” jawabnya, pongah.
Seketika setelah dia menaikkan taruhan, elektron-elektron mulai berdenging dan bergerak memutari proton. Awan hidrogen di sekitarnya semakin pekat. “Lihat itu? Atom!”
“Ah, masa benda itu kau sebut atom?” kata (k)yK. Berkilah adalah kebiasaan buruknya. Dia tidak pernah mau langsung mengakui dia kalah taruhan.

Putusan


oleh Franz Kafka

Ketika itu minggu pagi yang indah di suatu musim semi. George Bendermann, pedagang muda, duduk di ruangan pribadinya di lantai pertama salah satu rumah di bangunan kumuh yang berjajar di tepi sungai, yang kesemua rumah itu hampir tak dapat dibedakan satu sama lain kecuali oleh tinggi atap dan warnanya. Dia baru saja rampung menuliskan sebuah surat untuk temannya yang kini berada di luar negeri, baru saja menyegel surat itu dengan sikap sekenanya dan seenaknya, lalu dengan siku menopang dia memandang keluar jendela, ke sungai, ke jembatan, ke bukit hijau yang indah di seberang sungai.
Dia berpikir tentang seorang teman, yang merasa tidak puas dengan kondisi kampung halaman, lalu melarikan diri ke Rusia beberapa tahun sebelumnya. Sekarang teman itu menjalankan usahanya di St. Petersburg, yang pada mulanya berjalan begitu lancar tapi setelah sekian lama kini usahanya itu mengalami kemunduran, dia mengeluhkan menurunnya jumlah pengunjung. Maka dia menyibukkan diri dengan bekerja serabutan di tanah asing. Jenggot tebal itu hanya mampu menyembunyikan muka murung dari muka yang George kenal sejak kanak-kanak, dan kulit yang menguning seperti menunjukkan penyakit yang makin parah. Seperti yang dia ceritakan melalui surat-suratnya, dia tidak mempunyai hubungan yang jelas dengan koloni senegaranya di tempat itu, dan juga jarang berinteraksi dengan penduduk lokal, serta memutuskan untuk selamanya melajang.
Apa yang mesti dituliskan seseorang kepada laki-laki yang jelas-jelas sudah kehilangan arah, seseorang itu bisa menuliskan rasa turut berduka cita tapi tetap tak bisa menolong. Haruskah seseorang itu menasihatinya agar pulang, menjalani hidup lamanya, menjalin kembali semua hubungan pertemanan lama—yang memang sudah semestinya dikatakan, dan sembari meminta pertolongan kepada teman-teman itu? Tapi di saat bersamaan, seseorang itu juga ingin mengatakan seperti kebanyakan orang—makin ramah cara mengatakannya akan makin membuat laki-laki itu terluka—bahwa usaha yang dilakukan lelaki itu sudah gagal, dan dia mestinya merelakan semua dengan pulang ke kampung halaman, membiarkan dirinya dianggap sebagai bocah pemboros yang akhirnya kembali. Barangkali tidak seorang pun akan mengerti penderitaannya, sebab di mata mereka, kini dia hanyalah bocah tua yang butuh pertolongan dari teman-teman kaya yang lebih memilih bertahan di kampung halaman. Lalu, bagaimana seseorang bisa tega mengutarakan benar maksudnya mengingat seluruh penderitaan yang dia alami? Dan dengan begitu, akan sulit juga membujuknya pulang. Dia terang-terangan mengatakan tentang dirinya yang sudah tidak mengenal lagi kondisi kampung halamannya, memutuskan untuk bertahan di tanah asing, selain karena nasihat-nasihat pahit yang dikatakan teman-temannya, yang kerap membuatnya merasa diasingkan. Namun, jika dia benar-benar menuruti nasihat-nasihat itu, dia akan tertekan di sini. Keadaan tidak mendukungnya untuk bisa bertahan hidup, baik bersama teman atau tanpa teman. Dia akan malu mengetahui dirinya benar-benar tak punya tempat pulang, bukankah hal itu berarti dia lebih baik tetap bertahan di sana, seperti yang dia putuskan? Dengan pertimbangan seperti itu, seseorang itu berpikir, jika dia meminta temannya pulang, dia hanya akan memperburuk nasib temannya di sini.