Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

Ejekan Tersembunyi

 
"I see no reason to spend your life writing poems unless your goal is to write great poems."
Donald Hall.

Ya, saya sepakat dengan Tuan Hall. Meskipun begitu, saya masih kerap bingung, bagaimanakah puisi yang dahsyat itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya sudah tercekat di pertanyaan, apa itu puisi. Apa itu puisi? Puisi adalah yang ditulis penyair. Siapa itu penyair? Penyair adalah yang menulis puisi. Dua pertanyaan dan dua jawaban yang sederhana, mudah mengartikannya, tapi masih rumpang untuk dijadikan landasan atau titik tolak mendefinisikan puisi secara pasti. Bagaimana bisa satu puisi dikatakan dahsyat jika puisi itu sebenarnya apa belum terjawab? Bagaimana bisa duren dikatakan enak jika duren itu apa tidak ada yang tahu?
Beruntunglah kita. Manusia selalu menolak untuk rampung. Manusia berkecenderungan melanjutkan, meski rumpang. Semisal menemu jalan buntu, manusia menolak berhenti. Manusia bisa membayangkan jalan lain, menerka-nerka adakah cara lain untuk melanjutkan, alih-alih berhenti. Entah itu menjebol tembok, memanjat, atau berputar balik. apapun asal tidak berhenti.  Aha, dan saya juga menolak berhenti, meski definisi puisi belum pasti saya dapatkan. Saya menerka-nerka. Saya mulai menerka-nerka apa itu puisi, terkaan sederhana dulu. Puisi, sederhananya, adalah produk bahasa. Lalu apa syarat awal—paling sederhana—satu puisi dikatakan puisi dahsyat? Hmm. Saya membayangkan sebuah jawaban, puisi dahsyat adalah yang sesuai dengan kaidah tata bahasa—produk yang baik adalah yang sesuai dengan standar perusahaan.

puisi dahsyat
Memasuki puisi adalah melewati pintu bahasa itu sendiri. Yang Kung menggunakan sistem bahasa Indonesia dalam puisinya. Maka untuk menikmati dan mengapresiasi puisinya, tidak mungkin tidak, mesti menggunakan sistem bahasa Indonesia. puisi CATATAN LEPAS karya Yang Kung sepertinya taat kaidah bahasa. puisi tersebut terdiri dari tiga baris. Tiap baris berupa satu kalimat yang utuh. Dan, hanya baris pertama yang merupakan kalimat majemuk, //hujan yang, biasanya kau kenal, lembut dan santun itu berubah perangainya//. Ada aposisi di sana—ungkapan yang diapit oleh dua koma, /biasanya kau kenal/. Apa itu aposisi? Dalam KBBI, aposisi diartikan sebagai ungkapan yang berfungsi menambah atau menjelaskan ungkapan sebelumnya dalam satu kalimat.

Aku dan Suwung

Aku tidak tahu. Tidak tahu berangkat dari mana. Bagaimana jika dari Polandia? Wislawa Szymborzka, penyair dari Polandia. Dalam menulis, kalimat pertama bukanlah yang tersulit katanya. Kalimat pertama sulit, kalimat kedua juga. Keenam ketujuh sama. Bahkan keberapa pun sama sulitnya. Ah, menulis itu. Tapi paling tidak, aku sudah dapat kalimat pertama. Aku tidak tahu. Lalu kalimat keduabelasnya?

Barangkali seratus kilometer per jam. Kereta itu melaju 100 km/jam. Mendahuluiku, yang mengendarai motor—kutengok jarum speedometer yang menunjuk angka 70. Di Kabupaten Bojonegoro tepatnya Baureno, beberapa kilometer sebelah barat Babat. Ya, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Kecamatan Babat asal jajanan Wingko. Walau lebih banyak orang tahu wingko itu khas Semarang, Wingko Babad Semarang. Mengapa bisa seperti itu sejarahnya panjang. Lebih panjang dari kereta yang menyalipku tadi. Jadi, tak akan kutulis di sini. Ini catatan tentang kawan dan kenangan.

Ya. Kawan.

Kawan itu bernama Lina Kelana. Aku mengenalnya sebagai penyair. Puisi-puisinya dibukukan dalam Sepuluh Kelok di Mouseland, bersama sembilan penyair lain. Tapi entah kenapa Lina kerap menolak disebut penyair. Mungkin karena sekarang dia sudah menulis novel. Novelis jadinya. Suwung, judul novelnya. Baru aku dapat dan belum baca. Jadi, aku belum bisa bercerita. Cerita tentang perjalananku menemuinya dan perbincanganku dengannya saja.

Ah, suwung sekali perjalananku. Dari Cepu ke Lamongan, sendirian. Tapi kesendirian bukan hal yang menyedihkan. Yang menyedihkan adalah ketika kita memiliki cita-cita lalu seluruh keadaan di sekitar tidak mendukung. Berat. Seringkali membuat sedih. Ih! Tapi Lina itu energik. Perawakannya kecil. Mungil. Dan ih yang dia ucapkan, tidak terkesan sedih, cenderung gemes. Gemes memang jika punya gairah bergerak di sastra. Keadaan di sekitar jarang mendukung. Kira-kira begitu katanya. Lalu dia tertawa. Lalu sesendok es dawet masuk ke mulutnya. Enaknya! Tentu saja kami berbincang sambil makan. Juga sambil ditemani Ahsan. Temannya Lina. Temanku juga. Dia pesan mie. Aku pesan Soto Lamongan. Masa aku jauh-jauh ke Lamongan untuk pesan mie? Minumku es lemon tea. Menyegarkan. Seperti kalimat ini. Perbincangan bisa menanti, lapar tidak. Idealisme dan cinta bisa menunggu, perut mesti diisi dulu. Selamat makan!

Ah, suwung sekali paragrafku tadi. Kemana-mana. Seperti aku, Ahsan, dan Lina. Ngobrol pun, kami kemana-mana. Bertema-tema. Dari mulai geliat komunitas sastra. Ih, susahnya menggeliat di sastra. Lalu orang-orang pintar dan ternama. Untuk sampai taraf kepintaran itu, mereka baca buku dan makan apa. Juga media. Ah, media lagi. Tapi tak apa. Asal ada minum dan rokoknya. Tapi Lina tidak merokok. Aku dan Ahsan saja. Persamaan kami bertiga adalah, pertama, kami duduk semeja dan berbincang. Kedua, kami tertawa ketika Arif Fitra Kurniawan berbicara. Iya, penyair muda kenamaan Semarang itu ikut berbincang.

Kecapi Ujang

--catatan kecil tentang pengalaman tak terduga--


Tangan kanannya menjepit rokok, tapi masih saja terlihat lentik menari di senar-senar kecapi. Tembang mengalun. Dia mulai nembang. Bagi saya, suara orang nembang selalu begitu. Selalu saya hubung-hubungkan dengan Manthous. Dia legenda, kata Ujang, pengamen kecapi yang datang sore tadi. Satu lagu sudah rampung. Rokok di cepitan jari manis dan kelingkingnya habis tak terhisap. Dibuangnya putung rokok itu, diambil sebatang lagi. Dia menyulutnya lagi.

Di depan Star Comic Cepu, Otysta dan saya bercengkrama sebelum Ujang datang. Setelah Ujang menyelesaikan satu tembang, Otysta, yang sedari tadi manggut-manggut sambil berusaha mengikuti tembang, bertanya tentang kunci nada kecapi. Ujang, dengan senyum di wajahnya—satu lubang di sebelah kanan mulut karena ditinggalkan gigi nampak, menjawab titi laras. Aku tak begitu paham dengan apa yang dimaksud titi laras. Tapi aku mencoba menebak-nebak. Barangkali semacam harmonisasi. Titi itu mengingat, barangkali. Laras itu selaras. Barangkali teliti mengingat senar mana yang bersuara bagaimana, lalu memetiknya dengan selaras. Ah, aku hanya menebak-nebak tanpa sempat menanyakan. Ujang menghisap rokoknya. “Boleh minta air putihnya, Mas?” tanyanya. Saya sodorkan, lalu diteguknya.

Kecapi itu berdebu. Di bagian depan ada tulisan Dewa Ndaru, sedikit pudar. Dua puluh senarnya nampak usang dan tua. Kedua tangan Ujang menelungkup di atas senar-senar itu. Kubayangkan tangan-tangan itu sedang membelai sembari berkata kepada senar-senar, kalian istirahatlah dulu setelah satu lagu. Nanti kalian akan bermain lagi. Dan selagi senar-senar itu beristirahat, Ujang bercerita tentang pengalamannya ketika berkolaborasi dengan jenis musik lain. Senar kecapi ini memang senar gitar, tapi settingan gamelan. Jadi, jika ingin berkolaborasi dengan jenis musik lain, pemainnya harus tahu benar bagaimana mengkolaborasikan pentonis dan diantonis (semoga saya tidak salah dengar dan salah menuliskannya). Mendengar istilah itu, saya teringat Mas Kurniawan Yunianto. Dia pernah membincangkan pentonis dan diantonis itu. Tapi, sampai sekarang saya belum juga paham benar apa itu.

Tidak (Melulu) Tragedi

*)ulasan impresif tentang film Stranger Than Fiction, sebagai periuh Bincang-Bincang Minggu #12 Open Mind Community.

Apapun yang dikatakan atau dipikirkan tentang sesuatu di suatu masa akan menjadi narasi itu sendiri. Barangkali, tersebab itulah Luc Herman dan Bart Vervaeck menyatakan “No single period nor society can do without narrative” (Handbook of Narrative Analysis; 2005). Sebuah peristiwa akan menjadi cerita itu sendiri. Peristiwa ditampar oleh kekasih yang marah barangkali menjadi sesuatu yang menyesakkan ketika itu terjadi. Namun, bagaimana jika peristiwa itu sudah terlewat? Itulah cerita. Dan, saat peristiwa telah menjadi cerita, itulah suatu masa bisa diceritakan. Ketika itu, pandangannya penuh dengan kemarahan. Lalu plak!


Lalu apa jadinya jika suatu masa diceritakan tepat ketika itu terjadi? Ada narator yang bercerita tentang menggosok gigi tepat ketika peristiwa menggosok gigi itu terjadi. Ada narasi yang dibacakan tentang bagaimana rasanya jatuh cinta tepat ketika peristiwa memandangi wanita cantik tengah berlangsung. Janggal. Mengganggu. Barangkali itu yang dirasakan Harold Crick (film Stranger Than Fiction; 2006). Dalam film tersebut, diceritakan bagaimana kebingungan Harold ketika dia melakukan sesuatu, ada suara yang mengatakan bagaimana dia melakukannya.
  
It’s not schizophrenia. The voice’s not telling me what to do. It’s telling me exactly what I’ve done. Accurately. Even in better vocabulary.”

Sampai Galau Sampai*

*) notulensi diskusi sebagai wakil yang tak pernah bisa menggantikan kegiatan Diskusi Sastra Pojok Pendopo Open Mind Community

Minggu sore, selepas hujan, Taman Budaya Raden Saleh. Jika kalender itu tidak salah, sore itu adalah tanggal 8 Januari 2012. Dan Open Mind Community menyelenggarakan agenda pertamanya di tahun 2012. Diskusi Sastra Pojok Pendopo #31, Musyafak, dan Sampai Mana Sampai. Ya, begitulah tajuk diskusi, penyair sekaligus karya yang didiskusikan.


SAMPAI MANA SAMPAI

tak benar-benar sampai telingamu. bisik yang dititipkan di lengung terakhir baling-baling kipas. dan senyap berangkat bersama kedip terakhir monitor yang sejak berjam lalu menipu matamu. sepertinya takkan sesederhana itu tubuhmu memadamkan lampu.

malam dan pagi berdempuk. di pejam pertama, waktu terpuruk. begitulah mimpi membuatmu mengerti: hidup selalu tertunda dan retak di jarum jam yang terus mendetak.

adakah yang berhenti jika jeda hanya perjumpaan pendek dengan sunyi?

sebagaimana tak lama lagi siang kembali. melesakkan ponsel dan komputer ke tubuhmu: mengoyak dadamu, mengacak kepalamu, membajak matamu, menyalak telingamu. dari dinding kabel-kabel menjulur dan mengikat tangan-kakimu.



*****
Janoary M Wibowo memulai diskusi. Dengan kertas kopian puisi Musyafak di tangan kanannya, dan rokok di tangan kirinya, Jano, begitu dia akrab dipanggil, memaparkan istilah technetronic etnocide. Pembunuhan sebuah peradaban yang dilakukan oleh teknologi elektronik. Iya, pria berkacamata itu membaca langsung ke bait keempat puisi Musyafak. Ponsel dan komputer itu, sepertinya semakin menjauhkan manusia dari kemanusiaannya. Lalu, Ahmad Fauzi, menambahkan. Menurut yang dia ketahui, teknologi dan segala yang dihasilkannya pada mulanya untuk membantu manusia. Manusia menyadari keterbatasannya jika dibandingkan alam. Oleh karena itu, manusia menciptakan alat, teknologi itu sendiri. Namun, makin ke sini, alat-alat itu semakin menguasai manusia. Manusia makin terbatas. Jika tanpa alat-alat itu, manusia seakan merasa lemah-selemah-lemahnya. Fauzi menganalogikan sebagai pahlawan yang dulunya membebaskan kini malah berbalik membatasi. Ya, teknologi itu pahlawan yang berkhianat, pahlawan yang berbalik menyerang.

Rambutnya panjang, bergelombang, dialah Kurniawan Yunianto, biasa dipanggil Kaye. “Sekarang, siapa sih yang mau repot?” katanya. Seperti bermain gundu, ada istilah wang cuk wang in. Begitulah bagaimana orang dahulu bertamu. Tetap berangkat dari rumah ke rumah yang dituju dengan niat bertamu. Si tuan rumah ada di rumah atau tidak saat itu (tamu tidak tahu karena belum ada telepon) menjadi persoalan lain nantinya setelah sampai di rumah yang dituju. Namun, kini, terkadang tamu sudah ‘sampai’ ketika belum berangkat. Ya, berkirim pesan dengan si tuan rumah, lalu berkata akan bertamu. Jika si tuan rumah sedang tidak ada di rumah, maka si tamu mengurungkan niat untuk bertamu. Di sanalah ‘sampai’ itu. Ya, ‘sampai’ yang belum sempat berangkat.

Rimba Kata


Biarkan saja pikirmu jatuh dalam pangkuan yang dingin. Sesekali tubuhmu menunjukan lelah yang sangat. Aku tak tega melihatmu berpikir tentang apa yang aku juga tak tahu, apa yang kau pikirkan.
Cangkir – Arya Sutha

Entah siapa yang pernah berkata, sastra adalah hutan rimbanya kata. Tetapi, bagiku, hutan dan rimba adalah dua hal yang berbeda. Berbeda seperti cangkir dan gelas. Hutan, setahuku, adalah tempat pohon-pohon ditanam oleh manusia untuk sesuatu, mungkin tujuan tertentu. Biasanya nama hutan ditentukan dengan jenis pohon yang tumbuh di dalamnya. Pohon-pohon yang sejenis. Hutan jati, misalnya, untuk menyediakan pasokan kayu jati. Hutan karet juga, menjadi tempat petani karet menyadap pohon karet. Hutan pinus, mungkin menjadi tempat yang rindang untuk sekadar berekreasi. Ya, hutan itu untuk manusia. Sedangkan rimba adalah belantara, tempat berbagai jenis tumbuhan di sana. Pohon besar, pohon kecil, tumbuhan suplir, jamur, dan apa saja yang bisa tumbuh di tanah, bisa jadi tumbuh di rimba. Jarang manusia yang menyentuhnya, sebab masih liar. Tak terbaca, bisa bikin tersesat.

Pun begitu dengan karya sastra. Puisi itu taman bunga, di ruang yang lebih kecil, kata-kata ditanam dengan seluruh kesiapan. Cerpen dan novel bisa jadi adalah hutan (atau) rimba. Bisa jadi hutannya kata-kata, bisa jadi rimbanya kata-kata. Hutan ketika kata-kata disusun berdasarkan sesuatu. Entah apa itu, bisa jadi alur cerita, petualangan tokoh, atau apapun keinginan penulis. Rimba ketika kata-kata dibiarkan tumbuh liar, tak ada kaidah di sana. Apapun yang ingin tumbuh, silakan tumbuh. Ide apapun yang ingin menjadi kata, silakan menjadi kata. Hutan memang teratur, tetapi keteraturan itu bagi beberapa orang dianggap batasan. Batas yang menjadikannya monoton. Rimba adalah liar, tantangan bagi yang suka tantangan.

Cerpen Cangkir karya Arya Sutha ini pun begitu. Aku menganggapnya sebagai rimbanya kata. Ide-ide tumbuh-bertumbuh di mana-mana. Tak perlu ada kaidah. Tak perlu ada alur cerita yang mengatur. Paling tidak, seperti itu pembacaanku. Sebab, tak kudapat alur cerita yang jelas. Mungkin sengaja dikaburkan. Mungkin memang tak pernah ada alur cerita di dalamnya. Ya, nama-nama bermunculan tapi tak satupun menjadi tokoh. Aku-tokoh pun hanya mengalir mengikuti arus kalimat.

Pada satu ketika aku-tokoh menggambarkan diri sebagai seorang penunggu. Seperti biasa itulah pekerjaanku, menunggu Ben buang air karena ia takut gelap, menunggu Agus yang sedang rapat, menunggu Hari makan dengan adiknya. Aku menunggu. Pada ketika lain, aku-tokoh menjadi pengamat tanda-tanda alam. Pantheist. Aku-tokoh bertanya tentang pesan apa—yang mungkin ada untuknya—dari cahaya yang perlahan-lahan memeluk dan bercumbu di langit sore. Lalu, di ketika yang lain lagi, aku-tokoh menjadi pembenci kopi tapi pecinta kebencian. Itu sebabnya, aku-tokoh sering minum kopi. Aku-tokoh semacam angin, yang bergerak dari lembah ke lembah. Berloncatan dari tanda ke tanda.

Ya, sepertinya memang begitu. Cangkir ini penuh dengan tanda—baik berupa kata atau kalimat atau tanda itu sendiri. Cangkir menjadi rimbanya tanda. Namun, semiotika tanda lahir dari strukturalisme Saussure. Dan, Saussure itu berpegang teguh pada oposisi biner. Ada siang ada malam, ada tinggi ada rendah. Ada gula ada semut bukan oposisi biner-nya Saussure, itu peribahasa Indonesia. Tentang tanda, Saussure mungkin menyebutkan ada tanda ada penanda. Tanda tak mungkin lahir begitu saja, selalu ada penandanya. Seperti kursi itu selalu lahir bersama konsep tentang kursi, entah itu tempat duduk, atau jabatan. Saya membayangkan Arya Sutha ketika menuliskan cerita ini. Ide-ide di kepalanya berkecamuk. Dan jemarinya, menuliskan apa saja yang terlintas.

Sebagai pembaca awam, saya curiga. Jangan-jangan Arya Sutha, melalui cerpen Cangkir ini, sedang melakukan semacam audisi siapa yang mampu tak tersesat di rimba katanya, rimba tandanya. Pembaca diajak masuk dengan kata-kata puitis. Pembaca dipancing masuk dengan kalimat-kalimat kuat yang ditata dengan indah. Tapi, di mana setapak tempat aku pulang, di mana alur ceritanya. Sial, mungkin saya bisa jadi pembaca yang tidak lolos audisi awal. Sebab, di beberapa paragraf awal, saya tak kunjung menemukan alur cerita.

Bagaimana pun juga, membaca cerpen Cangkir ini, ketersesatan—mungkin yang menyebabkan saya gagal di audisi awal—bukan sesuatu yang perlu disesali. Arya Sutha sudah mampu menampilkan keindahan dalam merangkai kata, merangkai kalimat. Seperti diajak bertamasya, melihat keindahan rimba. Pepohonan di sana-sini. Rindang di sana-sini. Eh, itu ada air terjun, indah juga. Eh, ada lagi binatang liar, sensasi pemandangan yang tak kalah mengasyikkan. Tapi, di mana jalan pulang? Arya Sutha sebagai panitia audisi pasti mengantarkanku pulang. Ya, sebuah tamasya di rimba kata yang menyenangkan. Semoga, lain kali, Arya Sutha mengajakku bertamasya ke rimba kata lagi. Tapi, kali itu, aku berharap dia sudah menyiapkan jalur darurat jikalau nanti aku tersesat.[]


Mei 2011

Bad Guy yang Pahlawan

Bagaimana nasib Batman jika Joker tiba-tiba bersedih dan mengurung diri di kamarnya, tak mau lagi membuat kekacauan di kota Gotham? Bagaimana pula Superman akan menjalani hidupnya jika Lex Luthor memutuskan alih profesi menjadi CEO tim sepakbola Chelsea dan berhenti mengonfrontasi Superman? Tidak ada serial film dari Batman ataupun Superman yang menceritakan kisah semacam ini. Memang kisah semacam itu tidak lagi menarik. Tidak ada konflik. Tidak ada pertentangan. Kisah heroik akan menjadi membosankan. Namun, Megamind, film animasi 3D produksi Dreamworks besutan Tom McGrath, berani mengangkat kisah semacam itu. Bukan pahlawan yang kehilangan penjahat, melainkan penjahat super yang kehilangan pahlawan.

Cerita diawali dengan sebuah kilas balik. Megamind—nama tokoh utama film ini yang suaranya diisi Will Ferrell—terjatuh dari langit. Tiba-tiba dia ingat bagaimana mulanya dia bisa sampai pada keadaan itu. Dua planet yang tersedot lubang hitam mengirimkan pesawat yang berisi dua bayi, generasi terakhir dari ras mereka. Pesawat pertama berisi bayi berkekuatan super dan berparas tampan, kedua berisi bayi berwana biru berkepala besar dan super jenius. Dua pesawat penyelamat itu mendarat di bumi. Dalam perjalanan di angkasa, persaingan di antara keduanya sudah di mulai.
Kisah berlanjut. Dua pesawat penyelamat tersebut sampai di planet Bumi. Bayi berwarna biru dan berkepala besar jatuh di penjara, para penjahat membesarkannya. Lain nasib, sebuah pasangan suami istri bumi yang normal menemukan bayi berkekuatan super—Superman dengan kemampuan terbangnya dan tubuhnya yang otot kawat balung wesi selalu menjadi imaji tentang bagaimana kekuatan super itu.

Megamind dibesarkan dengan cara penjahat. Berbuat buruk adalah baik, dan berbuat baik adalah buruk. Bayi tentu saja menerima apa saja yang diberikan padanya. Dan, dengan pola seperti itu, juga didukung dengan kekuatan otaknya yang super jenius, Megamind mulai mengacau di penjara. Akhirnya, kebijakan penjara membuat Megamind dikirim ke sekolah, mungkin untuk mendapat pengajaran yang lebih baik. Ada yang lucu dan menarik yang dimasukkan penulis scenario, John A. Schoolcraft, ke dalam alur cerita, yaitu pelafalan school. Semestinya school dilafalkan /skul/, tapi dalam film ini dilafalkan /syul/. Bisa jadi itu kelakar pribadi John A. Schoolcraft yang namanya sering dilafalkan /skulkref/, semestinya adalah /syulkref/.

Kembali ke cerita. Seperti di film-film sebelumnya—salah satu yang terkenal adalah Madagascar, McGrath kerap menampilkan kritik-kritik sosial. Misalnya dalam film ini, sekolah ditampilkan tak selalu memberikan hal baik. Di sekolah itulah, Megamind menemukan takdirnya, jati dirinya sebagai penjahat super. Menjadi teman sekelas Metroman—bayi berkekuatan super yang diidolai—membuat Megamind menjadi defian, yang terkucilkan. Setiap hal yang dia lakukan selalu nampak lebih buruk jika dibandingkan dengan Metroman. Metroman selalu menjadi anak baik, sedangkan Megamind menjadi si anak nakal. “Jika aku memang anak nakal, maka aku akan menjadi anak nakal yang paling nakal sedunia.” kata Megamind, dengan gaya kocaknya. Jati diri ditemukan. Takdir telah dipahami. Tapi apakah permasalahan hidup akan selesai setelah jati diri ditemukan dan takdir sudah dipahami?

Metroman menjadi pahlawan Metro City, dan Megamind menjadi panjahat super. Tidak seperti cerita lain yang penjahat super selalu kalah. Megamind berhasil menghentikan Metroman. Sang pahlawan mati. Kota dikuasai kejahatan. “Bayangkan saja hal yang paling mengerikan dan menyeramkan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, lalu kalikan enam. Atau lebih sederhananya, kalian akan mulai menjalani kehidupan normal yang suram seperti layaknya orang normal.” kata Megamind dalam konferensi pers setelah membunuh Metroman. McGrath mengangkat persaingan antara baik dan buruk tidak dengan alur yang serius. Seperti banyak film animasi, Megamind menyuguhkan guyonan-guyonan satire di sana-sini. Megamind, penjahat super yang kocak melawan Metroman, pahlawan super yang terkenal bak selebritis—Batman bersembunyi di gua kelelawar dan Spiderman di salah satu kamar di jutaan gedung bertingkat di kota New York.


Kegalauan Penjahat Super
Penjahat super yang tujuan hidupnya hanya mengacau semestinya bahagia ketika dia bisa menguasai kota. Tetapi, tidak dengan Megamind. Malah kesepian yang dia rasakan. Untuk mengapa mengacau kota jika tidak ada yang mampu menghentikannya? Untuk apa bermain jika kemungkinan yang dipunyai hanyalah menang. Tidak seru. Tidak menyenangkan. Membosankan. Ya, Megamind mengalami kejenuhan dalam berbuat jahat setelah kematian Metroman, rival abadinya—atau sebut saja pasangan abadi.

Dunia ini butuh keseimbangan untuk terus berputar. Baik ataupun buruk harus selalu ada, berdampingan. Jika baik atau buruk itu hilang salah satu, yang muncul hanya kehampaan. “Apakah ini yang disebut ruang hampa? Ruang hampa yang di dalamnya tujuan tak pernah ada,” Begitulah dialog eksistensial antara Megamind dengan mainan di meja kerjanya. Namun, bukan penjahat super jenius yang banyak akal jika tidak bisa mengatasi masalah eksistensial itu. Dia mengambil jubah yang ditinggalkan Metroman, mengambil ketombe yang menempel di sana. Megamind menciptakan pahlawan super dari DNA Metroman. Iya, penjahat super menciptakan pahlawan untuk menghalanginya.

“Aku penjahat tanpa pahlawan. Aku tanpa tujuan. Aku Yin tanpa Yang.” katanya pada asistennya, Minion. Megamind butuh liyan yang bersebarangan dengannya agar tetap hidup, agar tetap punya tujuan, mengacaukan Metro City. Seperti yang pernah Paman Ben katakan kepada Peter Parker di film Spiderman, “Great power comes great responsibility”. DNA super Metroman jatuh ke tangan salah. Titan, tokoh super ciptaan Megamind yang semestinya bertugas menjaga Metro City ketika Megamind mengacau, malah merusak kota. Titan tak mengerti bagaimana bertanggung jawab atas kekuatannya, dia menyalahgunakan kekuatan super itu. Megamind kalah bertarung dengan Titan. Penduduk Metro City berbahagia dan berteriak, “Titan telah membebaskan kita dari Megamind.” Tetapi Titan menyeringai seraya berujar, “Aku tidak mengatakan bebas. Lebih tepatnya, di bawah tirani baru.”

Merujuk pada kata-kata Umberto Eco, pahlawan itu dibentuk oleh keadaan. DNA super dari pahlawan super pun bisa jadi tirani yang malah menghancurkan jika jatuh di tangan dan salah. Tak seorang pun, menurut Eco, bisa menjadikan dirinya pahlawan. Jika pun bisa, dia tidak menjadi pahlawan, melainkan menjadi kekuasaan—efek dari kekuatan yang disalahgunakan. Megamind pun tidak ingin mengingkari jati dirinya, penjahat super, anak nakal paling nakal sedunia. Namun, di film ini, Megamind adalah seseorang yang masih punya hati. Ya, masih punya sedikit rasa tanggung jawab di dalam dirinya. Dia yang menciptakan Titan, dia pulalah yang mesti menghentikan Titan. Dia Yin yang menemukan Yang-nya. Megamind, penjahat super, yang ingin menghentikan pahlawan super yang menguasai kota.

Pahlawan itu bersifat menolong, berkorban untuk orang lain. Eksistensial, hal tersebut sulit dilakukan. Setiap diri pada dasarnya ingin menjadi diri sendiri untuk diri sendiri, bukan orang lain. Namun, karena itulah, pahlawan dipuja. Dia yang mau berkorban untuk orang lain—seringkali mengorbankan diri sendiri—adalah pahlawan. Tak mudah menjadi pahlawan. Apalagi, bagi Megamind, yang semula yang dia pikirkan hanya bagaimana cara membuat kekacauan. Sekarang, penjahat super itu harus mengembalikan tatanan, menjadi oposisi dari kekacauan.

“Aku penjahat super. Aku tidak menolong orang,” kata Megamind, setelah dia menyadari bahwa bagaimanapun penjahat super selalu kalah dari pahlawan. Bahkan pahlawan yang merusak kota. Megamind sempat menyerah, kembali ke penjara, mengurung diri di selnya. Merenungi kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat. Dan, pada akhirnya. Kesadaran yang lain datang. Megamind, penjahat super, selama ini selalu melakukan kejahatan, tidak peduli bahwa bagaimanapun juga kejahatan tak mungkin menang melawan kebaikan. Kesadaran bahwa bukan di pihak mana kita berdiri, tapi bahwa kita tidak pernah menyerah adalah sebenar-benarnya kekuatan. Juga cinta. Sebab, yang menyadarkan Megamind akan hal itu, adalah Roxanne, gadis yang ia cintai—penjahat pun mempunyai jatah yang sama soal romantisme dan kisah cinta.

Dengan segala kemampuan otaknya, dia merencanakan segalanya. Dan, seperti banyak cerita lain, penjahat selalu menang. Lebih tepatnya mungkin, tokoh utama selalu menang. Megamind telah menjalani takdirnya, menjalani hidup dan bertanggung jawab atas semua perbuatan yang dia lakukan di masa silam. Itulah takdir. Ya, pesan dari film ini, bahwa baik dan buruk itu relatif dan subjektif. Tak perlu terlalu dipusingkan dengan di sisi mana kita berada, menjalani takdir adalah niscaya. Sebab, takdir bukanlah apa yang dituliskan untuk kita, melainkan apa yang kita pilih untuk kita lakukan.


Mei 2011

Acacil

"Om Taufik, pinjem dong!" pikirku, setelah menemukan kutipan yang menarik dari Taufik Ismail. Ya, Om sastrawan itu pernah berkata kurang lebih demikian, generasi mahasiswa era 90-an itu rabun membaca dan lumpuh menulis. Mungkin maksudnya, mahasiswa kala itu jarang membaca dan, sebagai imbasnya, jarang menulis. budaya literasi Indonesia dimatikan oleh generasi yang diharapkan menghidupkan budaya literasi itu. Mahasiswa.

"Pinjem lagi, ah." kataku kepada Soe Hok Gie, semoga dia bisa mendengar. Koh Gie punya sebutan khusus buat mahasiswa, the happy selected few[1]. Ya, mahasiswa adalah kaum elit masyarakat yang terpilih, yang jumlahnya sedikit tapi mempunyai kesempatan untuk membuat perubahan. Tercermin dari tingkat pendidikan yang dienyam, mahasiswa mempunyai budaya literasi, budaya membaca dan menulis yang tinggi. Inilah elemen masyarakat yang mempunyai tingkat intelektual tinggi, mencerminkan intelektualitas suatu bangsa.

“Ah, Om Taufik dan Koh Gie kan jadul, belum kenal twitter dan facebook.” kataku. Pantas jika pemikiran seperti itu muncul dari kepala mereka. Mahasiswa sekarang sudah paham bahwa mereka adalah kaum elite masyarakat, Agent of Change. Selain kampus, mahasiswa jaman ini mempunyai ruang diskusi baru, jejaring sosial. Arus informasi telah bergerak begitu cepat. Budaya literasi pun seakan-akan ikut ngebut. Koran dan buku tak lagi menjadi bacaan rujukan utama. Bagaimana pun juga, mesin cetak masih kalah cepat dengan jaringan wi-fi.

Bismillah, nawaitu mengomentari pernyataan Om Taufik yang hebat itu. Iya, yang rabun membaca dan lumpuh menulis itu mahasiswa era-90an. Beda jaman beda permasalahan. Rabun membaca dan lumpuh menulis tak lagi menjadi permasalahan di Indonesia sekarang[2]. Budaya literasi—dengan adanya jejaring sosial—semakin ramai. Mahasiswa membaca mahasiswa menulis. Jika kita melihat fenomena facebook, budaya literasi bahkan sudah terlengkapi dengan budaya berdiskusi. Diskusi di ruang maya tak lagi mengenal waktu, kapanpun dan dimanapun.

“Satu hal lagi ya, Om Taufik. Tidak bermaksud tak sopan padamu.” kataku, sambil tersenyum agar masih kelihatan menghormati yang lebih tua. Jika Om Taufik berkenan melihat lebih dalam, mahasiswa sekarang sudah mengusung, merencanakan sebuah perubahan dengan budaya literasinya. Budaya literasi, membaca dan menulis, sudah diusung ke arah yang lebih relevan, lebih tepat guna dengan jaman. Mahasiswa sekarang cukup visioner, kreatif dan inspiratif dalam kaitannya budaya literer. Membaca status dan menulis komentar sudah dikoar-koarkan oleh para agen perubahan itu. Kreativitas pun terpupuk dengan bermunculan gaya bahasa baru: bahasa Indalayesia[4], bahasa emotinesia[5], dan gaya bahasa lainnya yang tak kalah visioner tentunya. Jadi, Om Taufik dan Koh Gie, pernyataan-pernyataan anda sudah kami buktikan dengan apa yang kami lakukan. Hidup Budaya Literasi! Hidup Acacil![6]

1] Koh Gie gabrish beud deh, gaul british... xixie...
2] Yang jadi permasalahan Indonesia tuh, kapan SNSD pentas di Semarang??? T_T
3] Asal ada pulsa atau sinyal wi-fi buat online.. Online...online... Om Saykoji gokil... :D
4] KegH gNi niCh, baSa Ind4LaYNesi4. Quwh sBnRX ilPilh beUd makeNa, tP Lm2 Luthu juJa..xexe..
5] Nggak tahu bahasa emotinesia? Capek deh, --". Kaya ini hlo bahasanya, --" atau o_O trus ^^, ada lagi #_#, banyak deh pokoknya. Hidup Capit Lobster! V.n.V
6] Acacil = Agent of Change Alay, Culun dan Labil, gokil abis nggak tuh? u_O xoxo..

Membaca Gejala

sedang kami masih berjubel pada tintatinta buku
berdiam di kotak alat tulis menunggu perintah
[Mimpi di Jemuran - Ganjar Sudibyo]


Puisi-puisi Ganz dalam Simtom-Simtom Sebelum Penyair seakan-akan mengajak pembaca menikmati langit. Tapi, bukan memuisikan langit. Langit, dalam makna apapun, acapkali menjadi sumber inspirasi puisi. Langit adalah tempat yang luas dan tinggi. Mengapa luas ? Karena langit—terlihat—mampu melingkupi bumi, tempat manusia berpijak. Mengapa tinggi ? Karena ada gravitasi. Keindahan langit (sepertinya) tak bisa disangkal lagi. Entah sejak kapan, manusia mengagumi langit. Awan yang bergerak, bintang di malam hari, bulan, purnama, matahari menginspirasi, apalagi menginspirasi. Banyak lagi menginspirasi, bahkan di luar yang bisa disebutkan.

El, itu juga langit. Eli, itu yang berasal dari langit. Manusia diciptakan Tuhan. Tuhan itu yang berasal dari langit. Tuhan Maha Esa, Tuhan Maha Suci, Tuhan Maha Kuasa. Sederhananya, Tuhan Maha Segalanya. Mungkin. Tuhan bisa jadi Eli, yang berasal dari langit. Saya berasal dari Blora, saya menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Tuhan berasal dari langit, Tuhan menggunakan bahasa langit. Tuhan memang  Maha Segalanya, tentu saja Tuhan Maha Mengasihi dan Menyayangi. Tuhan juga Maha Sombong, tapi Tuhan juga Maha Mengerti. Tuhan yang Maha Baik Hati menciptakan kitab suci untuk manusia—ciptaannya yang ia sayangi. Kitab suci sebagai pedoman hidup di dunia dibuat tuhan—konon melalui perantara manusia—dalam bahasa manusia. Bahasa bumi, lebih mudahnya. Tuhan Maha Mengerti, ah, Tuhan memang Baik Hati berkenan menciptakan kitab suci

Dalam puisi Ganz yang Mata, saya menangkap semacam-apa-yang-biasa-disebut-kitab-suci. Mata, adalah jendela/pintu/lubang ventilasi—sama saja sebenarnya—jalan masuk cahaya ke tubuh manusia. Jalan masuk ilmu pengetahuan dari Tuhan—dalam kitab suci—ke dalam hidup-kehidupan manusia.

tak letih kau memandangi
puisi yang sama lantaran
tak pernah kauhabiskan
untuk dibaca

Memandangi bisa berarti membaca, bisa berarti belajar mempelajari. Belajar tentang hidup-kehidupan, konon, tak akan pernah selesai. Kata puisi dalam puisi Mata adalah metafora, saya menangkap dengan malu-malu sebagai kitab suci. Saya semestinya sering malu, saya harus besar kemaluan karena saya manusia yang dhaif. Begitu kata ibu saya. Ibu saya itu setiap hari makan nasi dari padi, semakin tua semakin menunduk. Tapi, saya masih membaca kata puisi dalam puisi Mata Ganz sebagai sebuah metafora, kitab suci. Membaca puisi yang sama. Membaca kitab suci pun sama. Membaca kitab terjemahan pertama dari bahasa langit bisa jadi tak pernah selesai. Mungkin karena Maha-nya Tuhan masih kental terkandung di dalamnya. Atau manusia terlalu dhaif untuk terus membaca. Tapi bagaimana pun, manusia diciptakan Tuhan dengan diberi—atau agar terdengar lebih sakral sebut saja dianugerahi—mata. Manusia semestinya terus belajar.

Tapi, belajar tentang langit yang tinggi itu bisa jadi sangat melelahkan. Untuk mencapai puncak Menara Canadian National-railway, manusia lebih memilih menggunakan lift daripada meniti 1776 anak tangganya. Dasar manusia sekarang! Padahal, kata banyak kalangan meniti anak tangga itu lebih sehat. Mempelajari bahasa langit yang konon juga bisa membuat manusia selamat dunia akhirat sehat juga. “Tapi, Prof, Langit itu terlalu tinggi. Terlalu awang-awang.” kata manusia yang malas itu.

Melihat Lukisan dengan Merdu
Beberapa puisi dalam Simtom-simtom Sebelum Penyair Ganz Pecandukata mengajak pembaca menikmati hal-hal dengan cara berbeda. Kreatif dan tidak apa-apa. Sebab, manusia itu berbeda-beda. Setiap manusia mempunyai cara-cara masing-masing untuk urusan selera. Monalisa itu erat dengan Leonardo da Vinci di pikiran awam. Konon, Monalisa itu versi perempuan dari Leonardo da Vinci. Monalisa itu lukisan. Ganz nakal—atau saya pembaca yang terlalu mudah dikadali.

Tak bosan-bosannya kau melukis, menyekap dirimu
Bersama notasi-notasi yang selalu merias dirinya
Sehingga kau tak lagi terjebak dalam kemolekan
Ketika seorang penganyam nada menjumputnya

Ada musik di lukisan Monalisa, pikirku—dengan menggaruk-garuk pelipis. Ternyata Monalisa ini bukan yang Leonardo da Vinci. Ternyata Monalisa ini adalah yang Robert Paulsson atau siapa. Saya kerapkali kesulitan mengingat nama pacar saya, apalagi nama yang saya jarang temui, Robert Paulsson misalnya. Monalisa ini ternyata adalah lagu/musik/irama/dentingan gitar—apa sajalah istilahnya. Merdu juga, pikirku—sambil tersenyum di depan Youtube.

Lagu itu merdu. Lukisan itu indah, pemandangan juga. Perempuan itu bohai,  cantik—saya sedang belajar menjadi sopan. Juga puisi. Puisi itu puisi. Entah itu puisi berkali-kali kunyah, atau bahkan puisi sekali baca buang. Puisi itu indah. Iya, puisi itu indah. Pasti. Seperti puisi-puisi Ganz dalam Simtom-simtom Sebelum Penyair ini, mencapai keindahan yang tinggi. Ganz berhasil dalam hal ini. Tapi, bagaimana pun juga, semua yang tertuliskan ini, muncul di kepala saya setelah membaca Simtom-simtom Sebelum Penyair. Saya jadi ingin membayangkan bagaimana jika sesudah penyair. Keindahan langit. Bisa jadi memang benar, tangan kanan kamus dan ensiklopedi dan tangan kiri buku puisi—tentu setelah rokokku aku sandarkan ke asbak.

*) oleh Janoary M Wibowo, tulisan yang digunakan sebagai pintu diskusi dalam  "Forum Sastra Bulanan - Bedah Antologi Simtom-simtom Sebelum Penyair karya Ganz Pecandukata " 25 Mei 2011.

Menari dan Menggeliat

Asbak merah itu sudah berisi tiga putung rokok ketika dua orang itu duduk di meja 11. Seperti mengatakan bahwa ada orang-orang yang telah merampungkan Sabtu malamnya. Padahal saat itu, mereka sedang mengawali Sabtu malam. Memang sudah terlalu larut untuk memulai. Jam dinding di JR Coffee menunjukkan pukul setengah sebelas. Bukankah Sabtu malam malam yang panjang? Dan untuk menemani malam panjang itu, Adam dan Jehan memesan dua cangkir coklat hangat. Sebungkus rokok Polo Mild dikeluarkan Adam dari saku jaketnya. Dia ambil sebatang. Lalu dia sulut.

“Sebenarnya aku bingung memetakan masalah-masalah ini,” kata Adam, sembari menghisap rokoknya.

“Masalah yang mana?” tanya Jehan, dengan rokok yang terapit di antara kedua bibir dan pemantik di tangan kirinya.

“Tentang semua ini, aku sudah lelah merasa bekerja sendirian. Teman-teman yang pernah berjanji bekerja sama kini telah ingkar. Mereka mau bekerja sama di mulut saja. Ya, ya, ya tapi aksinya nggak ada.” Adam menunduk, menatap ujung rokok yang dia mainkan di tangan kanannya. Tangan kirinya mengusap dahi. Masalah selalu setia menemani perjalanan hidup setiap manusia. Dan, sepertinya malam ini, selain oleh Jehan, Adam ditemani masalah-masalah tentang organisasinya.

Mendengar keluh Adam, Jehan tertawa kecil. Sebagai salah satu senior di organisasi itu, Jehan memahami masalah apa saja yang mungkin terjadi. Paling cuma begitu-begitu saja, pikirnya. Namun, di lain sisi, Jehan mencoba memahami bagaimana posisi Adam saat ini. Jaman yang terus bergerak selalu menghasilkan masalah-masalahnya sendiri. Walau Jehan dan Adam berkembang di ruang yang sama, tapi mereka mengalami masa yang berbeda. Cara memandang masalah pun berbeda.

“Sekarang aku tak punya lagi teman berbincang. Bagaimanapun aku punya tanggung jawab atas masalah-masalah itu, tapi aku tak rela dibebani tanggung jawab itu sendirian. Bukankah organisasi ini milik bersama?” keluh Adam. Rokoknya telah gentas. Ia hempaskan puntungnya ke asbak. Perlahan ia menghirup coklat hangatnya, mungkin untuk menghilangkan aroma rokok yang tertinggal di langit-langit mulut. Mungkin untuk membantunya menelan kembali keluhan-keluhan yang baru saja ia lontarkan.

“Semestinya masalah-masalah itu menjadi ruang untukmu belajar. Carilah solusi.” Jehan mengajak Adam melihat dari sisi yang lebih positif. Masalah itu mendewasakan. “Konon, Nietszche mengatakan apa yang tak membunuhku membuatku lebih kuat,” lanjutnya, berusaha mencari kutipan motivasi.

“Sekarang bayangkan seperti ini. Ketika kami bermusyawarah, semua orang diam. Aku ingin musyawarah tetap berjalan, biasanya mencoba mengawali pembicaraan, membuka bahan obrolan. Namun, setelah aku selesai bicara, tidak ada tanggapan. Musyawarah apa itu?” Ada nada kekesalan muncul dari perkataan Adam, tapi Jehan menangkapnya sebagai sebuah semangat. Semangat yang tidak menemukan tempatnya.

“Saat aku memutuskan diam, menunggu seorang lain memulai musyawarah, semua diam. Sesaat setelahnya, mereka berbincang tentang masalah di luar tema musyawarah. Lalu untuk apa mereka datang ke musyawarah? Keadaan semacam itu yang tak membuatku nyaman.” kata Adam, sebelum mengambil sebatang lagi rokok, lalu menyulutnya.

****
Coklat panas masih nyaman berada di cangkir, tak ada yang tumpah—berkurangnya hanyalah karena coklat itu diminum. Satu-satunya yang tumpah di meja itu adalah keluh kesah dari kepala Adam, tapi tak satupun keluh kesah itu mengurangi kegelisahan dari kepalanya. Puntung rokok di asbak semakin bertambah. Tak ada nada ketenangan yang bertambah yang keluar dari mulut Adam.

Jehan membenarkan letak kacamatanya, lalu tertawa kecil. “Menurutku, merpati itu lambang perdamaian. Sebab, merpati itu menyimbolkan media komunikasi. Perselisihan atau ketidaknyamanan yang terjadi di antara orang-orang itu terjadi karena kurangnya komunikasi.” kata Jehan, sedikit beranalogi.

“Merpati pos pengantar surat itu?” tanya Adam, mencari kejelasan.

“Ya, menurutku seperti itu. Mungkin masalah-masalah yang kauhadapi itu akan menemukan titik terang jika kau mulai menjalin komunikasi dengan teman-temanmu. Ajak mereka berbincang, semeja dalam keadaan yang nyaman. Santai, kaya di pantai.” Jehan mulai mengusulkan sebuah solusi. Jehan sepertinya tak ambil pusing apakah usulannya diterima atau tidak, paling tidak itu yang bisa ia katakan saat itu.

“Bagaimana bisa berbincang, bertemu saja jarang. Sepertinya semua orang sudah tak ingin berkomunikasi. Sepertinya organisasi ini tak punya misi dan visi. Hanya asal bergerak.” Adam kembali memasukkan obrolan ke masalah-masalah itu. Solusi semestinya dicari setelah semua masalah terpetakan. Adam merasa belum semua masalah terkatakan.

“Aku jadi ingat, beberapa hari lalu seorang temanku menulis tentang menari dan menggeliat.” Jehan menanggapi.

“Menari dan menggeliat?” tanya Adam.

“Ya, menari dan menggeliat. Walau temanku tersebut belum rampung menulis, tapi judulnya sudah membuatku berpikir. Aku menemukan sesuatu hanya dari judul tulisannya. Sekarang ini, banyak orang yang terjebak di antara menari dan menggeliat. Menari itu ketika kita merencanakan setiap gerakan dan mempunyai maksud mengapa kita bergerak seperti itu. Sedang menggeliat itu bergerak sekenanya, sebisanya. Tanpa rencana tanpa tujuan. Banyak yang merencanakan gerakan tapi kemudian asal gerak. Rencana tidak dipegang kuat. Bukankah kondisi itu tidak bisa dimasukkan ke dalam menari maupun menggeliat? Ngambang.” Jehan mengambil bungkus rokok, membukanya, lalu menutupnya kembali.

“Mengapa tidak jadi merokok?” tanya Adam.

“Ini kan rokokmu, aku tidak ingin menuntaskan apa yang tidak semestinya aku tuntaskan.” kata Jehan sembari tertawa.

“Ah, ambil saja. Hanya rokok.” Adam menghempaskan rokok terakhirnya di asbak, lalu menghirup coklat hangatnya. Sebatang terakhir dalam bungkus itu ia keluarkan setengah, lalu ia sorongkan bungkus itu ke arah Jehan. Jehan mengambilnya, lalu menyulutnya.

“Untung saja rokok yang kauminta aku menuntaskannya, bukan masalah-masalahmu itu.” kelakar Jehan. Mereka berdua tertawa bersama.

Antara rokok dan masalah jelas ada perbedaan, salah satunya adalah mungkin kita bisa meminta atau membiarkan orang lain menuntaskan rokok terakhir kita. Sedangkan masalah, bagaimanapun kita berbagi kepada orang lain, satu-satunya yang bisa menuntaskan adalah diri kita sendiri. Adam mencoba memahaminya.

“Rokok sudah habis, tapi aku masih bingung memetakan masalah-masalah ini untuk menemukan solusi.” Sabtu malam Adam sepertinya masih akan dipenuhi perenungan tentang masalah-masalah yang dia hadapi.

Asbak merah itu hampir penuh dengan puntung rokok. Dua cangkir coklat hangat sudah hampir tandas, sudah dingin. Adam dan Jehan beranjak dari meja 11. Jehan berjalan ke bar, mengeluarkan selembar uang. Mereka lalu beranjak pulang. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Adam bertanya “Apakah yang terjadi jika aku keluar dari organisasi ini?”

Jehan menghisap rokoknya, lalu membuang puntungnya ke tanah. Menginjaknya. “Tidak ada yang akan terjadi. Mereka akan punya masalah baru. Kau akan kehilangan tantangan dari organisasi ini.” kata Jehan. Adam terus berjalan. Langkahnya tak berubah. Adam ingat apa yang ia baca beberapa hari lalu, tentang seorang pendaki gunung. Pendaki gunung itu berkata, “Jika mendaki gunung tak memberiku tantangan, aku tak akan pernah melakukannya.”

Adam dan Jehan telah merampungkan Sabtu malam. Walau Adam tahu—Jehan pun merasa—ada yang belum tuntas di Sabtu malam kali ini.

Mei 2011

Dari Perempuan Ke UFO

*notulensi Bincang-Bincang Minggu #5 Open Mind Community 1 Mei 2011

Berangkat dari feminisme, sepuluh laki-laki dan dua perempuan berkumpul di Wisma Driyarkara, Dr. Cipto. Open Mind Community menyelenggarakan BINCANG BINCANG MINGGU #5, bertajuk SAATNYA LAKI-LAKI BICARA. Ya, sepertinya laki-laki memang harus mulai bicara. Seperti mitologi tentang laki-laki dan perempuan pertama, Adam dan Hawa. Hawa yang tergoda oleh iblis, Adam yang diam saja menyaksikan Hawa digoda Iblis. The Silent Adam.

Lazimnya cerita, manusia keturunan Adam bergulat dengan iblis tersebab keteledoran Hawa yang membiarkan dirinya tergoda. Konon kala itu, Hawa dan Adam sedang bercengkerama di Taman Eden, di bawah sebuah pohon pengetahuan. Pohon buah Kuldi, pohon buah Apel. Iblis yang merupa ular merambat di pohon, mendekati Hawa, menggodanya agar menelan buah itu. Hawa tergoda, Adam diam saja. Mengapa Adam membiarkan hal itu terjadi? Pertanyaan itu dilemparkan oleh Purwono Nugroho Adhi.

Ridho menjawab laki-laki yang jatuh cinta selalu lemah di hadapan perempuan. Mungkin Hawa merajuk pada Adam, katanya. Sandra Palupi menambahi, mungkin Adam tidak mau bertanggung jawab atas apa yang mungkin terjadi setelah itu. Adam diciptakan untuk berkuasa di Taman Eden. Adam mengetahui apapun di sana. Diskusi sejenak berhenti. Mungkin para peserta memikirkan jawaban dari pertanyaan itu, mungkin para peserta berpikir mengapa pula pertanyaan itu perlu dijawab. Diskusi selalu penuh kemungkinan.

Agung Hima berbicara, mengutarakan kemungkinan lain membicarakan Silent Adam dari sudut perempuan. Ya, perempuan, menurut Agung Hima, hanya bisa dibaca 5 tahun. Antara 18-23 tahun, perempuan beranjak dewasa, aktif, dan sibuk mencari jati diri. Itulah perempuan bisa dibaca, asyik dibaca. Setelah itu, perempuan masuk dalam fase membosankan. Perempuan sebagai istri, sekitar umur 30 tahun, seperti sudah terpetakan. Perempuan mengurusi rumah, minta jatah atau banyak hal membosankan lainnya. Pendapat Agung Hima kerapkali provokatif. Mungkin kaitan yang dimaksud dengan The Silent Adam adalah mengapa memikirkan Adam dan Hawa? Hawa sudah masuk fase membosankan. Feminisme membosankan?

Namun sepertinya perempuan belum membosankan untuk dibicarakan. Ya, merujuk pada penjelasan Purwono Nugroho Adhi, tuhan itu bersifat laki-laki. Mikael misalnya, nama itu berasal dari bahasa ibrani kuno. /mi/ berarti siapa, /ka/ itu seperti, dan /el/ itu yang dari langit—tuhan. Jadi, nama Mikael berarti yang seperti tuhan. Mikael sendiri kerap kali digambarkan sebagai ksatria perang yang bertampang garang. Ya, tuhan itu cenderung bersifat laki-laki. Dan itulah sebenarnya akar dari gerakan feminisme, misandry. Dominasi kekuasaan laki-laki, kekuasaan tuhan. Feminisme terus mengejar persamaan derajat antargender. Sampai sekarang, itu masih hangat, masih jauh dari fase membosankan.
Ganjar Sudibyo, atau lebih dikenal dengan Ganz Pecandukata, mengeluarkan argumennya. Feminisme itu ibarat hero, jagoan. Terlambat datang lalu menang. Setelah feminisme mencuat, misandry—dalam hal ini lebih ke sifat kelaki-lakian—menjadi peran antagonis. Laki-laki selalu menjadi musuh yang kalah di gerakan feminisme.

Diskusi sempat terhenyak ketika mas Ompong berbicara, “Itu semua kan ditarik dari pemikiran londo. Padahal, dalam pemikiran Jawa Kuno, tidak ada permasalahan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan memahami perannya masing-masing dan bekerja sama dengan baik.” Feminisme itu warisan londo; londo Jerman, londo Perancis, pokoke londo.

Warisan londo atau warisan mbahe dhewe, feminisme selalu berdasar pada androgini, semangat untuk meruntuhkan kekuasaan/dominasi laki-laki. Bukan sekedar jenis kelamin, tapi posisi. Sejak jaman mitologi, posisi laki-laki selalu mendominasi, “Tapi sekarang, eranya feminisme. Semua orang membicarakannya.” kata Purwono Nugroho Adi.

Janoary M Wibowo mulai angkat bicara. Kali pertama ia bercerita tentang kecenderungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki berkecenderungan pada competition-based, pola pikirnya berdasar pada persaingan. Siapa yang mendapatkan wanita tercantik, siapa yang mendapatkan posisi puncak. Sedangkan perempuan, lebih cenderung mendasari pola pikirnya pada compassion-based—belas kasih dan cinta. Namun, dalam perkembangannya kini, kecenderungan sikap laki-laki dan perempuan semakin kabur. Laki-laki tak selalu mendominasi. Siapa yang ada di puncak tak selalu menang dalam persaingan. “Mungkin ini era post-gender,” kata Janoary.

Asal Usul Manusia
Diskusi berlanjut. Musyafak Timur Banua kini yang angkat bicara. “Jangan-jangan competition-based itu bukan milik laki-laki, pun compassion-based bukan milik perempuan,” curiganya. Musyafak mengisahkan tentang bagaimana dulu Adam tercipta. Adam, seperti yang pernah dia baca, menjadi semacam korban dalam konspirasi besar. Tuhan dan Iblis semacam melakukan persekongkolan untuk memuluskan rencana, Adam menjadi khalifah di dunia ini. Adam, dalam runtutan logika itu, semestinya menjadi berkuasa. Sebab, untuk menjadi khalifah, sudah barang tentu Adam mempunyai segala ilmu. Semua ilmu. Namun, seperti yang para penyair sering tuangkan dalam larik-lariknya, perjuangan pertama dan terhebat manusia adalah melawan kesepian. Iya, melawan kesepian. Itulah mengapa Adam merelakan tulang rusuknya untuk menjadi teman. Teman berkuasa di dunia ini. Keduanya—laki-laki dan perempuan—bisa dianggap sebagai penguasa atau malahan korban di dunia ini.

Bisa jadi pemetaan historis dari asal-usul manusia dan monotheisme hanyalah rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Mitos-mitos semuanya sama. Dari kitab kuning—yang konon kitab paling kuno—sampai cypher dan tablet dari jaman Sumerian, semua bercerita tentang hal yang sama. Kisah Musa yang dibuang ke sungai, Karna dalam budaya Jawa pun mempunyai kisah yang sama. Achilles yang mempunyai kelemahan di pergelangan kaki, pun mirip dengan Antasena. “Itu adalah ilmu untuk semua manusia,” katanya.

Kurniawan Yunianto langsung mengangkat pembicaraan ke ranah yang lebih tinggi. “Apa yang dikatakan Musyafak menjadi alasan mengapa beberapa tahun lalu aku memutuskan untuk tidak bertuhan,” kata penyair berambut gondrong itu. Begitu banyak versi cerita tentang tuhan, kitab kuno atau apalah, bagi saya semua itu bullshit, lanjutnya. Setiap orang akan menuliskan kitab sucinya sendiri dalam hatinya sendiri. Sebab, diri sendiri lah yang memutuskan kebenaran-kebenaran mana yang akan diyakini, entah itu omongan mbah ini, pak guru itu, om ini, siapapun itu. Kita yang memutuskan siapa yang kita percaya. Pada akhirnya, apa yang kita yakini berpusat pada diri sendiri. Seperti kita tahu malam dengan mempelajari siang, saya merasa beruntung pernah merasakan tidak bertuhan. Dengan menyadari diri sendiri dengan sepenuhnya, saya sekarang bisa yakin mengatakan bahwa tuhan itu ada. Manusia bisa menahan untuk tidak tidur, tapi manusia tak akan mampu menolak datangnya rasa kantuk. Juga rasa lapar dan haus. Lalu siapa yang mendatangkan rasa-rasa itu? Bisa jadi itulah Tuhan.

“Jika kita membicarakan feminisme, selalu besar kemungkinan kita berujung pada spiritualitas,” Musyafak melanjutkan pernyataan Kurniawan. Bagaimana manusia merindukan belas kasihan, kasih sayang, juga perlindungan Tuhan bisa diibaratkan seperti seorang anak yang merindukan belas kasihan, kasih sayang, juga perlindungan ibunya. Seorang perempuan. “Spiritualitas kerapkali disebut sebagai hug of heaven,” sambung Purwono.

Adam dan Hawa di bawah sebuah pohon di Taman Eden, memakan buah apel—dalam mitologi lain ada yang menyebutnya buah kuldi atau buah pengetahuan. Pohon itu adalah pohon pengetahuan. Mungkin itu yang disebut pohon kehidupan. Istilah Tree of Life sendiri muncul pertama kali pada jaman Babylonia Talmud. Tablet pertama yang ditemukan di jaman itu bergambarkan dua manusia yang mengapit sebuah pohon.

Manusia yang mendiami Bumi sekarang ini hampir mendekati jumlah 7 milyar jiwa. Ya, jiwa-jiwa itu semua beda satu sama lain, mempunyai karakteristiknya sendiri-sendiri. Apakah Tuhan merancang semuanya? “Jumlah itu yang masih hidup, berapa jumlah jiwa yang ada sejak jaman Adam pertama kali menginjakkan kaki di Bumi?” tanya Kurniawan, retoris. Mungkin di situlah peran pohon kehidupan, jiwa-jiwa manusia itu ibarat daun. Tumbuh pada cabang-cabangnya. Makin hari pohon itu makin rindang.

“Ada kalangan yang ngoyo-woro, mengada-ada tentang pohon kehidupan,” kata Purwono. Gambar yang nampak di tablet itu memang tidak sempurna mirip pohon. Ada yang menafsirkannya sebagai sinar UFO; unidentified flying object, alien. Itulah mengapa muncul sekte Scientologi, yang menunggu UFO datang kembali. Ada kalangan yang menunggu Yesus turun lagi ke Bumi, ada kalangan yang menunggu Imam Mahdi. Lalu kalangan scientologi menunggu UFO. Aneh.

“Tidak ada yang aneh,” tiba-tiba Janoary bersemangat. “Jika pemetaan historis monotheisme adalah rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Dan mitologi, bagaimanapun juga tak seorangpun mengetahuinya dengan pasti, jangan-jangan memang benar, kita itu hewan yang diajari menjadi rasional oleh UFO.” lanjutnya. Bukankah sudah sering kita mendengar kalimat ‘manusia adalah hewan yang rasional’? Bayanganku seperti ini, pada jaman manusia pra sejarah ada alien yang berperadaban tinggi datang ke bumi. Dia mengajarkan manusia pra-sejarah itu tentang rasio. “Jika penciptaan alam semesta itu selama tujuh hari, mungkin waktu kursus manusia pada alien itu selama tujuh hari pula.” Janoary mulai kemana-mana. “Logis nggak ?” tanyanya.

Semua orang mulai tertawa, diskusi semakin panas dan semakin kemana-mana. Namun, bukankah memang begini semestinya diskusi berjalan. Semua orang saling mengeluarkan isi kepala. Bahkan imajinasinya. Tidak ada yang tidak mungkin. Agung Hima mengeluh, “Wes duwe anak limo kok ternyata soko UFO.” Semua kembali tertawa. Jano mulai kenthir, Agung nambahi.

Kurniawan melemparkan kayu ke api, “Teruske sampe kenthir tenanan.”

Musyafak menuangkan minyak ke api, “Iyo, kenthir po waras ora masalah. Sing penting ojo setengah-setengah.”


Salam Grakgrek Opem Mind Community.

Areté

 *) tulisan yang digunakan sebagai pengaya materi Diskusi Sastra Pojok Pendopo #19 Open Mind Community, 6 Februari 2011.


Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api

Mimpiku terburai di jendela, untung tidak pecah.
Tadi engkau mencintaiku. Punggung orang jadi kekasihku.
Kereta api tidak berhenti seperti mimpi.
Tidak ada mimpi di balik kelopak mata.
Gerbong-gerbong dalam tubuh sesak
Engkau masih perbaiki rel rusak

Siang ini orang-orangan sawah kesepian: ditinggal petani dan padi
Bocah memungut bongkah tanah kering.
Sebentar kereta api menghibur orang-orangan.

Aku lemparkan bongkah tanah ke jendela kereta api.
Terburai tapi tidak memecah.
Kereta itu terlalu panjang.
Pagar ladang tebu di seberang
Di luar gerah. Tidak ada irigasi di tubuhku.
Kereta api membawa pergi ladang tebu
Lalu terdengar bunyi peluit merintih.

Pare-Semarang, 2011

Keluar dari batas-batas definitif tentang apa itu ilmu dan ilmu pengetahuan, segala hal bisa menjadi ilmu sekaligus ilmu pengetahuan. Sebuah cahaya yang mencerahkan. Manusia yang selalu belajar seperti orang yang dalam kegelapan, mencari sumber cahaya. Dan, ia akan menemukan. Entah dari diri sendiri dan atau dari manusia lain.

Pembacaan puisi Guri Ridola ‘Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api’ layaknya sebuah kelas tempat manusia pembelajar menemukan ilmu. Guri sebagai guru, dan puisi sebagai ilmu. Puisi, dari sudut manapun pemaknaannya, pastilah mengandung sebuah ide. Areté, atau titik henti, adalah kondisi manusia menghentikan sejenak keliaran laju ide. Bukan serta merta menghentikan, tetapi di dalamnya juga ada penemuan makna yang lebih dalam dari ide itu. Proses kontemplasi.

Ada ide yang besar yang ingin dikatakan Guri. Seperti dalam salah satu barisnya, kereta tidak berhenti seperti mimpi. Kereta layaknya waktu, tak satupun manusia mampu menghentikan. Lain halnya dengan ide, mimpi-mimpi itu, manusia mempunyai kewenangan atas dirinya untuk sejenak berhenti, istirah dari keliaran ide. Berkontemplasi. Manusia—selain berkecenderungan merelakan diri pada laju ide—juga mempunyai semacam kekuatan untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu menjadi apapun, puisi misalnya.

Guri, dalam puisinya kali ini, terkesan berusaha menghentikan keliaran idenya tersebut, dalam sebuah arête—wujudnya adalah puisi sebagai hasil kontemplasi. Dalam usahanya menyelaraskan realitas yang terjadi di depan mata dan realitas yang ada dalam kepala, Guri berhenti. Ya, semacam berhenti untuk mencari arti, menemukan makna. Tetapi, seperti yang terjadi dalam setiap pencarian, ada kemungkinan terjebak dalam kebingungan.

Mimpiku terburai di jendela, untung tidak pecah, begitu bunyi di baris pertama. Tapi mengapa tidak pecah? Mengapa tidak meledak? Mengapa masih lembam, berayun dari satu sisi ke sisi lain, menciptakan ketaksaan. Sebenarnya, kebingungan sudah terbaca dalam pemilihan diksi dalam judul, Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api. Apakah Bocah yang melemparkan gerbong kereta api? Atau bocah yang melempari gerbong kereta api? Begitulah arête, kondisi yang dibutuhkan semua orang tapi belum semua orang yang mampu menjalaninya.

Tertransportasi
Arête bisa dimaknai juga sebagai proses mengenali kemudian menemukan keunggulan. Namun, banyak hal begitu multitafsir. Pencarian itu bisa saja berujung ketersesatan, tersesat karena terseret keliaran ide dalam kepala atau tersesat karena terseret godaan realitas di depan mata.. Guri terkesan lebih terseret oleh realitas di depan mata, dari masih memperbaiki rel kereta api tiba-tiba ia memandang orang-orangan sawah kesepian. Guri tertransportasi. Kondisi itu tidak hanya dapat ditangkap dari koherensi baris per baris, juga dalam keseluruhan puisi. Puisi itu sendiri menggambarkan kondisi tertransportasi. Perhatian seorang bocah yang terpusat pada kereta yang melaju dan melewatinya, lalu bocah itu melemparinya. Tertransportasi yang disadari, dan dijadikan puisi. Terseret, atau tertransportasi adalah kecenderungan arête yang biasanya dialami oleh yang belum mahir berhenti atau menghentikan.

Namun, masih terkait hal di atas, Guri menciptakan sebuah paradoks. Arête yang tak benar-benar berhenti akan menciptakan ke-tertransportasi-an. Namun, arête yang tak sempurna Guri kali ini mampu menghasilkan puisi. Kereta api pergi membawa ladang tebu, lalu terdengar bunyi peluit merintih. Tertinggal dan terseret. Tetapi masih bisa memuisikan. Lain kali, Guri, jangan tertinggal kereta api lagi, naiki.

(Setelah) Membaca Absurditas


Notulensi Bincang-Bincang Minggu Open Mind Community, 23 January 2010.

Minggu sore, Taman Budaya Raden Saleh ramai. Suara pentas musik masih menguasai suasana. Sedikit bising. Namun, para penggiat Open Mind Community tetap mengadakan diskusi rutin mereka. Bincang-bincang Minggu. Diskusi kali ini dipantik oleh tulisan Musyafak Timur Banua, Membaca Absurditas dan Chaos Dunia.

Musyafak, pada awal diskusi mengaku sedang ‘mabuk’ saat membuat tulisan pemantik tersebut. Tulisan itu keluar tak terbendung. Tapi, tambahnya, bukankah begitulah kecenderungan absurditas? Tak terbendung. Dunia penuh dengan hal-hal absurd. Dunia itu absurd. Cerpenis muda Semarang itu mencontohkan, harapan—atau lebih tepatnya imajinasi—kita pada hukum yang ideal seperti terbentur pada kenyataan yang kita lihat di televisi. Mafia hukum, korupsi hakim, penyuapan. Absurditas ada dimana-mana.

Agung Hima mengutarakan hal lain. Seperti hidup dalam ketiadaan. “Aku itu merasa tidak ada,” katanya. Agung mengaku kerap kali merasa hidup itu hanya seperti itu saja. Dia membayangkan setelah mati, apakah masih ada Agung Hima? Pertanyaan itu masih saja menggema. Karena belum juga menemukan jawaban atasnya, agung melanjutkan hidup sekenanya. “Tidak punya harapan tapi tidak putus asa,” timpal Musyafak. Menanggapi pernyataan Agung Hima, Latree Manohara mengeluarkan celoteh khasnya, “Absurditas yang masih mencintai istrinya.”

Penyair Kurniawan Yunianto unjuk bicara. Selama manusia belum mampu menyelesaikan urusan dengan dirinya sendiri, manusia tak akan pernah mampu selesai dengan dunia. Agung mungkin sudah melewati tahapan ‘selesai dengan diri sendiri’. Mungkin. Mungkin juga yang diungkapkan KY merupakan kajian absurditas. Sebab, adakah manusia yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri? Purwono Nugroho Adhi melanjutkan dengan sebuah pertanyaan. Absurditas yang seperti apa yang sedang dibahas kali ini? Ipunk, panggilan akrab Purwono Nugroho Adhi, berpendapat bahwa absurditas dalam kajian filsafat berbeda dengan absurditas dalam kaitannya sebagai awal mula eksistensialisme. Absurditas—dalam kaitannya dengan eksistensialisme—mempunyai kecenderungan sebagai sebuah fase untuk menuju apa yang disebutnya sebagai eksistensialisme theology. Manusia perlu melewati absurditas untuk mencapai eksistensialisme theology. Absurditas bisa dianggap sebagai sebuah fase menemukan—walaupun absurditas pada dasarnya adalah nonmakna. Sebuah fase dark night of the soul.


Diskusi mengalir menuju ke falsafah jawa. KY mengungkapkan bahwa di dalam kitab suluh kemungkinan besar tidak mengenal istilah absurditas. Selain karena memang tidak ada kata dalam bahasa jawa yang bersinonimi dengan absurditas, juga karena pemikiran jawa sudah melewati fase itu. Banyak yang terkesan tidak masuk akal dalam pemikiran jawa, jika kita menelaahnya menggunakan logika saat ini. “Iya, kita contohkan falsafah urip mung mampir ngombe,” lanjut Ipunk. Orang jawa percaya hal itu, bagaimana bisa hidup hanya dianalogikan pada hal sesederhana mampir ngombe? Tapi, begitulah orang jawa. Orang jawa beranggapan ada yang menanti—yang lebih penting dari sekadar mampir ngombe—setelah hidup ini, begitu yang diungkapkan Ipunk.

Hidup ini memang begitu absurd. Seabsurd kegiatan diskusi di tengah-tengah kebisingan pentas musik underground. Diskusi tetap berjalan, pentas pun tetap berlangsung. Dua hal yang sangat tidak masuk akal jika dipadukan, tapi itulah yang terjadi minggu sore itu di Taman Budaya Raden Saleh. Manusia-manusia mempunyai rencana-rencana yang berbeda—yang mungkin bersinggungan atau bahkan bertabrakan. Tapi manusia-manusia tersebut hidup di dunia yang sama, di waktu yang itu juga. Ketika dua hal berbeda terjadi dalam satu waktu, saat itulah absurditas mengambil tempat.
Musyafak kembali bersuara, kali ini ia mengungkapkan alasannya menulis tentang absurditas adalah mengantarkan pada terminologi absurditas. Apa yang meski dilakukan dalam absurditas? Adakah pilihan bagi manusia? Menurut musyafak, Nietzsche menawarkan amor fati dan ecce homo dalam permasalahan absurditas ini. Tapi, bagaimanakah cara mencapai kondisi itu ? Musyafak menggelengkan kepala.

Suasana hening, semua orang seakan larut dalam gambaran absurditas yang ada di kepala masing-masing. Kemudian Haris Zona bersuara. Menurutnya, absurditas merupakan imbas dari modernitas yang kebablasan, yang berkecenderungan melahirkan eksistensialisme. Ada dua hal yang Haris tawarkan. Pertama adalah sinkronitas. Bagaimana kita bisa memahami kondisi-kondisi absurd sebagai sebuah kebetulan-yang-bukan-kebetulan? Yang kedua adalah awareness, kesadaran. Kesadaran ada dua, kesadaran sadar dan kesadaran tidak sadar. Bagaimana kita bisa memahami kedua kesadaran tersebut secara penuh? Haris mencontohkan, bagaimana kita mengerti dan memahami pesan yang muncul pada mimpi-mimpi kita? Apakah mimpi itu insight (wahyu) atau hanya mimpi bunga tidur?

Dan kerendahhatian yang perlu ditekankan. Rendah hati untuk selalu belajar, rendah hati untuk selalu mencari sampai menemukan. Haris menambahkan, konon suara tuhan itu datang kepada manusia dalam frekuensi yang sangat rendah. Manusia kadang terlalu ‘tersibukkan’ untuk mampu menangkap suara tuhan.

KY menyahuti. Obat panu itu bisa Kalpanax bisa juga adas pulowaras, katanya. “Untuk menyadari yang tidak disadari pun memiliki cara yang berbeda,” lanjutnya. Mungkin selain rendah hati, kesadaran manusia yang perlu ketenangan. KY mengibaratkan kita berusaha melihat dasar sungai yang airnya jenih tapi beriak. Kita membutuhkan kondisi air itu tenang. Baru kita bisa melihat dasarnya lebih jelas. Ketenangan itu saja dibutuhkan pada sungai berair jernih, apalagi pada yang berair keruh. Menyoal mimpi, KY mengutarakan dalam pemikiran jawa ada istilah puspotajem, yaitu mimpi yang wahyu. “Ada tiga jenis mimpi sebenarnya, tapi jika diungkap sekarang diskusi ini akan semakin kemana-mana,” lanjutnya sambil terkekeh.

Ya, semakin absurd. Absurditas semakin dikaji mana ujung pangkalnya akan menjadi semakin absurd. Janoary mengibaratkan absurditas itu sebuah sungai. Dan manusia harus masuk dengan penuh kesadaran ke dalam absurditas itu, tanpa berprasangka apapun. Toh, seperti gelondong kayu yang hanyut di sungai, manusia akan tetap menuju laut. Soal sampai di laut masih utuh atau tidak, tergantung kesadaran manusia itu sendiri ketika hanyut dalam arus sungai. “Kalau kita sadar kita sedang terhanyut dan berusaha mengendalikan keterhanyutan itu sekuat tenaga, paling-paling kayune mung boncel-boncel sithik pas tekan laut,” kelakar Janoary.

Sejauh sungai pastilah laut. Sejauh langkah hanyalah laut. ~Musyafak Timur Banua~

Theoros Lahir Kembali Malam Itu

Notulensi Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12

Semarang, 18 Juli 2010
Beberapa orang berkumpul di salah satu pendopo Taman Budaya Raden Saleh sore itu, menunggu hujan reda. Menunggu petang. Sore yang masih gerimis dan Dian yang akhirnya datang. Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12 pun dimulai sesaat setelah petang, merayakan karya Dian “Untuk Kau”.

Untuk Kau
Jika memilih menunggu,
Segera bunuh diammu
Lama ia merenggut esokmu
Menyembunyikan tujuan pada jejak lalu

Usah terbenam sebelum senja
Waktu takkan mengaampunimu!
Matahari sudah meninggi
Kembalilah pada lakumu
Mengeja mimpi yang terlupa

Lepas pelukan sesal
Ia tak berbelas kasihan
Cepat kau raba tubuhmu
Hingga kau dapati luka
Sampai kau temui mula

Purwono Nugroho Adi yang biasa dipanggil Mas Ipunk mengawali diskusi. Dia menyatakan puisi penyair Dian membawa ingatannya kembali ke sebuah bentuk sastra kebijaksanaan tua Yudaisme, gulungan sastra “Kitab Megillot”. Kekhasan sastra Megillot adalah bagaimanapun baris perbaris diubah posisi, makna yang dibaca akan tetap. Mas Ipunk mencontohkan hal itu pada bait 1.
Menyembunyikan tujuan pada jejak lalu
lama ia merenggut esokmu
segera bunuh diammu
jika memilih menunggu

Sembari sesekali membenarkan letak kacamata, Mas Ipunk melanjutkan pembacaannya. Inner time sangat kentara di dalam puisi, banyak penanda yang merujuk ke sana; menunggu, esokmu, jejak lalu, dan mula. Ada realitas yang terselubung di dalamnya. Realitas yang dihayati adalah realitas palsu dan memunculkan dua fenomena, disorted dan dislocated. Disorted, dalam penggambaran Mas Ipunk, layaknya sebuah permainan Russian Roulette, manusia tidak pernah tahu pasti apa yang akan datang dan kapan itu datang. Manusia seakan-akan dipermainkan oleh realitas. Realitas adalah garis abu-abu antara ilusi dan iluminasi, ketakniscayaan dan keniscayaan. Sedangkan dalam fenomena dislocated, manusia selalu mengalami ketercerabutan identitas dalam realitas. Manusia mencari-cari diri sambil terus berusaha membuka tabir terselubung dari realitas itu. Mungkin karena itulah, kata agony yang berarti penderitaan lahir dari kata agon yang berarti perjuangan.

Galih, lelaki berambut keriting mirip vokalis salah satu band kenamaan, menyanggah konsep tentang agon menjadi agony. Menurut pembacaannya, puisi di atas menggambarkan sebuah agony yang akhirnya disadari (atau terpaksa diterima) sebagai sebuah agon. Penderitaan yang dianggap sebagai perjuangan. Dia juga menangkap tidak adanya clue dalam tiap baris puisi yang menjelaskan apa yang sebenarnya sedang diceritakan.

Mas Ipunk menambahkan aku-penulis dalam puisi ini bertindak sebagai theoros, yang pada jaman Yunani merupakan sebutan untuk seorang pengamat yang (hanya) hadir dalam sebuah festival. Diam dan mengamati. Jika menggabungkan pendapat Gadamer dan Heiddeger, theoros bisa berarti sebagai kehadiran yang terlibat dalam realitas, berusaha menemukan Aletheia—kebenaran yang selalu dicari-cari. Judul “Untuk Kau” menyiratkan kau yang bukan satu melainkan kau yang banyak. Kau yang pembaca. Kau yang seluruh manusia. Seorang theoros lahir kembali malam itu.

Dian duduk bersandar di salah satu tiang pendopo. Di wajahnya tergambar semacam keseriusan merayakan puisi. Dengan pena dan kertas di tangannya, dia mencatat hal-hal yang ia dengar. Terkesan dia tidak ingin melewatkan tiap ilmu yang mengambang di lokasi diskusi malam itu. Termasuk pembacaan Agung Hima. Pria yang dalam kesehariannya sering terlihat memakai celana pendek itu mengawali pembacaan dengan memendekkan puisi Dian.
Jika memilih menunggu,
Sampailah menemu mula

Puisi tersebut akan lebih padat dan kuat. Toh, pesan yang ingin dikomunikasikan tidak berubah. Begitu pendapat Mas Agung yang kerap menyatakan semua puisi membawa spiritual assessment untuk pembaca. Dan, ketika ia mencoba menangkap spiritual assessment dari karya Dian yang didiskusikan, dia menemukan dirinya selalu berada dalam permulaan setiap kali melakukan hal yang belum ia selesaikan. Selalu ada awal dan akhir dalam hidup yang penuh kesiasiaan ini. Jika kita belum menyelesaikan sesuatu, berarti kita masih ada di titik mula.

Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12 yang merupakan agenda rutin Open Mind Community malam itu sesekali diliputi kelengangan. Bukan karena dingin malam sehabis hujan sore, melainkan puisi Dian yang mengajak semua merenung, merayakan. Seperti pembacaan sekaligus perayaan yang dilakukan penyair muda Semarang, Galih Pandu Adi. Pandu menyatakan puisi Dian merupakan puisi perenungan, sarat muatan filosofis. Puisi yang membicarakan aku-kau-manusia dan waktu. Puisi yang menurut Pandu ditulis dengan penuh kesadaran untuk menyadarkan manusia, aku dan kau tentang waktu yang takkan mengampuni. Pandu melanjutkan. Puisi ini tidak terlalu imaginatif tetapi tetap kuat dengan kata-kata sederhana yang menyusunnya, walau masih terkesan menggurui.

Musyafak Timur Banua, mahasiswa yang juga penyair muda Semarang sekaligus berlaku sampingan sebagi filsuf atau entah sebaliknya, ikut bergembira dalam perayaan puisi Dian. Syafak mengawali pembacaannya dengan mengafirmasi pendapat Galih, bahwa dalam tubuh puisi Dian ada kekaburan clue apa yang ingin diceritakan. Peletakan baris perbaris terkesan serampangan, seperti puisi ini dibuat dengan waktu yang cepat. Beberapa baris terkesan tidak logis, tidak sesuai urutan pada puisi yang mengalir maju. Pada bait 2 baris pertama, penulis membicarakan senja. Sedangkan pada bait yang sama baris ke tiga, penulis malah kembali pada siang hari dengan matahari mulai meninggi.

Dingin malam telah mendinginkan seteko teh hangat yang sudah setengah kosong. Namun, diskusi tetap menemukan perayaan yang hangat diantara penyair, puisi, dan pembaca. Sesekali kelakar khas Open Mind Community terlontar di tengah diskusi, membuat pendopo itu horeg oleh tawa tiap orang. Selingan, setelahnya diskusi berlanjut. Giliran Kurniawan Yunianto mengungkapkan pendapatnya. Dia mengambil satu baris dari tiap bait lalu membacakannya,
Jika memilih menunggu,
Waktu takkan mengampunimu !
Sampai kau temui mula
Dia berpendapat itulah inti dari puisi Dian. Berulang kali penyair berambut panjang itu membaca, baris-baris itulah yang berasa kuat.

Perayaan akan kurang hangat tanpa suara dari penyair itu sendiri. Dian menyibakkan rambut ke belakang telinga, lalu mulai menceritakan proses kreatif puisi “Untuk Kau”. Penyair ingin menyampaikan pesan—dalam bentuk puisi—kepada seorang teman tentang ketakgunaan menyesali masa lalu. Masa lalu bukan alasan untuk berhenti. Diam menunggu tidak apa jika itu menguatkan dalam menghadapi masa depan. Diam menunggu tidak apa jika itu tidak berlama-lama. Sebuah pesan berisi nasihat untuk melangkah.

Gema Yudha mengangguk. Pembacaan yang dirasakannya pada puisi Dian mungkin serupa. Dia mengungkapkan bahwa setelah membaca puisi Dian dia merasa dinasihati agar segera menyelesaikan apa-apa yang tertunda. Dia merasa seperti ada yang membisikkan “Jangan menyia-nyiakan waktu” kepadanya.

Saya mengangguki anggukan Gema. Saya bergema atas pembacaannya. Yang dikatakan Gema tidak jauh berbeda dari apa yang saya tangkap. Saya merasakan sebuah nasihat keras tentang (waktu) hidup yang keras. Bagaimanapun manusia berusaha mengejar waktu, manusia akan selalu tertinggal. Waktu yang tersedia sebaiknya digunakan sebaik-baiknya. Lalu, saya mengangguki puisi Dian dengan kalimat “Selesaikan segera masa lalu, masa depan tak pernah menunggu.”

Kelengangan kembali terjadi. Puisi “Untuk Kau” seakan merebut ruang renung di kepala setiap orang. Waktu takkan mengampunimu. Setiap detik manusia hanya mempunyai datum—sebuah titik yang tak bisa diulangi atau point of no return—untuk dimanfaatkan.


*berdasarkan pencatatan notulen yang mungkin belum sempurna tentang jalannya diskusi.

Mati Saat Masih Bernapas

Setiap detik hidup manusia semestinya digunakan untuk menuliskan sejarahnya sendiri.

Menulislah maka kau tidak akan pernah mati. Ah, mengapa menulis dihubungkan dengan kematian ? Apakah setiap hal yang dilakukan manusia itu sekadar untuk bekal mati ? Mengapa orang begitu takut mati. Padahal mati itu maknanya beragam, setiap orang bebas menafsirkan bagaimana. Menurutku, jika manusia terlalu takut pada kematian saat dia hidup, itulah kematian dia yang sebenarnya. Aku tidak ingin mati saat aku masih bernapas.

Memang kalimat pertama tadi dapat dimaknai lain. Menulislah agar kamu tetap hidup. Lebih tenteram menurut saya saat kita memilih kata hidup daripada kata mati. Memilih bagaimana hidup daripada memilih bagaimana mati. Menulis adalah menjadi hidup. Bisa jadi, hidup manusia adalah untuk menulis. Ya, menulis apa saja. Toh, makna menulis itu beragam. Jikapun menulis selalu lekat dengan bahasa, bahasapun beragam. Bukan melulu kata-kata. Setiap detik hidup manusia semestinya digunakan untuk menuliskan sejarahnya sendiri.

Bagaimanapun saya sudah menjalani hidup ini, bagaimanapun saya menuliskan sejarah saya sendiri, saya belum berani menganggap diri penulis. Alih-alih mengaku sebagai penulis yang kacrut, aku memilih tahu diri dan memilih sebutan pembaca yang kacrut. Aku masih belajar membaca. Membaca apapun, kata ataupun suasana. Awal dari menulis adalah membaca. Jika menulis adalah hakikat manusia sebenarnya, lain halnya dengan membaca. Membaca itu perjuangan hidup sebenarnya. Membaca itu butuh tenaga. Membaca itu bisa dikatakan pengorbanan yang harus dilakukan manusia untuk bisa hidup. Dan setiap pengorbanan akan menemui kelegaan.

Namun, pengorbanan tidak harus perih. Jean-Paul Sartre menulis sebuah memoir yang dianggap sebagai mahakaryanya, Les Mots. Dalam memoir yang sudah dibukukan itu, Sartre menuliskan dua bab. Pertama membaca, lalu menulis. Masa muda adalah masa membaca. Itu yang saya tangkap darinya. Sartre kecil begitu bahagia bersama kakeknya, dia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan membaca. Dia senang membiarkan imajinasinya bermain, memikirkan banyak hal. « Pengorbanan » Sartre untuk menjadi penulis tidak terkesan perih, bagi saya.

Membaca sebelum menulis adalah hal yang menyenangkan. Namun, yang lebih menyenangkan adalah ketika saya sedang membaca—berada di tengah kata-kata atau di tengah suasana, saya menemu diri ingin menulis. Ada semacam gerakan ke arah luar. Ada semacam tenaga yang memaksa untuk diekspresikan. Memang itu tidak jarang terjadi, saya memang pembaca yang kacrut. Jumlah buku yang saya baca belum banyak, jumlah suasana yang saya tangkap dan renungkan juga masih belum cukup. Bagaimanapun juga, gejolak itu memaksa diledakkan. Yang anda baca inilah hasil ledakan gejolak itu. Ya, saya memilih meledakkan gejolak itu melalui kata-kata. Bagi saya, itu yang paling menyenangkan, sesekali memang menantang.

Roland Barthes terkenal dengan Dead of The Author-nya. Ketika tulisan terlahir, maka pengarang telah tiada. Dia digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan tulisannya. Pandangan saya yang masih kacrut ini tidak seperti itu. Menurut saya, pengarang lahir kembali setelah menulis. Pengarang reinkarnasi menjadi pembaca kembali. Pengarang harus membaca lagi, apalagi tulisannya sendiri.

***

Sulit memang kembali memasukkan serpihan ledakan kata-kata saya sendiri untuk dibaca lagi, paling tidak itu yang saya rasakan. Untuk apa saya mengkerut lagi setelah merasakan sensasi ledakan ? Untuk merasakan ledakan lain yang lebih hebat, lebih menyenangkan. Oleh karena itu, saya menikmati gaya yang menekan saya untuk mengkerut, kembali ke dalam, untuk membaca. Gaya itu adalah pendapat pembaca-pembaca lain. Gaya itu berupa diskusi. Juga apresiasi.

Saya sangat menikmati keadaan ketika tulisan saya dibahas, didiskusikan. Diapresiasi. Bukan untuk merasakan belaian afirmasi, melainkan sayatan negasi. Menurut saya, belaian afirmasi selalu membawa kantuk, seringkali membuat saya tertidur. Dan, sayatan negasi membangunkan saya pada sebuah pagi yang menyegarkan dan menantang. Setiap orang butuh tidur, tapi setiap orang juga harus segera bangun untuk menjalani hidup. Dan, memang begitulah hidup.

Dalam menjalani hidup, saya mencoba membaca kritik. Ledakan yang saya rasa menyenangkan kadang hanya berupa percikan ketika dirasakan pembaca lain. Mengetahui ledakan adalah percikan membuat saya bersemangat untuk membuat ledakan yang lebih hebat. Mungkin nanti jika saya beruntung, saya bisa menemukan setiap orang merasakan ledakan kata-kata saya sebagai ledakan, bukan percikan. Tapi, itu bukan alasan utama saya mengekspesikan ledakan. Saya hanya tidak ingin melewatkan setiap ledakan yang akan menuliskan sejarah saya.

Hakikat manusia adalah menuliskan sejarahnya sendiri. Dan, bagi saya, setiap tulisan itu ledakan. Pengakuan orang lain bahwa tulisan itu adalah ledakan merupakan ledakan yang mengiringi. Bagaimanapun, menikmati ledakan adalah niscaya. Dan, saya tidak ingin berhenti menuliskan sejarah hidup saya. Saya juga tidak ingin mati saat masih bernapas.


* catatan pembaca kacrut yang mencoba menulis.

Dari Topeng ke Topeng

Perjalanan seorang diri mencari jati diri.

Oleh Janoary M. Wibowo

Tahukah anda persamaan Si Buruk Rupa Phantom of the Opera dan Nabi Yusuf yang terkenal karena ketampanannya itu? Mereka sama-sama manusia yang memakai topeng. Phantom of the Opera memakai topeng untuk menutupi wajahnya yang penuh dengan luka bakar. Meskipun ia memiliki talenta dalam kreasi musik opera yang luar biasa, ia harus menyembunyikan wajahnya di balik topeng. Topeng tidak hanya untuk menutupi keburukan, tetapi juga kebaikan. Konon, Nabi Yusuf-lah yang mewariskan tradisi menutup wajah dengan cat atau riasan kosmetik kepada orang Mesir. Ia melakukannya demi menyembunyikan ketampanannya yang konon pula mampu membuat para perempuan mengiris jari mereka sendiri.

Memakai topeng sudah menjadi tradisi sejak zaman purba. Para manusia purba menutupi wajah mereka dengan cat, tanah, atau topeng dari kayu. Ada pula yang memakai aksesoris bagian tubuh binatang. Ksatria tertinggi bangsa Maya memakai kulit jaguar sebagai jubah dan kepala jaguar sebagai mahkota. Lantas, untuk apa tradisi memakai topeng itu dilakukan? Pada dasarnya, semua mempunyai alasan yang sama, sebuah perubahan identitas; menjadi lebih berani di pertempuran, menguatkan peran di sebuah drama, atau menutupi sesuatu yang dianggap kurang layak pada diri sendiri.

Dunia memang panggung sandiwara, tempat kita tidak menampakkan wajah yang sebenarnya. Ada banyak topeng yang kita kenakan saat berinteraksi dalam keseharian. Topeng-topeng yang berfungsi menjaga relasi kita dengan orang lain. Tanpa topeng yang sesuai dengan tuntutan kebanyakan orang, kita akan dikucilkan dalam kerumunan. Namun, dengan topeng yang terus menerus kita pakai, kita semakin jauh dari diri sendiri. Kita semakin tidak mengenali siapa yang ada di balik topeng.

Dalam Spiderman 2, Peter Parker menemukan kehidupannya berantakan. Dia sering ditegur dosennya karena terlambat kuliah. Kerap kali mendapat omelan dari bos di tempat ia bekerja karena mengantarkan pizza lebih dari 20 menit. Namun, ia tidak mungkin menyatakan kepada dosen dan bosnya bahwa dia adalah Spiderman, yang terlalu sibuk menjadi pahlawan dan menyelamatkan kota untuk sekadar menjadi mahasiswa biasa ataupun tukang antar pizza. Peter Parker adalah topeng bagi Spiderman. Pun, Spiderman juga harus menutupi manusia di balik kostum merah biru itu, Peter Parker. Sebab, jika musuh-musuh Spiderman mengetahui manusia di balik kostum laba-laba itu adalah Peter Parker, orang-orang terdekat Peter akan mendapat bahaya—keadaan Marie-Jane dan Bibi May yang menemukan diri mereka dalam bahaya hanya bumbu melankolia khas Hollywood. Dalam hal ini, Spiderman menjadi topeng bagi Peter Parker. Lantas, siapa yang bukan topeng di film Spiderman 2? Siapa sebenarnya yang diperankan Tobbie McGuirre di Spiderman 2, Peter Parker atau Spiderman? Siapa pula Tobbie McGuirre itu?


Persona dan ketakutan
Personality dalam Bahasa Indonesia mempunyai padanan makna pada kata kepribadian. Kata tersebut berasal dari kata persona yang berarti topeng. Artinya, kepribadian manusia yang nampak sebenarnya hanyalah topeng belaka. Atau bisa kita katakan, kepribadian itu tidak pernah ada. Yang ada hanyalah persona-persona yang ditampilkan sesuai kebutuhan; seperti apa kita membawa diri di tengah masyarakat, bagaimana kita berkompromi dengan ekspektasi lingkungan sosial. Persona bisa berupa jabatan, pakaian yang dikenakan, perilaku atau kebiasaan yang dikerjakan, atau perkataan yang diucapkan.

Dalam kaitannya dengan kepribadian, setiap orang adalah seorang yang ketakutan di tengah kawanannya sendiri. Ketakutan akan terungkapnya sebuah sifat yang tidak sesuai tempat dan menjadi pribadi yang tidak diterima di masyarakat. Setiap orang mempunyai ketakutan salah bersikap di kerumunan; menyempatkan diri memilih baju mana yang paling cocok dengan pesta yang akan dihadiri, memilih diam dalam sebuah forum karena takut terlihat bodoh jika salah mengungkapkan pendapat. Ekspresi manusia dibatasi oleh topeng-topeng yang diciptakannya sendiri.

Fenomena ini akan menjadi semakin membingungkan saat kita memasuki ruang maya, facebook khususnya. Dalam ruang maya dan dalam facebook, setiap orang merasa bebas berekspresi tanpa adanya ketakutan untuk salah bersikap atau salah mengucap. Padahal, kita sama-sama tahu dan menyebut facebook sebagai jejaring sosial. Setiap orang terhubung dengan orang lain. Sebuah ruang sosial baru terbentuk, yang sangat berbeda dari ruang sosial yang pernah ada. Ruang sosial ini seakan tanpa batas, longgar tuntutan, vulgar, tidak terbendung, dan dianggap bebas—tidak ada siapapun selain kita dan layar komputer di depan kita.

Namun, kebebasan berekspresi yang ada akibat perasaan tidak ada batas dan tidak ada tuntutan yang mengikat, yang disediakan ruang maya seperti facebook tidak serta merta membawa kita ke keadaan diri kita yang sebenarnya. Kita hanya menciptakan topeng baru di ruang maya. Bayangkan jika kesekian ratus atau bahkan ribuan teman yang ada di facebook berkumpul di sebuah gedung dan anda berdiri di sebuah podium dengan mikrofon di depan anda, lalu anda harus mengatakan hal-hal seperti yang anda katakan di facebook; “Apa salahku hingga tega-teganya kau menyakitiku seperti ini? Aku masih mencintaimu”, “Bangun kesiangan, terpaksa deh kuliah tanpa mandi. Xixixixi.”

Setelah dibingungkan menemukan diri sendiri di ruang nyata, muncul ruang maya yang membawa fenomena penciptaan topeng masal. Kita semakin tercerabut dari diri kita sebenarnya. Pernyataan-pernyataan di atas hanya semakin menegaskan bahwa kita ini tidak mengenal diri kita. Siapa sebenarnya Agung Hima? Siapa pula Mata Kita? Lantas, saat belum cukup mengenal Muqsith Ary W, sudah muncul lagi Janoary M. Wibowo? Kita hampir tak pernah selesai dengan diri kita, apalagi dunia. Ah, homo viator.