Asbak merah itu sudah berisi tiga putung rokok ketika dua orang itu duduk di meja 11. Seperti mengatakan bahwa ada orang-orang yang telah merampungkan Sabtu malamnya. Padahal saat itu, mereka sedang mengawali Sabtu malam. Memang sudah terlalu larut untuk memulai. Jam dinding di JR Coffee menunjukkan pukul setengah sebelas. Bukankah Sabtu malam malam yang panjang? Dan untuk menemani malam panjang itu, Adam dan Jehan memesan dua cangkir coklat hangat. Sebungkus rokok Polo Mild dikeluarkan Adam dari saku jaketnya. Dia ambil sebatang. Lalu dia sulut.
“Sebenarnya aku bingung memetakan masalah-masalah ini,” kata Adam, sembari menghisap rokoknya.
“Masalah yang mana?” tanya Jehan, dengan rokok yang terapit di antara kedua bibir dan pemantik di tangan kirinya.
“Tentang semua ini, aku sudah lelah merasa bekerja sendirian. Teman-teman yang pernah berjanji bekerja sama kini telah ingkar. Mereka mau bekerja sama di mulut saja. Ya, ya, ya tapi aksinya nggak ada.” Adam menunduk, menatap ujung rokok yang dia mainkan di tangan kanannya. Tangan kirinya mengusap dahi. Masalah selalu setia menemani perjalanan hidup setiap manusia. Dan, sepertinya malam ini, selain oleh Jehan, Adam ditemani masalah-masalah tentang organisasinya.
Mendengar keluh Adam, Jehan tertawa kecil. Sebagai salah satu senior di organisasi itu, Jehan memahami masalah apa saja yang mungkin terjadi. Paling cuma begitu-begitu saja, pikirnya. Namun, di lain sisi, Jehan mencoba memahami bagaimana posisi Adam saat ini. Jaman yang terus bergerak selalu menghasilkan masalah-masalahnya sendiri. Walau Jehan dan Adam berkembang di ruang yang sama, tapi mereka mengalami masa yang berbeda. Cara memandang masalah pun berbeda.
“Sekarang aku tak punya lagi teman berbincang. Bagaimanapun aku punya tanggung jawab atas masalah-masalah itu, tapi aku tak rela dibebani tanggung jawab itu sendirian. Bukankah organisasi ini milik bersama?” keluh Adam. Rokoknya telah gentas. Ia hempaskan puntungnya ke asbak. Perlahan ia menghirup coklat hangatnya, mungkin untuk menghilangkan aroma rokok yang tertinggal di langit-langit mulut. Mungkin untuk membantunya menelan kembali keluhan-keluhan yang baru saja ia lontarkan.
“Semestinya masalah-masalah itu menjadi ruang untukmu belajar. Carilah solusi.” Jehan mengajak Adam melihat dari sisi yang lebih positif. Masalah itu mendewasakan. “Konon, Nietszche mengatakan apa yang tak membunuhku membuatku lebih kuat,” lanjutnya, berusaha mencari kutipan motivasi.
“Sekarang bayangkan seperti ini. Ketika kami bermusyawarah, semua orang diam. Aku ingin musyawarah tetap berjalan, biasanya mencoba mengawali pembicaraan, membuka bahan obrolan. Namun, setelah aku selesai bicara, tidak ada tanggapan. Musyawarah apa itu?” Ada nada kekesalan muncul dari perkataan Adam, tapi Jehan menangkapnya sebagai sebuah semangat. Semangat yang tidak menemukan tempatnya.
“Saat aku memutuskan diam, menunggu seorang lain memulai musyawarah, semua diam. Sesaat setelahnya, mereka berbincang tentang masalah di luar tema musyawarah. Lalu untuk apa mereka datang ke musyawarah? Keadaan semacam itu yang tak membuatku nyaman.” kata Adam, sebelum mengambil sebatang lagi rokok, lalu menyulutnya.
****
Coklat panas masih nyaman berada di cangkir, tak ada yang tumpah—berkurangnya hanyalah karena coklat itu diminum. Satu-satunya yang tumpah di meja itu adalah keluh kesah dari kepala Adam, tapi tak satupun keluh kesah itu mengurangi kegelisahan dari kepalanya. Puntung rokok di asbak semakin bertambah. Tak ada nada ketenangan yang bertambah yang keluar dari mulut Adam.
Jehan membenarkan letak kacamatanya, lalu tertawa kecil. “Menurutku, merpati itu lambang perdamaian. Sebab, merpati itu menyimbolkan media komunikasi. Perselisihan atau ketidaknyamanan yang terjadi di antara orang-orang itu terjadi karena kurangnya komunikasi.” kata Jehan, sedikit beranalogi.
“Merpati pos pengantar surat itu?” tanya Adam, mencari kejelasan.
“Ya, menurutku seperti itu. Mungkin masalah-masalah yang kauhadapi itu akan menemukan titik terang jika kau mulai menjalin komunikasi dengan teman-temanmu. Ajak mereka berbincang, semeja dalam keadaan yang nyaman. Santai, kaya di pantai.” Jehan mulai mengusulkan sebuah solusi. Jehan sepertinya tak ambil pusing apakah usulannya diterima atau tidak, paling tidak itu yang bisa ia katakan saat itu.
“Bagaimana bisa berbincang, bertemu saja jarang. Sepertinya semua orang sudah tak ingin berkomunikasi. Sepertinya organisasi ini tak punya misi dan visi. Hanya asal bergerak.” Adam kembali memasukkan obrolan ke masalah-masalah itu. Solusi semestinya dicari setelah semua masalah terpetakan. Adam merasa belum semua masalah terkatakan.
“Aku jadi ingat, beberapa hari lalu seorang temanku menulis tentang menari dan menggeliat.” Jehan menanggapi.
“Menari dan menggeliat?” tanya Adam.
“Ya, menari dan menggeliat. Walau temanku tersebut belum rampung menulis, tapi judulnya sudah membuatku berpikir. Aku menemukan sesuatu hanya dari judul tulisannya. Sekarang ini, banyak orang yang terjebak di antara menari dan menggeliat. Menari itu ketika kita merencanakan setiap gerakan dan mempunyai maksud mengapa kita bergerak seperti itu. Sedang menggeliat itu bergerak sekenanya, sebisanya. Tanpa rencana tanpa tujuan. Banyak yang merencanakan gerakan tapi kemudian asal gerak. Rencana tidak dipegang kuat. Bukankah kondisi itu tidak bisa dimasukkan ke dalam menari maupun menggeliat? Ngambang.” Jehan mengambil bungkus rokok, membukanya, lalu menutupnya kembali.
“Mengapa tidak jadi merokok?” tanya Adam.
“Ini kan rokokmu, aku tidak ingin menuntaskan apa yang tidak semestinya aku tuntaskan.” kata Jehan sembari tertawa.
“Ah, ambil saja. Hanya rokok.” Adam menghempaskan rokok terakhirnya di asbak, lalu menghirup coklat hangatnya. Sebatang terakhir dalam bungkus itu ia keluarkan setengah, lalu ia sorongkan bungkus itu ke arah Jehan. Jehan mengambilnya, lalu menyulutnya.
“Untung saja rokok yang kauminta aku menuntaskannya, bukan masalah-masalahmu itu.” kelakar Jehan. Mereka berdua tertawa bersama.
Antara rokok dan masalah jelas ada perbedaan, salah satunya adalah mungkin kita bisa meminta atau membiarkan orang lain menuntaskan rokok terakhir kita. Sedangkan masalah, bagaimanapun kita berbagi kepada orang lain, satu-satunya yang bisa menuntaskan adalah diri kita sendiri. Adam mencoba memahaminya.
“Rokok sudah habis, tapi aku masih bingung memetakan masalah-masalah ini untuk menemukan solusi.” Sabtu malam Adam sepertinya masih akan dipenuhi perenungan tentang masalah-masalah yang dia hadapi.
Asbak merah itu hampir penuh dengan puntung rokok. Dua cangkir coklat hangat sudah hampir tandas, sudah dingin. Adam dan Jehan beranjak dari meja 11. Jehan berjalan ke bar, mengeluarkan selembar uang. Mereka lalu beranjak pulang. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Adam bertanya “Apakah yang terjadi jika aku keluar dari organisasi ini?”
Jehan menghisap rokoknya, lalu membuang puntungnya ke tanah. Menginjaknya. “Tidak ada yang akan terjadi. Mereka akan punya masalah baru. Kau akan kehilangan tantangan dari organisasi ini.” kata Jehan. Adam terus berjalan. Langkahnya tak berubah. Adam ingat apa yang ia baca beberapa hari lalu, tentang seorang pendaki gunung. Pendaki gunung itu berkata, “Jika mendaki gunung tak memberiku tantangan, aku tak akan pernah melakukannya.”
Adam dan Jehan telah merampungkan Sabtu malam. Walau Adam tahu—Jehan pun merasa—ada yang belum tuntas di Sabtu malam kali ini.
Mei 2011



Posting Komentar