Jangan Cuci Muka Dulu

Ajari aku mendedah kata menjadi bahagia,
atau menenun rasa menjadi senyum,
agar aku tak tersesat

Sebab, tiap kali jemari berpaut
Ada yang semacam luput dari bayang
Ada yang sekilas datang lalu selekas pula hilang

Ajari aku menulis sajak cinta yang sederhana,
atau menulis risalah rindu yang bertemu,
agar aku tetap dirimu

Sebab, tiap kali matari bersinar
pendarnya semacam tak rela berpeluk tanah
pendarnya sekali menunduk lalu selamanya menengadah

Ajari aku menjadi debu,
tetap menempel di ujung alismu
sampai nanti kita pulang,
bersama-sama


Mei 2011

No Response to "Jangan Cuci Muka Dulu"

Posting Komentar