berdiam di kotak alat tulis menunggu perintah
[Mimpi di Jemuran - Ganjar Sudibyo]
Puisi-puisi Ganz dalam Simtom-Simtom Sebelum Penyair seakan-akan mengajak pembaca menikmati langit. Tapi, bukan memuisikan langit. Langit, dalam makna apapun, acapkali menjadi sumber inspirasi puisi. Langit adalah tempat yang luas dan tinggi. Mengapa luas ? Karena langit—terlihat—mampu melingkupi bumi, tempat manusia berpijak. Mengapa tinggi ? Karena ada gravitasi. Keindahan langit (sepertinya) tak bisa disangkal lagi. Entah sejak kapan, manusia mengagumi langit. Awan yang bergerak, bintang di malam hari, bulan, purnama, matahari menginspirasi, apalagi menginspirasi. Banyak lagi menginspirasi, bahkan di luar yang bisa disebutkan.
El, itu juga langit. Eli, itu yang berasal dari langit. Manusia diciptakan Tuhan. Tuhan itu yang berasal dari langit. Tuhan Maha Esa, Tuhan Maha Suci, Tuhan Maha Kuasa. Sederhananya, Tuhan Maha Segalanya. Mungkin. Tuhan bisa jadi Eli, yang berasal dari langit. Saya berasal dari Blora, saya menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Tuhan berasal dari langit, Tuhan menggunakan bahasa langit. Tuhan memang Maha Segalanya, tentu saja Tuhan Maha Mengasihi dan Menyayangi. Tuhan juga Maha Sombong, tapi Tuhan juga Maha Mengerti. Tuhan yang Maha Baik Hati menciptakan kitab suci untuk manusia—ciptaannya yang ia sayangi. Kitab suci sebagai pedoman hidup di dunia dibuat tuhan—konon melalui perantara manusia—dalam bahasa manusia. Bahasa bumi, lebih mudahnya. Tuhan Maha Mengerti, ah, Tuhan memang Baik Hati berkenan menciptakan kitab suci
Dalam puisi Ganz yang Mata, saya menangkap semacam-apa-yang-biasa-disebut-kitab-suci. Mata, adalah jendela/pintu/lubang ventilasi—sama saja sebenarnya—jalan masuk cahaya ke tubuh manusia. Jalan masuk ilmu pengetahuan dari Tuhan—dalam kitab suci—ke dalam hidup-kehidupan manusia.
tak letih kau memandangi
puisi yang sama lantaran
tak pernah kauhabiskan
untuk dibaca
Memandangi bisa berarti membaca, bisa berarti belajar mempelajari. Belajar tentang hidup-kehidupan, konon, tak akan pernah selesai. Kata puisi dalam puisi Mata adalah metafora, saya menangkap dengan malu-malu sebagai kitab suci. Saya semestinya sering malu, saya harus besar kemaluan karena saya manusia yang dhaif. Begitu kata ibu saya. Ibu saya itu setiap hari makan nasi dari padi, semakin tua semakin menunduk. Tapi, saya masih membaca kata puisi dalam puisi Mata Ganz sebagai sebuah metafora, kitab suci. Membaca puisi yang sama. Membaca kitab suci pun sama. Membaca kitab terjemahan pertama dari bahasa langit bisa jadi tak pernah selesai. Mungkin karena Maha-nya Tuhan masih kental terkandung di dalamnya. Atau manusia terlalu dhaif untuk terus membaca. Tapi bagaimana pun, manusia diciptakan Tuhan dengan diberi—atau agar terdengar lebih sakral sebut saja dianugerahi—mata. Manusia semestinya terus belajar.
Tapi, belajar tentang langit yang tinggi itu bisa jadi sangat melelahkan. Untuk mencapai puncak Menara Canadian National-railway, manusia lebih memilih menggunakan lift daripada meniti 1776 anak tangganya. Dasar manusia sekarang! Padahal, kata banyak kalangan meniti anak tangga itu lebih sehat. Mempelajari bahasa langit yang konon juga bisa membuat manusia selamat dunia akhirat sehat juga. “Tapi, Prof, Langit itu terlalu tinggi. Terlalu awang-awang.” kata manusia yang malas itu.Melihat Lukisan dengan Merdu
Beberapa puisi dalam Simtom-simtom Sebelum Penyair Ganz Pecandukata mengajak pembaca menikmati hal-hal dengan cara berbeda. Kreatif dan tidak apa-apa. Sebab, manusia itu berbeda-beda. Setiap manusia mempunyai cara-cara masing-masing untuk urusan selera. Monalisa itu erat dengan Leonardo da Vinci di pikiran awam. Konon, Monalisa itu versi perempuan dari Leonardo da Vinci. Monalisa itu lukisan. Ganz nakal—atau saya pembaca yang terlalu mudah dikadali.
Tak bosan-bosannya kau melukis, menyekap dirimu
Bersama notasi-notasi yang selalu merias dirinya
Sehingga kau tak lagi terjebak dalam kemolekan
Ketika seorang penganyam nada menjumputnya
Ada musik di lukisan Monalisa, pikirku—dengan menggaruk-garuk pelipis. Ternyata Monalisa ini bukan yang Leonardo da Vinci. Ternyata Monalisa ini adalah yang Robert Paulsson atau siapa. Saya kerapkali kesulitan mengingat nama pacar saya, apalagi nama yang saya jarang temui, Robert Paulsson misalnya. Monalisa ini ternyata adalah lagu/musik/irama/dentingan gitar—apa sajalah istilahnya. Merdu juga, pikirku—sambil tersenyum di depan Youtube.
Lagu itu merdu. Lukisan itu indah, pemandangan juga. Perempuan itu bohai, cantik—saya sedang belajar menjadi sopan. Juga puisi. Puisi itu puisi. Entah itu puisi berkali-kali kunyah, atau bahkan puisi sekali baca buang. Puisi itu indah. Iya, puisi itu indah. Pasti. Seperti puisi-puisi Ganz dalam Simtom-simtom Sebelum Penyair ini, mencapai keindahan yang tinggi. Ganz berhasil dalam hal ini. Tapi, bagaimana pun juga, semua yang tertuliskan ini, muncul di kepala saya setelah membaca Simtom-simtom Sebelum Penyair. Saya jadi ingin membayangkan bagaimana jika sesudah penyair. Keindahan langit. Bisa jadi memang benar, tangan kanan kamus dan ensiklopedi dan tangan kiri buku puisi—tentu setelah rokokku aku sandarkan ke asbak.
*) oleh Janoary M Wibowo, tulisan yang digunakan sebagai pintu diskusi dalam "Forum Sastra Bulanan - Bedah Antologi Simtom-simtom Sebelum Penyair karya Ganz Pecandukata " 25 Mei 2011.


Posting Komentar