Acacil

"Om Taufik, pinjem dong!" pikirku, setelah menemukan kutipan yang menarik dari Taufik Ismail. Ya, Om sastrawan itu pernah berkata kurang lebih demikian, generasi mahasiswa era 90-an itu rabun membaca dan lumpuh menulis. Mungkin maksudnya, mahasiswa kala itu jarang membaca dan, sebagai imbasnya, jarang menulis. budaya literasi Indonesia dimatikan oleh generasi yang diharapkan menghidupkan budaya literasi itu. Mahasiswa.

"Pinjem lagi, ah." kataku kepada Soe Hok Gie, semoga dia bisa mendengar. Koh Gie punya sebutan khusus buat mahasiswa, the happy selected few[1]. Ya, mahasiswa adalah kaum elit masyarakat yang terpilih, yang jumlahnya sedikit tapi mempunyai kesempatan untuk membuat perubahan. Tercermin dari tingkat pendidikan yang dienyam, mahasiswa mempunyai budaya literasi, budaya membaca dan menulis yang tinggi. Inilah elemen masyarakat yang mempunyai tingkat intelektual tinggi, mencerminkan intelektualitas suatu bangsa.

“Ah, Om Taufik dan Koh Gie kan jadul, belum kenal twitter dan facebook.” kataku. Pantas jika pemikiran seperti itu muncul dari kepala mereka. Mahasiswa sekarang sudah paham bahwa mereka adalah kaum elite masyarakat, Agent of Change. Selain kampus, mahasiswa jaman ini mempunyai ruang diskusi baru, jejaring sosial. Arus informasi telah bergerak begitu cepat. Budaya literasi pun seakan-akan ikut ngebut. Koran dan buku tak lagi menjadi bacaan rujukan utama. Bagaimana pun juga, mesin cetak masih kalah cepat dengan jaringan wi-fi.

Bismillah, nawaitu mengomentari pernyataan Om Taufik yang hebat itu. Iya, yang rabun membaca dan lumpuh menulis itu mahasiswa era-90an. Beda jaman beda permasalahan. Rabun membaca dan lumpuh menulis tak lagi menjadi permasalahan di Indonesia sekarang[2]. Budaya literasi—dengan adanya jejaring sosial—semakin ramai. Mahasiswa membaca mahasiswa menulis. Jika kita melihat fenomena facebook, budaya literasi bahkan sudah terlengkapi dengan budaya berdiskusi. Diskusi di ruang maya tak lagi mengenal waktu, kapanpun dan dimanapun.

“Satu hal lagi ya, Om Taufik. Tidak bermaksud tak sopan padamu.” kataku, sambil tersenyum agar masih kelihatan menghormati yang lebih tua. Jika Om Taufik berkenan melihat lebih dalam, mahasiswa sekarang sudah mengusung, merencanakan sebuah perubahan dengan budaya literasinya. Budaya literasi, membaca dan menulis, sudah diusung ke arah yang lebih relevan, lebih tepat guna dengan jaman. Mahasiswa sekarang cukup visioner, kreatif dan inspiratif dalam kaitannya budaya literer. Membaca status dan menulis komentar sudah dikoar-koarkan oleh para agen perubahan itu. Kreativitas pun terpupuk dengan bermunculan gaya bahasa baru: bahasa Indalayesia[4], bahasa emotinesia[5], dan gaya bahasa lainnya yang tak kalah visioner tentunya. Jadi, Om Taufik dan Koh Gie, pernyataan-pernyataan anda sudah kami buktikan dengan apa yang kami lakukan. Hidup Budaya Literasi! Hidup Acacil![6]

1] Koh Gie gabrish beud deh, gaul british... xixie...
2] Yang jadi permasalahan Indonesia tuh, kapan SNSD pentas di Semarang??? T_T
3] Asal ada pulsa atau sinyal wi-fi buat online.. Online...online... Om Saykoji gokil... :D
4] KegH gNi niCh, baSa Ind4LaYNesi4. Quwh sBnRX ilPilh beUd makeNa, tP Lm2 Luthu juJa..xexe..
5] Nggak tahu bahasa emotinesia? Capek deh, --". Kaya ini hlo bahasanya, --" atau o_O trus ^^, ada lagi #_#, banyak deh pokoknya. Hidup Capit Lobster! V.n.V
6] Acacil = Agent of Change Alay, Culun dan Labil, gokil abis nggak tuh? u_O xoxo..

1 Response to "Acacil"

gravatar
Lintang Kironoratri Says:

poin 8 pindah ke poin 5 .
tetep ... --"

Posting Komentar