Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kram Otak

Aku menciummu,
tapi mulutmu rasa foodcourt,
pahit espresso Starbucks.
Dan entah keju Breadtalk,
entah putih rokok di asbak.
Kepalaku jadi pening,
aku ingin sandar di bahumu.

Aku memelukmu,
tapi dadamu bau mall,
Marc Jacobs tanpa diskon.
dan entah fragrance oils spa,
Entah bau tinta di struk belanja.
Kepalaku makin pening,
aku ingin rebah di sampingmu.

Aku menyetubuhimu,
tapi tubuhmu hanya kata-kata,
dipilah, dijungkirbalik, ditata.
Dan entah atas nama cinta,
entah atas nama hujan, atau senja.
Entah atas nama manusia,
entah untuk Malala.
Entah untuk agama,
entah untuk menghujat negara.
Entah untuk bra bra bra.
Entah untuk bla bla bla.
Sayang, kuingin kau mati saja.

Aku mengayun palu.
keparat! jidatmu hanya kamus,
sepertiga halaman pertama.

Bandung, 11 Desember 2012

Rindu


kilau cermin-cermin
mengguyur cahaya di air terjun
menggantung seperti kelamin
mengeluyur di lorong-lorong menurun
ke jauh apa ke jauh mana
roda-roda menggelinding di kota

lalu ada yang diam-diam memucat
malam-malam penunggu keberangkatan
ngungun mencerap kesepian
dikantongi sebagai modal minggat
di pagi mana ke sore apa
sepatu-sepatu menjejaki kota

secoreng muka serobek celana
merengek pada matahari
meliburkan diri di pantai
menjemur kering lagu-lagu lama
kepala apa kelapa mana
es batu meleleh di beku kata-kata


 Bekasi, 6 Agustus 2012

Dari Kalimalang

bebek mana bebek
yang katanya mau meledek kita
kalau-kalau terjebak di kemacetan
kota sejuta papan penunjuk arah
yang mengajak memutar-mutar
jalanan yang sama terus-terusan,
oh itu ada pasangan kasmaran
cuek ciuman di pinggir jalan
tak malu di depan knalpot
yang terlalu repot sendiri
tak mau tahu yang terjadi,

ah, malah salah belok di jalan searah

lalu kopi mana kopi
yang katanya bisa diajak berhenti
kalau-kalau kepala sudah matang
dipanasi siang tadi yang gatal di kaki
mengundang untuk digaruk-garuk riang
ih ini jalanan yang sibuk sekali
sampai-sampai debu-debu
ikut terbang tergesa-gesa
menemani kita kemana-mana
kadang malah menempeli kita
mendandani wajah kita

eh, kau belum lelah tersesat bukan?


Bekasi, 30 Juni 2012

Got

mengiris semangka di tengah kota,
mencari musim panas di bijinya.
terus dicacah daging merah
merekah, lalu terkekeh-kekeh
meleleh menjadi musim dingin
dijual lebih mahal di asongan.

menyelusup saku kiri di trotoar,
menanam koin musim semi di dalamnya.
meminta disiram air garam,
memeram, lalu menggeleng-geleng
menolak kawin dengan musim gugur
dipinang lebih dari sekadar cincin.

menetaskan telor sendiri di dalam kamar,
menemukan kota tanpa musim di cangkangnya
memeras gerah di tiap belokan
berkelok, lalu mematah-matah
melatah cara berjalan jalanan
digoreng lebih garing dari hutan kota.


menggelinding semangka, koin, lalu telor
sendiri, di jalanan mampet
dituliskan lebih dari puisi berbentuk got.



Bekasi, 24 Juni 2012

Pulang

Dan, sesaat setelah keberangkatan,
kita adalah yang merindukan jalan pulang.
Dalam jeda, kita menerka-nerka
sembari menipu diri tentang keyakinan.

Kita mencari,
kita mencari,
kita mencari.
Oh, carilah.
Oh, pergilah.

Barangkali hanya pengelana,
diam-diam menghitungi,
seolah-olah menata,
kerapkali meratapi jarak.
Rumah idaman itu,
taman bermimpi itu,
lampu-lampu pesta itu,
hanya sepi-sepi yang berarak.

Aku mencarimu,
aku mencarimu,
aku mencarimu.
Oh, diri.
Oh, sepi.

Barangkali sebenar-benar jalan pulang,
hanyalah menelusuri tiap selasar,
menuju tiap kerinduan.
Sesampai-sampainya keberangkatan,
selalu saja,
Pulang.

25 April 2012

Riang

bocah itu menyambut pagi
dengan riang, dengan kantung mata yang hitam kopi
mentari berkaki berjingkat-jingkat
menemani bocah itu menari-nari sendiri,
dia bernyanyi

lihat mataku
penuh dengan luka
ada yang pulih
dan ada yang nganga
setiap hari kurasa semua
tawar dan asin
membuatku jengah

betapa pagi yang cerah, dan bocah riang yang lincah
tangannya membuka, tubuhnya berputar-putar
dia masih menari, berpusing-pusing riang
sampai terjengkang, sampai kakinya gemetar
dia lelah, dia masih tertawa
dia lelah, lalu ingin istirah
mentari bermulut mengajak pulang
bocah lelah bermain di tanah lapang,
dia bernyanyi

bolakbalik ke puncak murung
pedih lagi dan lagi
kiri kanan kuperam semua
banyaknya airmata

mentari berucap sekadar kata-kata
terlalu dilebih-lebihkan



24 Februari 2012

Sayat

Pagi yang alot, seperti sate kambing. Di balik bungkus tusuk sate, kubaca pelan-pelan aturan pakai. Pergi ke dokter gigi sebaiknya tiap enam bulan sekali. Jika pusing berlanjut, baca lebih pelan lagi. Tapi, Bu. Ini sudah bulan ketujuh dan hatiku sudah berlubang. Terlalu lama memeram yang pikirmu manis tapi sebenarnya mengikis, kata Ibuku geram. Mengapa hati kaubiarkan berlubang, katanya. Sate hati dan larutan garam baik untuk makan siang. Siapkan arang, katanya. Bakarlah sekarang!

Sore yang pusing, kebanyakan sate kambing. Aku tidur siang. Dan hujan sejak siang. Sekarang hari sudah petang. Tapi di kamar mandi masih terdengar rintik hujan, air mata dendeng daging sisa yang belum termakan. Takdir berkata aku dilahirkan vegetarian. Tapi aku tak percaya. Sebab aku suka telur. Apalagi mata sapi setengah matang. Mata yang disembelih atas nama cinta pagi tadi. Disembelih sampai berdarah. Cinta yang menyembelih. Cinta yang suka darah. Cepat, Sayang. Asah parang. Masih ada cinta, dan waktu dua hari untuk bunuh diri.

Malam yang dingin. Tapi kolesterol membuatmu telanjang. Di sela-sela ketiakmu, aku menyulut rokok. Kuhisap dalam-dalam, lalu kuhembuskan panjang. Jika kurang panjang, tambahkan sate kambing lagi ke ranjang. Ternyata membakar tubuh itu enak. Lebih enak dari benak yang sadar. Lupakan sate kambing. Lupakan ranjang. Tak usah pusing-pusing mencari arang. Ini tubuhmu. Itu tubuhku. Dan malam yang dingin, bakarlah semua bersamaan. Sembari kita tunggu tahun depan, tubuh mana yang bermain Ibrahim, mana yang dipanggil Ismail.



Cepu, 6 November 2011

Puisi Menolak Mati di Taman Kota

Taman kota,
purnama mengintip
di balik rimbun daun jati,
mencari puisi-puisi
tanpa penyair pemain kata
tapi langkah kaki dan tatap mata.

Taman kota,
purnama masih mengintip
di balik rimbun hati,
nanar menatap lampu halogen,
ada yang benci silau hati
ada yang jatuh cinta sampai birahi,
ada bayi yang mati.

Taman kota,
purnama lelah mengintip
di balik rimbun daun jati,
tak ada lagi puisi,
hanya tubuh-tubuh menggeliat,
menolak dikubur esok pagi.


Pati, 15 Oktober 2011

Risalah Rindu


tidakkah kau paham, sayang
betapa mudah rindu mempermainkan
berloncatan dalam hati
bergonta-ganti wajah saban hari
dari sepi sampai akhirnya sesekali
menjadi birahi yang kerap kita topengi

ah, betapa memang cinta itu
begitu sendirian menyusuri dada
melarikan diri dari sepi satu
tuk terjerembab lagi di sepi lain

ah, betapa memang kita itu
begitu kesepian pada usia
retak menangisi tiap detak
kembali menenggak risalah rindu
membuka luka cinta yang baru

September 2011

Pohon Pisang di Halaman Rumah


bilamana kau sedang sibuk memilah sepi dari bungkusnya
lalu memutuskan satu batang mana akan kau tarik dan putar
—bersama kekar waktu yang tak bisa berbalik—
maka mulut benar-benar terpantik lalu terbakar-membakar
sedang asap itu sejatinya hanyalah kenangan-kenangan
yang lebih pandai menyaru penjara
dari dirimu yang gamang menjadi manusia

lalu angin adalah kebebasan adalah juntai kunci
lihai menampakkan diri pada mata hati yang mencampakkan
duh, meja begitu mudahnya mengaduh kesakitan
seiring gaduh kaki kipas angin yang runtuh
saat menjejak-jejak, mendesak-desak tembok
dari ketabahan yang masih saja entah
tapi mampu merontokkan engsel pintu tua

barangkali itulah
ketika kau makin sibuk memilah sepi dari bungkusnya
tapi tak kunjung menemu pintu lain tuk dibakar tuk membakar
segala putar-putar kipas angin yang masih saja menyalakan
kenangan-kenangan yang memenjarakan
—sedang dirimu hanyalah puisi yang tak benar-benar lagu

lihatlah,
siang begitu tualang sembari menguning bebuahan
dari pucuk yang menunduk pohon pisang
dedaunan hijau nampak begitu teduh
membayang-bayang seperti dua tubuh
kekasih yang berpelukan
saling mengobati tiap kesakitan di pintu melenceng
tempat segala keluar masuk bergantian mengambil peran

Agustus 2011

Layang-layang

Bermain di tanah lapang,
kulihat layang-layang putus benang
angin membawanya ke sembarang
kukejar
kuincar
ke arah sembarang
Layang-layang bukan buah,
tak jatuh tak jauh dari pohonnya
Bukan manusia
tak jatuh lalu kalang tanah

Layang-layang putus benang,
kukejar
kuincar
kupandang langit ke arah layang-layang
bebatuan,
ah, aku tersandung
akar-akar,
ah, aku terjerembab
lelubang,
ah, aku terperosok
Angin menerbangkannya ke sembarang
Belum kuraih, sudah kutertatih

Layang-layang putus benang,
Aku ingin pulang,
"Bu, oh ibu..Ajari anakmu ini
berjalan lagi."


Mei 2011

Kopi, Mari Bersulang Diri

Kuseduh dirimu pada secangkir gelas,
kutanam pada mata

Kauseduh aku pada kota-kota cemas,
kaurebahkan pada kata

Kopi, mari bersulang diri
Hitammu adalah tintaku
Ampasmu adalah jasadku

Mei 2011

Jangan Cuci Muka Dulu

Ajari aku mendedah kata menjadi bahagia,
atau menenun rasa menjadi senyum,
agar aku tak tersesat

Sebab, tiap kali jemari berpaut
Ada yang semacam luput dari bayang
Ada yang sekilas datang lalu selekas pula hilang

Ajari aku menulis sajak cinta yang sederhana,
atau menulis risalah rindu yang bertemu,
agar aku tetap dirimu

Sebab, tiap kali matari bersinar
pendarnya semacam tak rela berpeluk tanah
pendarnya sekali menunduk lalu selamanya menengadah

Ajari aku menjadi debu,
tetap menempel di ujung alismu
sampai nanti kita pulang,
bersama-sama


Mei 2011

Sajak Terakhir Untukmu

Telah kutulis puisi sekali telan
tentang kerinduan dan keresahan
yang entah aku sendiri pun tak tahu
kapan akan berhenti menghujami dada kita.
Bacalah dengan lirih
di sekian menit menjelang tidurmu
ketika langit tak lagi senja yang menenangkan
galau kemaraumu
Telah pula kulukiskan untukmu,
dermaga
tempat perahu-perahu rela selamanya berlabuh
menunggu tenggelam.
Pandangilah dengan seksama
di sepanjang terjagamu
sebelum pagi melelapkanmu di samping cahaya
yang tak butuh sekedipan untuk melenyap.
Maka,
ijinkan aku mendendangkan sajak terakhir
tentang awan dan tetes hujan
yang berpelukan
yang cepat atau lambat
akan berai berkejaran
menuju atap-atap rumah
menuju tanah
menuju pipi-pipi kita

menyembunyikan air mata

Mei 2011

Perempuan Datang Naik UFO

Perempuan
Oh, perempuan
Aku memikirkanmu,
wahai perempuan yang turun
dari piring terbang
Tak perlu membawa buah tangan,
apalagi kegilaan

Suara-suara tentang surga
melayang-layang kemana-mana
Terlalu lama, terlalu lama,
terlalu lama,
juga terlalu tua untukku
Aku muda,
aku cinta,
aku menggilaimu,
wahai perempuan yang turun
dari piring terbang
Bawakan saja aku apel,
bawakan aku apel
Sebab, ular itu terus berdesis di dalamku

Perempuan
Oh, perempuan yang turun
dari piring terbang
Tak perlu membawa buah tangan,
apalagi kegilaan

Jawab pertanyaanku
yang belum bisa dijawab ibu,
"Mak, dari langit mana aku dilahirkan?"

Mei 2011

Ketika Kauputuskan Berhenti

telah kita kalahkan jarak
dengan memandang langit pagi bersama
sudah pula kita salip detak detik
ketika jantung berdegup seirama
tapi belum juga tuntas kita reda kesepian
ketika mata berpandang

telah kita arungkan perahu kertas
dari hulu ke hilir yang belum kita kenal
telah kita putuskan mendaki gunung
walau puncak adalah kesunyian terdalam
tapi belum juga rampung kita reda keluh
ketika mulut berpagut

dedaunan selalu tertawa pada kekalahan
tapi kita telah memilih menang, bukan?

April 2011

Menanti yang Mungkin Menetes

Di antara mendung dan hujan,
kulangsir sepi
awan berserakan menggelap
seperti kata rasa meruap-ruap
tak menemu henti

Di antara kalender dan jam dinding,
sepi sangkutkan diri
detak berarakan berderap
menggilas cinta benci meruak
tak bertemu peduli

Di antara aku dan kau,
ada yang lalu lalang
seperti ingin tapi tak segera menghilang
Mungkin kubalik saja kalender
kubanting jam dinding
jika aku tak sabar

Lalu beranjak keluar
Bermain hujan di tanah lapang



April 2011

Ihwal Persimpangan

Jika mencintaimu adalah merajut jaring laba-laba,
akan kurajut menjadi kenangan di bawah meja
Jika merindukanmu adalah menangkap angin,
akan kutulis puisi di kertas-kertas berserak
Biarkan mereka pulang,
kemanapun rumah

Jika mencintaimu adalah perjalanan menuju,
akankah kusampai?
Jika merindukanmu adalah puisi tak rampung,
akankah kusudahi?
Akan kubiarkan mereka pulang,
kemanapun rumah

Jika melepasmu adalah menapaki jalan pulang,
sungguh, aku tak ingin tersesat



April 2011

Nukilan Sebuah Perjamuan

Sebab tanah makin sandaran
Tak perlu takut pada kematian
Sebab lelah yang rebah adalah yang paling puisi
Mari kita nikmati tiap pejamnya
Sembari mengenang lagi
Saat kita terbahak pada api
yang tak kunjung membakar

Sebab rencana telah menjadi doa
Dan doa bisa menjadi apapun,
Mari kita menjelma yang tanpa kursi tunggu
Seperti airmata yang mesti mengalir malam ini,
Biarkan dia menyeka ampas kopi
dari telapak tangan kita

Tak lagi menjadi pertanyaan
Jemari siapa yang memainkah hati
Tawa dan tangis tetaplah bertautan

Maret 2011

Hujan Selalu Reda

*kolaborasi Janoary M Wibowo dan M Rifan Fajrin


(1)
Hidup tak pernah terpetakan
Seperti segelas susu yang seharga sepiring nasi
Mengapa?

(2)
Sebab segelas kopi dan sebatang asap pagi hari
Setara dengan kenyang
Apa lagi yang penting untuk diharapkan?

(3)
Ya, setetes hujan itu
Tetap turun
dan sempurna menjalani takdirnya

(4)
Dan ketika itu
Aku ingin tidur sejenak,
mungkin tiga ratus tahun

(5)
Bahkan dalam lelap yang senyap,
Sore bisa jadi seharga pagi
Lalu hidup tetap tak terpetakan


Maret 2011