Sebab tanah makin sandaran
Tak perlu takut pada kematian
Sebab lelah yang rebah adalah yang paling puisi
Mari kita nikmati tiap pejamnya
Sembari mengenang lagi
Saat kita terbahak pada api
yang tak kunjung membakar
Sebab rencana telah menjadi doa
Dan doa bisa menjadi apapun,
Mari kita menjelma yang tanpa kursi tunggu
Seperti airmata yang mesti mengalir malam ini,
Biarkan dia menyeka ampas kopi
dari telapak tangan kita
Tak lagi menjadi pertanyaan
Jemari siapa yang memainkah hati
Tawa dan tangis tetaplah bertautan
Maret 2011
Tak perlu takut pada kematian
Sebab lelah yang rebah adalah yang paling puisi
Mari kita nikmati tiap pejamnya
Sembari mengenang lagi
Saat kita terbahak pada api
yang tak kunjung membakar
Sebab rencana telah menjadi doa
Dan doa bisa menjadi apapun,
Mari kita menjelma yang tanpa kursi tunggu
Seperti airmata yang mesti mengalir malam ini,
Biarkan dia menyeka ampas kopi
dari telapak tangan kita
Tak lagi menjadi pertanyaan
Jemari siapa yang memainkah hati
Tawa dan tangis tetaplah bertautan
Maret 2011


Posting Komentar