Telah kutulis puisi sekali telan
tentang kerinduan dan keresahan
yang entah aku sendiri pun tak tahu
kapan akan berhenti menghujami dada kita.
Bacalah dengan lirih
di sekian menit menjelang tidurmu
ketika langit tak lagi senja yang menenangkan
galau kemaraumu
Telah pula kulukiskan untukmu,
dermaga
tempat perahu-perahu rela selamanya berlabuh
menunggu tenggelam.
Pandangilah dengan seksama
di sepanjang terjagamu
sebelum pagi melelapkanmu di samping cahaya
yang tak butuh sekedipan untuk melenyap.
Maka,
ijinkan aku mendendangkan sajak terakhir
tentang awan dan tetes hujan
yang berpelukan
yang cepat atau lambat
akan berai berkejaran
menuju atap-atap rumah
menuju tanah
menuju pipi-pipi kita
menyembunyikan air mata
Mei 2011


Posting Komentar