*notulensi Bincang-Bincang Minggu #5 Open Mind Community 1 Mei 2011
Berangkat dari feminisme, sepuluh laki-laki dan dua perempuan berkumpul di Wisma Driyarkara, Dr. Cipto. Open Mind Community menyelenggarakan BINCANG BINCANG MINGGU #5, bertajuk SAATNYA LAKI-LAKI BICARA. Ya, sepertinya laki-laki memang harus mulai bicara. Seperti mitologi tentang laki-laki dan perempuan pertama, Adam dan Hawa. Hawa yang tergoda oleh iblis, Adam yang diam saja menyaksikan Hawa digoda Iblis. The Silent Adam.
Lazimnya cerita, manusia keturunan Adam bergulat dengan iblis tersebab keteledoran Hawa yang membiarkan dirinya tergoda. Konon kala itu, Hawa dan Adam sedang bercengkerama di Taman Eden, di bawah sebuah pohon pengetahuan. Pohon buah Kuldi, pohon buah Apel. Iblis yang merupa ular merambat di pohon, mendekati Hawa, menggodanya agar menelan buah itu. Hawa tergoda, Adam diam saja. Mengapa Adam membiarkan hal itu terjadi? Pertanyaan itu dilemparkan oleh Purwono Nugroho Adhi.
Ridho menjawab laki-laki yang jatuh cinta selalu lemah di hadapan perempuan. Mungkin Hawa merajuk pada Adam, katanya. Sandra Palupi menambahi, mungkin Adam tidak mau bertanggung jawab atas apa yang mungkin terjadi setelah itu. Adam diciptakan untuk berkuasa di Taman Eden. Adam mengetahui apapun di sana. Diskusi sejenak berhenti. Mungkin para peserta memikirkan jawaban dari pertanyaan itu, mungkin para peserta berpikir mengapa pula pertanyaan itu perlu dijawab. Diskusi selalu penuh kemungkinan.
Agung Hima berbicara, mengutarakan kemungkinan lain membicarakan Silent Adam dari sudut perempuan. Ya, perempuan, menurut Agung Hima, hanya bisa dibaca 5 tahun. Antara 18-23 tahun, perempuan beranjak dewasa, aktif, dan sibuk mencari jati diri. Itulah perempuan bisa dibaca, asyik dibaca. Setelah itu, perempuan masuk dalam fase membosankan. Perempuan sebagai istri, sekitar umur 30 tahun, seperti sudah terpetakan. Perempuan mengurusi rumah, minta jatah atau banyak hal membosankan lainnya. Pendapat Agung Hima kerapkali provokatif. Mungkin kaitan yang dimaksud dengan The Silent Adam adalah mengapa memikirkan Adam dan Hawa? Hawa sudah masuk fase membosankan. Feminisme membosankan?
Namun sepertinya perempuan belum membosankan untuk dibicarakan. Ya, merujuk pada penjelasan Purwono Nugroho Adhi, tuhan itu bersifat laki-laki. Mikael misalnya, nama itu berasal dari bahasa ibrani kuno. /mi/ berarti siapa, /ka/ itu seperti, dan /el/ itu yang dari langit—tuhan. Jadi, nama Mikael berarti yang seperti tuhan. Mikael sendiri kerap kali digambarkan sebagai ksatria perang yang bertampang garang. Ya, tuhan itu cenderung bersifat laki-laki. Dan itulah sebenarnya akar dari gerakan feminisme, misandry. Dominasi kekuasaan laki-laki, kekuasaan tuhan. Feminisme terus mengejar persamaan derajat antargender. Sampai sekarang, itu masih hangat, masih jauh dari fase membosankan.
Ganjar Sudibyo, atau lebih dikenal dengan Ganz Pecandukata, mengeluarkan argumennya. Feminisme itu ibarat hero, jagoan. Terlambat datang lalu menang. Setelah feminisme mencuat, misandry—dalam hal ini lebih ke sifat kelaki-lakian—menjadi peran antagonis. Laki-laki selalu menjadi musuh yang kalah di gerakan feminisme.
Diskusi sempat terhenyak ketika mas Ompong berbicara, “Itu semua kan ditarik dari pemikiran londo. Padahal, dalam pemikiran Jawa Kuno, tidak ada permasalahan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan memahami perannya masing-masing dan bekerja sama dengan baik.” Feminisme itu warisan londo; londo Jerman, londo Perancis, pokoke londo.
Warisan londo atau warisan mbahe dhewe, feminisme selalu berdasar pada androgini, semangat untuk meruntuhkan kekuasaan/dominasi laki-laki. Bukan sekedar jenis kelamin, tapi posisi. Sejak jaman mitologi, posisi laki-laki selalu mendominasi, “Tapi sekarang, eranya feminisme. Semua orang membicarakannya.” kata Purwono Nugroho Adi.
Janoary M Wibowo mulai angkat bicara. Kali pertama ia bercerita tentang kecenderungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki berkecenderungan pada competition-based, pola pikirnya berdasar pada persaingan. Siapa yang mendapatkan wanita tercantik, siapa yang mendapatkan posisi puncak. Sedangkan perempuan, lebih cenderung mendasari pola pikirnya pada compassion-based—belas kasih dan cinta. Namun, dalam perkembangannya kini, kecenderungan sikap laki-laki dan perempuan semakin kabur. Laki-laki tak selalu mendominasi. Siapa yang ada di puncak tak selalu menang dalam persaingan. “Mungkin ini era post-gender,” kata Janoary.
Asal Usul Manusia
Diskusi berlanjut. Musyafak Timur Banua kini yang angkat bicara. “Jangan-jangan competition-based itu bukan milik laki-laki, pun compassion-based bukan milik perempuan,” curiganya. Musyafak mengisahkan tentang bagaimana dulu Adam tercipta. Adam, seperti yang pernah dia baca, menjadi semacam korban dalam konspirasi besar. Tuhan dan Iblis semacam melakukan persekongkolan untuk memuluskan rencana, Adam menjadi khalifah di dunia ini. Adam, dalam runtutan logika itu, semestinya menjadi berkuasa. Sebab, untuk menjadi khalifah, sudah barang tentu Adam mempunyai segala ilmu. Semua ilmu. Namun, seperti yang para penyair sering tuangkan dalam larik-lariknya, perjuangan pertama dan terhebat manusia adalah melawan kesepian. Iya, melawan kesepian. Itulah mengapa Adam merelakan tulang rusuknya untuk menjadi teman. Teman berkuasa di dunia ini. Keduanya—laki-laki dan perempuan—bisa dianggap sebagai penguasa atau malahan korban di dunia ini.
Bisa jadi pemetaan historis dari asal-usul manusia dan monotheisme hanyalah rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Mitos-mitos semuanya sama. Dari kitab kuning—yang konon kitab paling kuno—sampai cypher dan tablet dari jaman Sumerian, semua bercerita tentang hal yang sama. Kisah Musa yang dibuang ke sungai, Karna dalam budaya Jawa pun mempunyai kisah yang sama. Achilles yang mempunyai kelemahan di pergelangan kaki, pun mirip dengan Antasena. “Itu adalah ilmu untuk semua manusia,” katanya.
Kurniawan Yunianto langsung mengangkat pembicaraan ke ranah yang lebih tinggi. “Apa yang dikatakan Musyafak menjadi alasan mengapa beberapa tahun lalu aku memutuskan untuk tidak bertuhan,” kata penyair berambut gondrong itu. Begitu banyak versi cerita tentang tuhan, kitab kuno atau apalah, bagi saya semua itu bullshit, lanjutnya. Setiap orang akan menuliskan kitab sucinya sendiri dalam hatinya sendiri. Sebab, diri sendiri lah yang memutuskan kebenaran-kebenaran mana yang akan diyakini, entah itu omongan mbah ini, pak guru itu, om ini, siapapun itu. Kita yang memutuskan siapa yang kita percaya. Pada akhirnya, apa yang kita yakini berpusat pada diri sendiri. Seperti kita tahu malam dengan mempelajari siang, saya merasa beruntung pernah merasakan tidak bertuhan. Dengan menyadari diri sendiri dengan sepenuhnya, saya sekarang bisa yakin mengatakan bahwa tuhan itu ada. Manusia bisa menahan untuk tidak tidur, tapi manusia tak akan mampu menolak datangnya rasa kantuk. Juga rasa lapar dan haus. Lalu siapa yang mendatangkan rasa-rasa itu? Bisa jadi itulah Tuhan.
“Jika kita membicarakan feminisme, selalu besar kemungkinan kita berujung pada spiritualitas,” Musyafak melanjutkan pernyataan Kurniawan. Bagaimana manusia merindukan belas kasihan, kasih sayang, juga perlindungan Tuhan bisa diibaratkan seperti seorang anak yang merindukan belas kasihan, kasih sayang, juga perlindungan ibunya. Seorang perempuan. “Spiritualitas kerapkali disebut sebagai hug of heaven,” sambung Purwono.
Adam dan Hawa di bawah sebuah pohon di Taman Eden, memakan buah apel—dalam mitologi lain ada yang menyebutnya buah kuldi atau buah pengetahuan. Pohon itu adalah pohon pengetahuan. Mungkin itu yang disebut pohon kehidupan. Istilah Tree of Life sendiri muncul pertama kali pada jaman Babylonia Talmud. Tablet pertama yang ditemukan di jaman itu bergambarkan dua manusia yang mengapit sebuah pohon.
Manusia yang mendiami Bumi sekarang ini hampir mendekati jumlah 7 milyar jiwa. Ya, jiwa-jiwa itu semua beda satu sama lain, mempunyai karakteristiknya sendiri-sendiri. Apakah Tuhan merancang semuanya? “Jumlah itu yang masih hidup, berapa jumlah jiwa yang ada sejak jaman Adam pertama kali menginjakkan kaki di Bumi?” tanya Kurniawan, retoris. Mungkin di situlah peran pohon kehidupan, jiwa-jiwa manusia itu ibarat daun. Tumbuh pada cabang-cabangnya. Makin hari pohon itu makin rindang.
“Ada kalangan yang ngoyo-woro, mengada-ada tentang pohon kehidupan,” kata Purwono. Gambar yang nampak di tablet itu memang tidak sempurna mirip pohon. Ada yang menafsirkannya sebagai sinar UFO; unidentified flying object, alien. Itulah mengapa muncul sekte Scientologi, yang menunggu UFO datang kembali. Ada kalangan yang menunggu Yesus turun lagi ke Bumi, ada kalangan yang menunggu Imam Mahdi. Lalu kalangan scientologi menunggu UFO. Aneh.
“Tidak ada yang aneh,” tiba-tiba Janoary bersemangat. “Jika pemetaan historis monotheisme adalah rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Dan mitologi, bagaimanapun juga tak seorangpun mengetahuinya dengan pasti, jangan-jangan memang benar, kita itu hewan yang diajari menjadi rasional oleh UFO.” lanjutnya. Bukankah sudah sering kita mendengar kalimat ‘manusia adalah hewan yang rasional’? Bayanganku seperti ini, pada jaman manusia pra sejarah ada alien yang berperadaban tinggi datang ke bumi. Dia mengajarkan manusia pra-sejarah itu tentang rasio. “Jika penciptaan alam semesta itu selama tujuh hari, mungkin waktu kursus manusia pada alien itu selama tujuh hari pula.” Janoary mulai kemana-mana. “Logis nggak ?” tanyanya.
Semua orang mulai tertawa, diskusi semakin panas dan semakin kemana-mana. Namun, bukankah memang begini semestinya diskusi berjalan. Semua orang saling mengeluarkan isi kepala. Bahkan imajinasinya. Tidak ada yang tidak mungkin. Agung Hima mengeluh, “Wes duwe anak limo kok ternyata soko UFO.” Semua kembali tertawa. Jano mulai kenthir, Agung nambahi.
Kurniawan melemparkan kayu ke api, “Teruske sampe kenthir tenanan.”
Musyafak menuangkan minyak ke api, “Iyo, kenthir po waras ora masalah. Sing penting ojo setengah-setengah.”
Salam Grakgrek Opem Mind Community.
Berangkat dari feminisme, sepuluh laki-laki dan dua perempuan berkumpul di Wisma Driyarkara, Dr. Cipto. Open Mind Community menyelenggarakan BINCANG BINCANG MINGGU #5, bertajuk SAATNYA LAKI-LAKI BICARA. Ya, sepertinya laki-laki memang harus mulai bicara. Seperti mitologi tentang laki-laki dan perempuan pertama, Adam dan Hawa. Hawa yang tergoda oleh iblis, Adam yang diam saja menyaksikan Hawa digoda Iblis. The Silent Adam.
Lazimnya cerita, manusia keturunan Adam bergulat dengan iblis tersebab keteledoran Hawa yang membiarkan dirinya tergoda. Konon kala itu, Hawa dan Adam sedang bercengkerama di Taman Eden, di bawah sebuah pohon pengetahuan. Pohon buah Kuldi, pohon buah Apel. Iblis yang merupa ular merambat di pohon, mendekati Hawa, menggodanya agar menelan buah itu. Hawa tergoda, Adam diam saja. Mengapa Adam membiarkan hal itu terjadi? Pertanyaan itu dilemparkan oleh Purwono Nugroho Adhi.
Ridho menjawab laki-laki yang jatuh cinta selalu lemah di hadapan perempuan. Mungkin Hawa merajuk pada Adam, katanya. Sandra Palupi menambahi, mungkin Adam tidak mau bertanggung jawab atas apa yang mungkin terjadi setelah itu. Adam diciptakan untuk berkuasa di Taman Eden. Adam mengetahui apapun di sana. Diskusi sejenak berhenti. Mungkin para peserta memikirkan jawaban dari pertanyaan itu, mungkin para peserta berpikir mengapa pula pertanyaan itu perlu dijawab. Diskusi selalu penuh kemungkinan.
Agung Hima berbicara, mengutarakan kemungkinan lain membicarakan Silent Adam dari sudut perempuan. Ya, perempuan, menurut Agung Hima, hanya bisa dibaca 5 tahun. Antara 18-23 tahun, perempuan beranjak dewasa, aktif, dan sibuk mencari jati diri. Itulah perempuan bisa dibaca, asyik dibaca. Setelah itu, perempuan masuk dalam fase membosankan. Perempuan sebagai istri, sekitar umur 30 tahun, seperti sudah terpetakan. Perempuan mengurusi rumah, minta jatah atau banyak hal membosankan lainnya. Pendapat Agung Hima kerapkali provokatif. Mungkin kaitan yang dimaksud dengan The Silent Adam adalah mengapa memikirkan Adam dan Hawa? Hawa sudah masuk fase membosankan. Feminisme membosankan?
Namun sepertinya perempuan belum membosankan untuk dibicarakan. Ya, merujuk pada penjelasan Purwono Nugroho Adhi, tuhan itu bersifat laki-laki. Mikael misalnya, nama itu berasal dari bahasa ibrani kuno. /mi/ berarti siapa, /ka/ itu seperti, dan /el/ itu yang dari langit—tuhan. Jadi, nama Mikael berarti yang seperti tuhan. Mikael sendiri kerap kali digambarkan sebagai ksatria perang yang bertampang garang. Ya, tuhan itu cenderung bersifat laki-laki. Dan itulah sebenarnya akar dari gerakan feminisme, misandry. Dominasi kekuasaan laki-laki, kekuasaan tuhan. Feminisme terus mengejar persamaan derajat antargender. Sampai sekarang, itu masih hangat, masih jauh dari fase membosankan.
Ganjar Sudibyo, atau lebih dikenal dengan Ganz Pecandukata, mengeluarkan argumennya. Feminisme itu ibarat hero, jagoan. Terlambat datang lalu menang. Setelah feminisme mencuat, misandry—dalam hal ini lebih ke sifat kelaki-lakian—menjadi peran antagonis. Laki-laki selalu menjadi musuh yang kalah di gerakan feminisme.
Diskusi sempat terhenyak ketika mas Ompong berbicara, “Itu semua kan ditarik dari pemikiran londo. Padahal, dalam pemikiran Jawa Kuno, tidak ada permasalahan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan memahami perannya masing-masing dan bekerja sama dengan baik.” Feminisme itu warisan londo; londo Jerman, londo Perancis, pokoke londo.
Warisan londo atau warisan mbahe dhewe, feminisme selalu berdasar pada androgini, semangat untuk meruntuhkan kekuasaan/dominasi laki-laki. Bukan sekedar jenis kelamin, tapi posisi. Sejak jaman mitologi, posisi laki-laki selalu mendominasi, “Tapi sekarang, eranya feminisme. Semua orang membicarakannya.” kata Purwono Nugroho Adi.
Janoary M Wibowo mulai angkat bicara. Kali pertama ia bercerita tentang kecenderungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki berkecenderungan pada competition-based, pola pikirnya berdasar pada persaingan. Siapa yang mendapatkan wanita tercantik, siapa yang mendapatkan posisi puncak. Sedangkan perempuan, lebih cenderung mendasari pola pikirnya pada compassion-based—belas kasih dan cinta. Namun, dalam perkembangannya kini, kecenderungan sikap laki-laki dan perempuan semakin kabur. Laki-laki tak selalu mendominasi. Siapa yang ada di puncak tak selalu menang dalam persaingan. “Mungkin ini era post-gender,” kata Janoary.
Asal Usul Manusia
Diskusi berlanjut. Musyafak Timur Banua kini yang angkat bicara. “Jangan-jangan competition-based itu bukan milik laki-laki, pun compassion-based bukan milik perempuan,” curiganya. Musyafak mengisahkan tentang bagaimana dulu Adam tercipta. Adam, seperti yang pernah dia baca, menjadi semacam korban dalam konspirasi besar. Tuhan dan Iblis semacam melakukan persekongkolan untuk memuluskan rencana, Adam menjadi khalifah di dunia ini. Adam, dalam runtutan logika itu, semestinya menjadi berkuasa. Sebab, untuk menjadi khalifah, sudah barang tentu Adam mempunyai segala ilmu. Semua ilmu. Namun, seperti yang para penyair sering tuangkan dalam larik-lariknya, perjuangan pertama dan terhebat manusia adalah melawan kesepian. Iya, melawan kesepian. Itulah mengapa Adam merelakan tulang rusuknya untuk menjadi teman. Teman berkuasa di dunia ini. Keduanya—laki-laki dan perempuan—bisa dianggap sebagai penguasa atau malahan korban di dunia ini.
Bisa jadi pemetaan historis dari asal-usul manusia dan monotheisme hanyalah rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Mitos-mitos semuanya sama. Dari kitab kuning—yang konon kitab paling kuno—sampai cypher dan tablet dari jaman Sumerian, semua bercerita tentang hal yang sama. Kisah Musa yang dibuang ke sungai, Karna dalam budaya Jawa pun mempunyai kisah yang sama. Achilles yang mempunyai kelemahan di pergelangan kaki, pun mirip dengan Antasena. “Itu adalah ilmu untuk semua manusia,” katanya.
Kurniawan Yunianto langsung mengangkat pembicaraan ke ranah yang lebih tinggi. “Apa yang dikatakan Musyafak menjadi alasan mengapa beberapa tahun lalu aku memutuskan untuk tidak bertuhan,” kata penyair berambut gondrong itu. Begitu banyak versi cerita tentang tuhan, kitab kuno atau apalah, bagi saya semua itu bullshit, lanjutnya. Setiap orang akan menuliskan kitab sucinya sendiri dalam hatinya sendiri. Sebab, diri sendiri lah yang memutuskan kebenaran-kebenaran mana yang akan diyakini, entah itu omongan mbah ini, pak guru itu, om ini, siapapun itu. Kita yang memutuskan siapa yang kita percaya. Pada akhirnya, apa yang kita yakini berpusat pada diri sendiri. Seperti kita tahu malam dengan mempelajari siang, saya merasa beruntung pernah merasakan tidak bertuhan. Dengan menyadari diri sendiri dengan sepenuhnya, saya sekarang bisa yakin mengatakan bahwa tuhan itu ada. Manusia bisa menahan untuk tidak tidur, tapi manusia tak akan mampu menolak datangnya rasa kantuk. Juga rasa lapar dan haus. Lalu siapa yang mendatangkan rasa-rasa itu? Bisa jadi itulah Tuhan.
“Jika kita membicarakan feminisme, selalu besar kemungkinan kita berujung pada spiritualitas,” Musyafak melanjutkan pernyataan Kurniawan. Bagaimana manusia merindukan belas kasihan, kasih sayang, juga perlindungan Tuhan bisa diibaratkan seperti seorang anak yang merindukan belas kasihan, kasih sayang, juga perlindungan ibunya. Seorang perempuan. “Spiritualitas kerapkali disebut sebagai hug of heaven,” sambung Purwono.
Adam dan Hawa di bawah sebuah pohon di Taman Eden, memakan buah apel—dalam mitologi lain ada yang menyebutnya buah kuldi atau buah pengetahuan. Pohon itu adalah pohon pengetahuan. Mungkin itu yang disebut pohon kehidupan. Istilah Tree of Life sendiri muncul pertama kali pada jaman Babylonia Talmud. Tablet pertama yang ditemukan di jaman itu bergambarkan dua manusia yang mengapit sebuah pohon.
Manusia yang mendiami Bumi sekarang ini hampir mendekati jumlah 7 milyar jiwa. Ya, jiwa-jiwa itu semua beda satu sama lain, mempunyai karakteristiknya sendiri-sendiri. Apakah Tuhan merancang semuanya? “Jumlah itu yang masih hidup, berapa jumlah jiwa yang ada sejak jaman Adam pertama kali menginjakkan kaki di Bumi?” tanya Kurniawan, retoris. Mungkin di situlah peran pohon kehidupan, jiwa-jiwa manusia itu ibarat daun. Tumbuh pada cabang-cabangnya. Makin hari pohon itu makin rindang.
“Tidak ada yang aneh,” tiba-tiba Janoary bersemangat. “Jika pemetaan historis monotheisme adalah rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Dan mitologi, bagaimanapun juga tak seorangpun mengetahuinya dengan pasti, jangan-jangan memang benar, kita itu hewan yang diajari menjadi rasional oleh UFO.” lanjutnya. Bukankah sudah sering kita mendengar kalimat ‘manusia adalah hewan yang rasional’? Bayanganku seperti ini, pada jaman manusia pra sejarah ada alien yang berperadaban tinggi datang ke bumi. Dia mengajarkan manusia pra-sejarah itu tentang rasio. “Jika penciptaan alam semesta itu selama tujuh hari, mungkin waktu kursus manusia pada alien itu selama tujuh hari pula.” Janoary mulai kemana-mana. “Logis nggak ?” tanyanya.
Semua orang mulai tertawa, diskusi semakin panas dan semakin kemana-mana. Namun, bukankah memang begini semestinya diskusi berjalan. Semua orang saling mengeluarkan isi kepala. Bahkan imajinasinya. Tidak ada yang tidak mungkin. Agung Hima mengeluh, “Wes duwe anak limo kok ternyata soko UFO.” Semua kembali tertawa. Jano mulai kenthir, Agung nambahi.
Kurniawan melemparkan kayu ke api, “Teruske sampe kenthir tenanan.”
Musyafak menuangkan minyak ke api, “Iyo, kenthir po waras ora masalah. Sing penting ojo setengah-setengah.”
Salam Grakgrek Opem Mind Community.


Posting Komentar