Notulensi Bincang-Bincang Minggu Open Mind Community, 23 January 2010.
Minggu sore, Taman Budaya Raden Saleh ramai. Suara pentas musik masih menguasai suasana. Sedikit bising. Namun, para penggiat Open Mind Community tetap mengadakan diskusi rutin mereka. Bincang-bincang Minggu. Diskusi kali ini dipantik oleh tulisan Musyafak Timur Banua, Membaca Absurditas dan Chaos Dunia.
Musyafak, pada awal diskusi mengaku sedang ‘mabuk’ saat membuat tulisan pemantik tersebut. Tulisan itu keluar tak terbendung. Tapi, tambahnya, bukankah begitulah kecenderungan absurditas? Tak terbendung. Dunia penuh dengan hal-hal absurd. Dunia itu absurd. Cerpenis muda Semarang itu mencontohkan, harapan—atau lebih tepatnya imajinasi—kita pada hukum yang ideal seperti terbentur pada kenyataan yang kita lihat di televisi. Mafia hukum, korupsi hakim, penyuapan. Absurditas ada dimana-mana.
Agung Hima mengutarakan hal lain. Seperti hidup dalam ketiadaan. “Aku itu merasa tidak ada,” katanya. Agung mengaku kerap kali merasa hidup itu hanya seperti itu saja. Dia membayangkan setelah mati, apakah masih ada Agung Hima? Pertanyaan itu masih saja menggema. Karena belum juga menemukan jawaban atasnya, agung melanjutkan hidup sekenanya. “Tidak punya harapan tapi tidak putus asa,” timpal Musyafak. Menanggapi pernyataan Agung Hima, Latree Manohara mengeluarkan celoteh khasnya, “Absurditas yang masih mencintai istrinya.”
Penyair Kurniawan Yunianto unjuk bicara. Selama manusia belum mampu menyelesaikan urusan dengan dirinya sendiri, manusia tak akan pernah mampu selesai dengan dunia. Agung mungkin sudah melewati tahapan ‘selesai dengan diri sendiri’. Mungkin. Mungkin juga yang diungkapkan KY merupakan kajian absurditas. Sebab, adakah manusia yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri? Purwono Nugroho Adhi melanjutkan dengan sebuah pertanyaan. Absurditas yang seperti apa yang sedang dibahas kali ini? Ipunk, panggilan akrab Purwono Nugroho Adhi, berpendapat bahwa absurditas dalam kajian filsafat berbeda dengan absurditas dalam kaitannya sebagai awal mula eksistensialisme. Absurditas—dalam kaitannya dengan eksistensialisme—mempunyai kecenderungan sebagai sebuah fase untuk menuju apa yang disebutnya sebagai eksistensialisme theology. Manusia perlu melewati absurditas untuk mencapai eksistensialisme theology. Absurditas bisa dianggap sebagai sebuah fase menemukan—walaupun absurditas pada dasarnya adalah nonmakna. Sebuah fase dark night of the soul.

Diskusi mengalir menuju ke falsafah jawa. KY mengungkapkan bahwa di dalam kitab suluh kemungkinan besar tidak mengenal istilah absurditas. Selain karena memang tidak ada kata dalam bahasa jawa yang bersinonimi dengan absurditas, juga karena pemikiran jawa sudah melewati fase itu. Banyak yang terkesan tidak masuk akal dalam pemikiran jawa, jika kita menelaahnya menggunakan logika saat ini. “Iya, kita contohkan falsafah urip mung mampir ngombe,” lanjut Ipunk. Orang jawa percaya hal itu, bagaimana bisa hidup hanya dianalogikan pada hal sesederhana mampir ngombe? Tapi, begitulah orang jawa. Orang jawa beranggapan ada yang menanti—yang lebih penting dari sekadar mampir ngombe—setelah hidup ini, begitu yang diungkapkan Ipunk.
Hidup ini memang begitu absurd. Seabsurd kegiatan diskusi di tengah-tengah kebisingan pentas musik underground. Diskusi tetap berjalan, pentas pun tetap berlangsung. Dua hal yang sangat tidak masuk akal jika dipadukan, tapi itulah yang terjadi minggu sore itu di Taman Budaya Raden Saleh. Manusia-manusia mempunyai rencana-rencana yang berbeda—yang mungkin bersinggungan atau bahkan bertabrakan. Tapi manusia-manusia tersebut hidup di dunia yang sama, di waktu yang itu juga. Ketika dua hal berbeda terjadi dalam satu waktu, saat itulah absurditas mengambil tempat.
Musyafak kembali bersuara, kali ini ia mengungkapkan alasannya menulis tentang absurditas adalah mengantarkan pada terminologi absurditas. Apa yang meski dilakukan dalam absurditas? Adakah pilihan bagi manusia? Menurut musyafak, Nietzsche menawarkan amor fati dan ecce homo dalam permasalahan absurditas ini. Tapi, bagaimanakah cara mencapai kondisi itu ? Musyafak menggelengkan kepala.
Suasana hening, semua orang seakan larut dalam gambaran absurditas yang ada di kepala masing-masing. Kemudian Haris Zona bersuara. Menurutnya, absurditas merupakan imbas dari modernitas yang kebablasan, yang berkecenderungan melahirkan eksistensialisme. Ada dua hal yang Haris tawarkan. Pertama adalah sinkronitas. Bagaimana kita bisa memahami kondisi-kondisi absurd sebagai sebuah kebetulan-yang-bukan-kebetulan? Yang kedua adalah awareness, kesadaran. Kesadaran ada dua, kesadaran sadar dan kesadaran tidak sadar. Bagaimana kita bisa memahami kedua kesadaran tersebut secara penuh? Haris mencontohkan, bagaimana kita mengerti dan memahami pesan yang muncul pada mimpi-mimpi kita? Apakah mimpi itu insight (wahyu) atau hanya mimpi bunga tidur?
Dan kerendahhatian yang perlu ditekankan. Rendah hati untuk selalu belajar, rendah hati untuk selalu mencari sampai menemukan. Haris menambahkan, konon suara tuhan itu datang kepada manusia dalam frekuensi yang sangat rendah. Manusia kadang terlalu ‘tersibukkan’ untuk mampu menangkap suara tuhan.
KY menyahuti. Obat panu itu bisa Kalpanax bisa juga adas pulowaras, katanya. “Untuk menyadari yang tidak disadari pun memiliki cara yang berbeda,” lanjutnya. Mungkin selain rendah hati, kesadaran manusia yang perlu ketenangan. KY mengibaratkan kita berusaha melihat dasar sungai yang airnya jenih tapi beriak. Kita membutuhkan kondisi air itu tenang. Baru kita bisa melihat dasarnya lebih jelas. Ketenangan itu saja dibutuhkan pada sungai berair jernih, apalagi pada yang berair keruh. Menyoal mimpi, KY mengutarakan dalam pemikiran jawa ada istilah puspotajem, yaitu mimpi yang wahyu. “Ada tiga jenis mimpi sebenarnya, tapi jika diungkap sekarang diskusi ini akan semakin kemana-mana,” lanjutnya sambil terkekeh.
Ya, semakin absurd. Absurditas semakin dikaji mana ujung pangkalnya akan menjadi semakin absurd. Janoary mengibaratkan absurditas itu sebuah sungai. Dan manusia harus masuk dengan penuh kesadaran ke dalam absurditas itu, tanpa berprasangka apapun. Toh, seperti gelondong kayu yang hanyut di sungai, manusia akan tetap menuju laut. Soal sampai di laut masih utuh atau tidak, tergantung kesadaran manusia itu sendiri ketika hanyut dalam arus sungai. “Kalau kita sadar kita sedang terhanyut dan berusaha mengendalikan keterhanyutan itu sekuat tenaga, paling-paling kayune mung boncel-boncel sithik pas tekan laut,” kelakar Janoary.
Sejauh sungai pastilah laut. Sejauh langkah hanyalah laut. ~Musyafak Timur Banua~


Posting Komentar