*) tulisan yang digunakan sebagai pengaya materi Diskusi Sastra Pojok Pendopo #19 Open Mind Community, 6 Februari 2011.
Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api
Mimpiku terburai di jendela, untung tidak pecah.
Tadi engkau mencintaiku. Punggung orang jadi kekasihku.
Kereta api tidak berhenti seperti mimpi.
Tidak ada mimpi di balik kelopak mata.
Gerbong-gerbong dalam tubuh sesak
Engkau masih perbaiki rel rusak
Siang ini orang-orangan sawah kesepian: ditinggal petani dan padi
Bocah memungut bongkah tanah kering.
Sebentar kereta api menghibur orang-orangan.
Aku lemparkan bongkah tanah ke jendela kereta api.
Terburai tapi tidak memecah.
Kereta itu terlalu panjang.
Pagar ladang tebu di seberang
Di luar gerah. Tidak ada irigasi di tubuhku.
Kereta api membawa pergi ladang tebu
Lalu terdengar bunyi peluit merintih.
Pare-Semarang, 2011
Keluar dari batas-batas definitif tentang apa itu ilmu dan ilmu pengetahuan, segala hal bisa menjadi ilmu sekaligus ilmu pengetahuan. Sebuah cahaya yang mencerahkan. Manusia yang selalu belajar seperti orang yang dalam kegelapan, mencari sumber cahaya. Dan, ia akan menemukan. Entah dari diri sendiri dan atau dari manusia lain.
Pembacaan puisi Guri Ridola ‘Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api’ layaknya sebuah kelas tempat manusia pembelajar menemukan ilmu. Guri sebagai guru, dan puisi sebagai ilmu. Puisi, dari sudut manapun pemaknaannya, pastilah mengandung sebuah ide. Areté, atau titik henti, adalah kondisi manusia menghentikan sejenak keliaran laju ide. Bukan serta merta menghentikan, tetapi di dalamnya juga ada penemuan makna yang lebih dalam dari ide itu. Proses kontemplasi.
Ada ide yang besar yang ingin dikatakan Guri. Seperti dalam salah satu barisnya, kereta tidak berhenti seperti mimpi. Kereta layaknya waktu, tak satupun manusia mampu menghentikan. Lain halnya dengan ide, mimpi-mimpi itu, manusia mempunyai kewenangan atas dirinya untuk sejenak berhenti, istirah dari keliaran ide. Berkontemplasi. Manusia—selain berkecenderungan merelakan diri pada laju ide—juga mempunyai semacam kekuatan untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu menjadi apapun, puisi misalnya.
Guri, dalam puisinya kali ini, terkesan berusaha menghentikan keliaran idenya tersebut, dalam sebuah arête—wujudnya adalah puisi sebagai hasil kontemplasi. Dalam usahanya menyelaraskan realitas yang terjadi di depan mata dan realitas yang ada dalam kepala, Guri berhenti. Ya, semacam berhenti untuk mencari arti, menemukan makna. Tetapi, seperti yang terjadi dalam setiap pencarian, ada kemungkinan terjebak dalam kebingungan.
Mimpiku terburai di jendela, untung tidak pecah, begitu bunyi di baris pertama. Tapi mengapa tidak pecah? Mengapa tidak meledak? Mengapa masih lembam, berayun dari satu sisi ke sisi lain, menciptakan ketaksaan. Sebenarnya, kebingungan sudah terbaca dalam pemilihan diksi dalam judul, Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api. Apakah Bocah yang melemparkan gerbong kereta api? Atau bocah yang melempari gerbong kereta api? Begitulah arête, kondisi yang dibutuhkan semua orang tapi belum semua orang yang mampu menjalaninya.
Tertransportasi
Arête bisa dimaknai juga sebagai proses mengenali kemudian menemukan keunggulan. Namun, banyak hal begitu multitafsir. Pencarian itu bisa saja berujung ketersesatan, tersesat karena terseret keliaran ide dalam kepala atau tersesat karena terseret godaan realitas di depan mata.. Guri terkesan lebih terseret oleh realitas di depan mata, dari masih memperbaiki rel kereta api tiba-tiba ia memandang orang-orangan sawah kesepian. Guri tertransportasi. Kondisi itu tidak hanya dapat ditangkap dari koherensi baris per baris, juga dalam keseluruhan puisi. Puisi itu sendiri menggambarkan kondisi tertransportasi. Perhatian seorang bocah yang terpusat pada kereta yang melaju dan melewatinya, lalu bocah itu melemparinya. Tertransportasi yang disadari, dan dijadikan puisi. Terseret, atau tertransportasi adalah kecenderungan arête yang biasanya dialami oleh yang belum mahir berhenti atau menghentikan.
Namun, masih terkait hal di atas, Guri menciptakan sebuah paradoks. Arête yang tak benar-benar berhenti akan menciptakan ke-tertransportasi-an. Namun, arête yang tak sempurna Guri kali ini mampu menghasilkan puisi. Kereta api pergi membawa ladang tebu, lalu terdengar bunyi peluit merintih. Tertinggal dan terseret. Tetapi masih bisa memuisikan. Lain kali, Guri, jangan tertinggal kereta api lagi, naiki.



Posting Komentar