Theoros Lahir Kembali Malam Itu

Notulensi Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12

Semarang, 18 Juli 2010
Beberapa orang berkumpul di salah satu pendopo Taman Budaya Raden Saleh sore itu, menunggu hujan reda. Menunggu petang. Sore yang masih gerimis dan Dian yang akhirnya datang. Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12 pun dimulai sesaat setelah petang, merayakan karya Dian “Untuk Kau”.

Untuk Kau
Jika memilih menunggu,
Segera bunuh diammu
Lama ia merenggut esokmu
Menyembunyikan tujuan pada jejak lalu

Usah terbenam sebelum senja
Waktu takkan mengaampunimu!
Matahari sudah meninggi
Kembalilah pada lakumu
Mengeja mimpi yang terlupa

Lepas pelukan sesal
Ia tak berbelas kasihan
Cepat kau raba tubuhmu
Hingga kau dapati luka
Sampai kau temui mula

Purwono Nugroho Adi yang biasa dipanggil Mas Ipunk mengawali diskusi. Dia menyatakan puisi penyair Dian membawa ingatannya kembali ke sebuah bentuk sastra kebijaksanaan tua Yudaisme, gulungan sastra “Kitab Megillot”. Kekhasan sastra Megillot adalah bagaimanapun baris perbaris diubah posisi, makna yang dibaca akan tetap. Mas Ipunk mencontohkan hal itu pada bait 1.
Menyembunyikan tujuan pada jejak lalu
lama ia merenggut esokmu
segera bunuh diammu
jika memilih menunggu

Sembari sesekali membenarkan letak kacamata, Mas Ipunk melanjutkan pembacaannya. Inner time sangat kentara di dalam puisi, banyak penanda yang merujuk ke sana; menunggu, esokmu, jejak lalu, dan mula. Ada realitas yang terselubung di dalamnya. Realitas yang dihayati adalah realitas palsu dan memunculkan dua fenomena, disorted dan dislocated. Disorted, dalam penggambaran Mas Ipunk, layaknya sebuah permainan Russian Roulette, manusia tidak pernah tahu pasti apa yang akan datang dan kapan itu datang. Manusia seakan-akan dipermainkan oleh realitas. Realitas adalah garis abu-abu antara ilusi dan iluminasi, ketakniscayaan dan keniscayaan. Sedangkan dalam fenomena dislocated, manusia selalu mengalami ketercerabutan identitas dalam realitas. Manusia mencari-cari diri sambil terus berusaha membuka tabir terselubung dari realitas itu. Mungkin karena itulah, kata agony yang berarti penderitaan lahir dari kata agon yang berarti perjuangan.

Galih, lelaki berambut keriting mirip vokalis salah satu band kenamaan, menyanggah konsep tentang agon menjadi agony. Menurut pembacaannya, puisi di atas menggambarkan sebuah agony yang akhirnya disadari (atau terpaksa diterima) sebagai sebuah agon. Penderitaan yang dianggap sebagai perjuangan. Dia juga menangkap tidak adanya clue dalam tiap baris puisi yang menjelaskan apa yang sebenarnya sedang diceritakan.

Mas Ipunk menambahkan aku-penulis dalam puisi ini bertindak sebagai theoros, yang pada jaman Yunani merupakan sebutan untuk seorang pengamat yang (hanya) hadir dalam sebuah festival. Diam dan mengamati. Jika menggabungkan pendapat Gadamer dan Heiddeger, theoros bisa berarti sebagai kehadiran yang terlibat dalam realitas, berusaha menemukan Aletheia—kebenaran yang selalu dicari-cari. Judul “Untuk Kau” menyiratkan kau yang bukan satu melainkan kau yang banyak. Kau yang pembaca. Kau yang seluruh manusia. Seorang theoros lahir kembali malam itu.

Dian duduk bersandar di salah satu tiang pendopo. Di wajahnya tergambar semacam keseriusan merayakan puisi. Dengan pena dan kertas di tangannya, dia mencatat hal-hal yang ia dengar. Terkesan dia tidak ingin melewatkan tiap ilmu yang mengambang di lokasi diskusi malam itu. Termasuk pembacaan Agung Hima. Pria yang dalam kesehariannya sering terlihat memakai celana pendek itu mengawali pembacaan dengan memendekkan puisi Dian.
Jika memilih menunggu,
Sampailah menemu mula

Puisi tersebut akan lebih padat dan kuat. Toh, pesan yang ingin dikomunikasikan tidak berubah. Begitu pendapat Mas Agung yang kerap menyatakan semua puisi membawa spiritual assessment untuk pembaca. Dan, ketika ia mencoba menangkap spiritual assessment dari karya Dian yang didiskusikan, dia menemukan dirinya selalu berada dalam permulaan setiap kali melakukan hal yang belum ia selesaikan. Selalu ada awal dan akhir dalam hidup yang penuh kesiasiaan ini. Jika kita belum menyelesaikan sesuatu, berarti kita masih ada di titik mula.

Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12 yang merupakan agenda rutin Open Mind Community malam itu sesekali diliputi kelengangan. Bukan karena dingin malam sehabis hujan sore, melainkan puisi Dian yang mengajak semua merenung, merayakan. Seperti pembacaan sekaligus perayaan yang dilakukan penyair muda Semarang, Galih Pandu Adi. Pandu menyatakan puisi Dian merupakan puisi perenungan, sarat muatan filosofis. Puisi yang membicarakan aku-kau-manusia dan waktu. Puisi yang menurut Pandu ditulis dengan penuh kesadaran untuk menyadarkan manusia, aku dan kau tentang waktu yang takkan mengampuni. Pandu melanjutkan. Puisi ini tidak terlalu imaginatif tetapi tetap kuat dengan kata-kata sederhana yang menyusunnya, walau masih terkesan menggurui.

Musyafak Timur Banua, mahasiswa yang juga penyair muda Semarang sekaligus berlaku sampingan sebagi filsuf atau entah sebaliknya, ikut bergembira dalam perayaan puisi Dian. Syafak mengawali pembacaannya dengan mengafirmasi pendapat Galih, bahwa dalam tubuh puisi Dian ada kekaburan clue apa yang ingin diceritakan. Peletakan baris perbaris terkesan serampangan, seperti puisi ini dibuat dengan waktu yang cepat. Beberapa baris terkesan tidak logis, tidak sesuai urutan pada puisi yang mengalir maju. Pada bait 2 baris pertama, penulis membicarakan senja. Sedangkan pada bait yang sama baris ke tiga, penulis malah kembali pada siang hari dengan matahari mulai meninggi.

Dingin malam telah mendinginkan seteko teh hangat yang sudah setengah kosong. Namun, diskusi tetap menemukan perayaan yang hangat diantara penyair, puisi, dan pembaca. Sesekali kelakar khas Open Mind Community terlontar di tengah diskusi, membuat pendopo itu horeg oleh tawa tiap orang. Selingan, setelahnya diskusi berlanjut. Giliran Kurniawan Yunianto mengungkapkan pendapatnya. Dia mengambil satu baris dari tiap bait lalu membacakannya,
Jika memilih menunggu,
Waktu takkan mengampunimu !
Sampai kau temui mula
Dia berpendapat itulah inti dari puisi Dian. Berulang kali penyair berambut panjang itu membaca, baris-baris itulah yang berasa kuat.

Perayaan akan kurang hangat tanpa suara dari penyair itu sendiri. Dian menyibakkan rambut ke belakang telinga, lalu mulai menceritakan proses kreatif puisi “Untuk Kau”. Penyair ingin menyampaikan pesan—dalam bentuk puisi—kepada seorang teman tentang ketakgunaan menyesali masa lalu. Masa lalu bukan alasan untuk berhenti. Diam menunggu tidak apa jika itu menguatkan dalam menghadapi masa depan. Diam menunggu tidak apa jika itu tidak berlama-lama. Sebuah pesan berisi nasihat untuk melangkah.

Gema Yudha mengangguk. Pembacaan yang dirasakannya pada puisi Dian mungkin serupa. Dia mengungkapkan bahwa setelah membaca puisi Dian dia merasa dinasihati agar segera menyelesaikan apa-apa yang tertunda. Dia merasa seperti ada yang membisikkan “Jangan menyia-nyiakan waktu” kepadanya.

Saya mengangguki anggukan Gema. Saya bergema atas pembacaannya. Yang dikatakan Gema tidak jauh berbeda dari apa yang saya tangkap. Saya merasakan sebuah nasihat keras tentang (waktu) hidup yang keras. Bagaimanapun manusia berusaha mengejar waktu, manusia akan selalu tertinggal. Waktu yang tersedia sebaiknya digunakan sebaik-baiknya. Lalu, saya mengangguki puisi Dian dengan kalimat “Selesaikan segera masa lalu, masa depan tak pernah menunggu.”

Kelengangan kembali terjadi. Puisi “Untuk Kau” seakan merebut ruang renung di kepala setiap orang. Waktu takkan mengampunimu. Setiap detik manusia hanya mempunyai datum—sebuah titik yang tak bisa diulangi atau point of no return—untuk dimanfaatkan.


*berdasarkan pencatatan notulen yang mungkin belum sempurna tentang jalannya diskusi.

No Response to "Theoros Lahir Kembali Malam Itu"

Posting Komentar