Mati Saat Masih Bernapas

Setiap detik hidup manusia semestinya digunakan untuk menuliskan sejarahnya sendiri.

Menulislah maka kau tidak akan pernah mati. Ah, mengapa menulis dihubungkan dengan kematian ? Apakah setiap hal yang dilakukan manusia itu sekadar untuk bekal mati ? Mengapa orang begitu takut mati. Padahal mati itu maknanya beragam, setiap orang bebas menafsirkan bagaimana. Menurutku, jika manusia terlalu takut pada kematian saat dia hidup, itulah kematian dia yang sebenarnya. Aku tidak ingin mati saat aku masih bernapas.

Memang kalimat pertama tadi dapat dimaknai lain. Menulislah agar kamu tetap hidup. Lebih tenteram menurut saya saat kita memilih kata hidup daripada kata mati. Memilih bagaimana hidup daripada memilih bagaimana mati. Menulis adalah menjadi hidup. Bisa jadi, hidup manusia adalah untuk menulis. Ya, menulis apa saja. Toh, makna menulis itu beragam. Jikapun menulis selalu lekat dengan bahasa, bahasapun beragam. Bukan melulu kata-kata. Setiap detik hidup manusia semestinya digunakan untuk menuliskan sejarahnya sendiri.

Bagaimanapun saya sudah menjalani hidup ini, bagaimanapun saya menuliskan sejarah saya sendiri, saya belum berani menganggap diri penulis. Alih-alih mengaku sebagai penulis yang kacrut, aku memilih tahu diri dan memilih sebutan pembaca yang kacrut. Aku masih belajar membaca. Membaca apapun, kata ataupun suasana. Awal dari menulis adalah membaca. Jika menulis adalah hakikat manusia sebenarnya, lain halnya dengan membaca. Membaca itu perjuangan hidup sebenarnya. Membaca itu butuh tenaga. Membaca itu bisa dikatakan pengorbanan yang harus dilakukan manusia untuk bisa hidup. Dan setiap pengorbanan akan menemui kelegaan.

Namun, pengorbanan tidak harus perih. Jean-Paul Sartre menulis sebuah memoir yang dianggap sebagai mahakaryanya, Les Mots. Dalam memoir yang sudah dibukukan itu, Sartre menuliskan dua bab. Pertama membaca, lalu menulis. Masa muda adalah masa membaca. Itu yang saya tangkap darinya. Sartre kecil begitu bahagia bersama kakeknya, dia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan membaca. Dia senang membiarkan imajinasinya bermain, memikirkan banyak hal. « Pengorbanan » Sartre untuk menjadi penulis tidak terkesan perih, bagi saya.

Membaca sebelum menulis adalah hal yang menyenangkan. Namun, yang lebih menyenangkan adalah ketika saya sedang membaca—berada di tengah kata-kata atau di tengah suasana, saya menemu diri ingin menulis. Ada semacam gerakan ke arah luar. Ada semacam tenaga yang memaksa untuk diekspresikan. Memang itu tidak jarang terjadi, saya memang pembaca yang kacrut. Jumlah buku yang saya baca belum banyak, jumlah suasana yang saya tangkap dan renungkan juga masih belum cukup. Bagaimanapun juga, gejolak itu memaksa diledakkan. Yang anda baca inilah hasil ledakan gejolak itu. Ya, saya memilih meledakkan gejolak itu melalui kata-kata. Bagi saya, itu yang paling menyenangkan, sesekali memang menantang.

Roland Barthes terkenal dengan Dead of The Author-nya. Ketika tulisan terlahir, maka pengarang telah tiada. Dia digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan tulisannya. Pandangan saya yang masih kacrut ini tidak seperti itu. Menurut saya, pengarang lahir kembali setelah menulis. Pengarang reinkarnasi menjadi pembaca kembali. Pengarang harus membaca lagi, apalagi tulisannya sendiri.

***

Sulit memang kembali memasukkan serpihan ledakan kata-kata saya sendiri untuk dibaca lagi, paling tidak itu yang saya rasakan. Untuk apa saya mengkerut lagi setelah merasakan sensasi ledakan ? Untuk merasakan ledakan lain yang lebih hebat, lebih menyenangkan. Oleh karena itu, saya menikmati gaya yang menekan saya untuk mengkerut, kembali ke dalam, untuk membaca. Gaya itu adalah pendapat pembaca-pembaca lain. Gaya itu berupa diskusi. Juga apresiasi.

Saya sangat menikmati keadaan ketika tulisan saya dibahas, didiskusikan. Diapresiasi. Bukan untuk merasakan belaian afirmasi, melainkan sayatan negasi. Menurut saya, belaian afirmasi selalu membawa kantuk, seringkali membuat saya tertidur. Dan, sayatan negasi membangunkan saya pada sebuah pagi yang menyegarkan dan menantang. Setiap orang butuh tidur, tapi setiap orang juga harus segera bangun untuk menjalani hidup. Dan, memang begitulah hidup.

Dalam menjalani hidup, saya mencoba membaca kritik. Ledakan yang saya rasa menyenangkan kadang hanya berupa percikan ketika dirasakan pembaca lain. Mengetahui ledakan adalah percikan membuat saya bersemangat untuk membuat ledakan yang lebih hebat. Mungkin nanti jika saya beruntung, saya bisa menemukan setiap orang merasakan ledakan kata-kata saya sebagai ledakan, bukan percikan. Tapi, itu bukan alasan utama saya mengekspesikan ledakan. Saya hanya tidak ingin melewatkan setiap ledakan yang akan menuliskan sejarah saya.

Hakikat manusia adalah menuliskan sejarahnya sendiri. Dan, bagi saya, setiap tulisan itu ledakan. Pengakuan orang lain bahwa tulisan itu adalah ledakan merupakan ledakan yang mengiringi. Bagaimanapun, menikmati ledakan adalah niscaya. Dan, saya tidak ingin berhenti menuliskan sejarah hidup saya. Saya juga tidak ingin mati saat masih bernapas.


* catatan pembaca kacrut yang mencoba menulis.

No Response to "Mati Saat Masih Bernapas"

Posting Komentar