Tiada Mata Tertawa

Sore kerapkali membawa imaji tentang purnama. Bulan yang terlalu matang, dosa jika hanya dipandang. Atas namanama yang lebih tak pasti dari kata, kau dan aku berjanji terbang. Sekadar berpelukan di atas dadanya. Kita melayang.

Memang, janji tak lebih tipis dari garis antara bahagia dan kecewa. Tapi, kita berpegang tangan, bukan? Kita menautkan mata.

Dalam dua yang satu, di ketinggian itu, angin terlalu riwis. Entah karena apa kita selalu memulai gerimis tipis. Puting susumu dan bibirku kadang sadis. Meretas jiwa lalu menghempaskannya ke awan lepas. Kita terikat bebas.

Kelam malam, ketika cahaya tertelan, kau dan aku tersesat. Kata-kata membahana, menanyakan di sudut mana kita akan bersenggama. Bersamasama menyetubuhi malam di langit yang puncak.

Walau dalam pekat semua tampak, ketersesatan yang telak tak akan mengajak matamata tertawa.



Juni, 2010

No Response to "Tiada Mata Tertawa"

Posting Komentar