Dari Topeng ke Topeng

Perjalanan seorang diri mencari jati diri.

Oleh Janoary M. Wibowo

Tahukah anda persamaan Si Buruk Rupa Phantom of the Opera dan Nabi Yusuf yang terkenal karena ketampanannya itu? Mereka sama-sama manusia yang memakai topeng. Phantom of the Opera memakai topeng untuk menutupi wajahnya yang penuh dengan luka bakar. Meskipun ia memiliki talenta dalam kreasi musik opera yang luar biasa, ia harus menyembunyikan wajahnya di balik topeng. Topeng tidak hanya untuk menutupi keburukan, tetapi juga kebaikan. Konon, Nabi Yusuf-lah yang mewariskan tradisi menutup wajah dengan cat atau riasan kosmetik kepada orang Mesir. Ia melakukannya demi menyembunyikan ketampanannya yang konon pula mampu membuat para perempuan mengiris jari mereka sendiri.

Memakai topeng sudah menjadi tradisi sejak zaman purba. Para manusia purba menutupi wajah mereka dengan cat, tanah, atau topeng dari kayu. Ada pula yang memakai aksesoris bagian tubuh binatang. Ksatria tertinggi bangsa Maya memakai kulit jaguar sebagai jubah dan kepala jaguar sebagai mahkota. Lantas, untuk apa tradisi memakai topeng itu dilakukan? Pada dasarnya, semua mempunyai alasan yang sama, sebuah perubahan identitas; menjadi lebih berani di pertempuran, menguatkan peran di sebuah drama, atau menutupi sesuatu yang dianggap kurang layak pada diri sendiri.

Dunia memang panggung sandiwara, tempat kita tidak menampakkan wajah yang sebenarnya. Ada banyak topeng yang kita kenakan saat berinteraksi dalam keseharian. Topeng-topeng yang berfungsi menjaga relasi kita dengan orang lain. Tanpa topeng yang sesuai dengan tuntutan kebanyakan orang, kita akan dikucilkan dalam kerumunan. Namun, dengan topeng yang terus menerus kita pakai, kita semakin jauh dari diri sendiri. Kita semakin tidak mengenali siapa yang ada di balik topeng.

Dalam Spiderman 2, Peter Parker menemukan kehidupannya berantakan. Dia sering ditegur dosennya karena terlambat kuliah. Kerap kali mendapat omelan dari bos di tempat ia bekerja karena mengantarkan pizza lebih dari 20 menit. Namun, ia tidak mungkin menyatakan kepada dosen dan bosnya bahwa dia adalah Spiderman, yang terlalu sibuk menjadi pahlawan dan menyelamatkan kota untuk sekadar menjadi mahasiswa biasa ataupun tukang antar pizza. Peter Parker adalah topeng bagi Spiderman. Pun, Spiderman juga harus menutupi manusia di balik kostum merah biru itu, Peter Parker. Sebab, jika musuh-musuh Spiderman mengetahui manusia di balik kostum laba-laba itu adalah Peter Parker, orang-orang terdekat Peter akan mendapat bahaya—keadaan Marie-Jane dan Bibi May yang menemukan diri mereka dalam bahaya hanya bumbu melankolia khas Hollywood. Dalam hal ini, Spiderman menjadi topeng bagi Peter Parker. Lantas, siapa yang bukan topeng di film Spiderman 2? Siapa sebenarnya yang diperankan Tobbie McGuirre di Spiderman 2, Peter Parker atau Spiderman? Siapa pula Tobbie McGuirre itu?


Persona dan ketakutan
Personality dalam Bahasa Indonesia mempunyai padanan makna pada kata kepribadian. Kata tersebut berasal dari kata persona yang berarti topeng. Artinya, kepribadian manusia yang nampak sebenarnya hanyalah topeng belaka. Atau bisa kita katakan, kepribadian itu tidak pernah ada. Yang ada hanyalah persona-persona yang ditampilkan sesuai kebutuhan; seperti apa kita membawa diri di tengah masyarakat, bagaimana kita berkompromi dengan ekspektasi lingkungan sosial. Persona bisa berupa jabatan, pakaian yang dikenakan, perilaku atau kebiasaan yang dikerjakan, atau perkataan yang diucapkan.

Dalam kaitannya dengan kepribadian, setiap orang adalah seorang yang ketakutan di tengah kawanannya sendiri. Ketakutan akan terungkapnya sebuah sifat yang tidak sesuai tempat dan menjadi pribadi yang tidak diterima di masyarakat. Setiap orang mempunyai ketakutan salah bersikap di kerumunan; menyempatkan diri memilih baju mana yang paling cocok dengan pesta yang akan dihadiri, memilih diam dalam sebuah forum karena takut terlihat bodoh jika salah mengungkapkan pendapat. Ekspresi manusia dibatasi oleh topeng-topeng yang diciptakannya sendiri.

Fenomena ini akan menjadi semakin membingungkan saat kita memasuki ruang maya, facebook khususnya. Dalam ruang maya dan dalam facebook, setiap orang merasa bebas berekspresi tanpa adanya ketakutan untuk salah bersikap atau salah mengucap. Padahal, kita sama-sama tahu dan menyebut facebook sebagai jejaring sosial. Setiap orang terhubung dengan orang lain. Sebuah ruang sosial baru terbentuk, yang sangat berbeda dari ruang sosial yang pernah ada. Ruang sosial ini seakan tanpa batas, longgar tuntutan, vulgar, tidak terbendung, dan dianggap bebas—tidak ada siapapun selain kita dan layar komputer di depan kita.

Namun, kebebasan berekspresi yang ada akibat perasaan tidak ada batas dan tidak ada tuntutan yang mengikat, yang disediakan ruang maya seperti facebook tidak serta merta membawa kita ke keadaan diri kita yang sebenarnya. Kita hanya menciptakan topeng baru di ruang maya. Bayangkan jika kesekian ratus atau bahkan ribuan teman yang ada di facebook berkumpul di sebuah gedung dan anda berdiri di sebuah podium dengan mikrofon di depan anda, lalu anda harus mengatakan hal-hal seperti yang anda katakan di facebook; “Apa salahku hingga tega-teganya kau menyakitiku seperti ini? Aku masih mencintaimu”, “Bangun kesiangan, terpaksa deh kuliah tanpa mandi. Xixixixi.”

Setelah dibingungkan menemukan diri sendiri di ruang nyata, muncul ruang maya yang membawa fenomena penciptaan topeng masal. Kita semakin tercerabut dari diri kita sebenarnya. Pernyataan-pernyataan di atas hanya semakin menegaskan bahwa kita ini tidak mengenal diri kita. Siapa sebenarnya Agung Hima? Siapa pula Mata Kita? Lantas, saat belum cukup mengenal Muqsith Ary W, sudah muncul lagi Janoary M. Wibowo? Kita hampir tak pernah selesai dengan diri kita, apalagi dunia. Ah, homo viator.

No Response to "Dari Topeng ke Topeng"

Posting Komentar