Dari setengah batang yang masih setia pada api, kamarku terlihat samar. Di antara buku-buku yang berserak di atas karpet biru, kubayangkan isi kepalaku merah layu di jalan berbatu. Ketakutan menemu bentuk pada hati remuk. Kesepian menjadi puncak segala sajak.
Tapi aku tanpa kata. Aku lupa cara. Aku lupa dimana nyali. Aku hanya membohongi diri.
Ingin kuhentikan waktu, tapi kejujuran itu siksa yang nyata. Dunia adalah pemaksa. Aku bocah paling keras kepala. Kini, aku benar-benar tersesatkan oleh diriku sendiri.
Dari setengah batang yang telah mati, kamarku makin gelap. Jalan berbatu itu makin dekat. Aku ingin kembali, memelukmu dan melepas sesak dalam isak, "Ibu, tamparlah aku. Tapi ajari anakmu ini berjalan lagi."


Posting Komentar