Tulisan (setengah fiksi) yang kacau
Lampu padam lagi. Lima orang berkumpul di depan kantor Jaringan Pemuda Pemberantas Mafia (JP2M), diantara redup pendar cahaya lilin. Harry, Zulfa, Rohman, Irfan, dan Faris memang tak berjanji bertemu malam itu. Tapi, sepertinya takdir telah mempertemukan mereka. Ya, mungkin begitulah kerja takdir. Terjadi tanpa memberikan tanda jelas mengapa harus terjadi.
Lampu masih padam. Lilin juga telah habis. Hanya layar laptop Rohman yang menerangi. Tiba-tiba handphone Rohman menyala, “Widy ngajak nongkrong,” katanya sembari wajahnya tetap menatap ke layar handphone.
“Sekalian makan malam,” sahut Irfan.
“Sekalian nyari cahaya di padam malam.” seru Harry, bersemangat.
“Widy minta dijemput, aku saja. Kita langsung bertemu di Angkringan Ratna Cute Gg. Jengkol,” Rohman men-shutdown laptopnya. Satu-satunya penerangan pun hilang. Gelap. Rohman bergegas, menghilang menembus gelap.
Di tangan Irfan, rokok masih menyala. Juga di tangan Faris. Harry berdiri, berjalan menuju ke kamar mandi. Sekadar cuci muka, menyegarkan wajah setelah seharian bekerja di depan laptop. Sesaat kemudian, Harry kembali dari kamar mandi. Rokok di tangan Irfan dan Faris juga telah dicecak di asbak. Mereka berangkat ke angkringan. Irfan berboncengan dengan Faris, Harry dengan Zulfa. Memang begitulah biasanya mereka berpasangan. Zulfa tak berniat bergabung. Ada beberapa hal yang perlu ia lakukan, katanya. Ia akan langsung pulang ke rumah setelah mengantar Harry ke angkringan.
Harry mengambil tempat di samping Widy yang sudah lebih dulu tiba di angkringan. Dua nasi kucing semur bandeng dan dua tahu isi tergeletak pasrah di depannya. Menunggu dilahap. Irfan mungkin kelaparan, karena tak biasanya dia makan dua porsi nasi kucing. Ketika Harry dan Irfan menikmati ritual mengisi perut, Widy telah terlebih dulu berbincang dengan Rohman. Karbohidrat, pembelahan sel, obesitas, dan beberapa hal yang mungkin aku lewatkan masuk ke obrolan mereka. Bahkan fenomena sosial terbaru, pernikahan Komar dan Riska. Ya, gencar sekali. Riska ternyata laki-laki. Seru. Widy memang suka sekali bercerita.
***
Kami berenam memang jarang bertemu. Setiap kali bertemu, kami membicarakan apapun. Mengalir. Riska yang laki-laki, anak yang setelah dilahirkan sudah bisa mengaji, Autisme, Indigo, dan apapun yang melintas di kepala diperbincangkan. Seperti nostalgia, kami tak peduli apa yang kami bincangkan. Saling bercerita, saling tertawa. Kami sudah bahagia.
Dan kebahagiaan itu serasa bertambah ketika Amir datang. Dengan gaya berpakaian yang cuek; kaos oblong, celana pendek, topi, dan tas ransel, Amir mengambil tempat di antara Harry dan Widy.
“Kau semakin sejahtera ya, Mir?” kelakar Harry, sembari mengelus perut Amir yang semakin membuncit. Kembali, tawa meledak diantara kami. Menghentikan sejenak obrolan yang aku tak ingat sudah sampai mana. Mungkin juga masih di tempatnya.
“Apakah bisa dikatakan gangguan jiwa, saat seseorang selalu merespon ucapan orang lain dengan defense mechanism? Bayangkan saja, seseorang yang menerima pujian sebagai ejekan, saran sebagai perintah?” Dengan rokok di sela-sela jarinya, Faris mencoba melontarkan hal untuk diperbincangkan.
“Memangnya ada orang yang seperti itu?” tanya Widy.
“Tentu ada, Tuhan kan Maha Kreatif saat menciptakan alam semesta,” tukas Harry, masih dengan tawa yang tersisa di raut wajahnya.
Faris melanjutkan ceritanya. Dia menjelaskan bahwa seseorang yang dimaksud itu adalah adiknya sendiri, masih bersekolah tingkat 9. Suatu hari ketika adiknya tersebut mencuci motornya, Faris pernah bercanda dengan berkata, “Tumben nyuci motor.” Tiba-tiba adiknya menendang ember lalu menghentikan kegiatan mencuci motornya. Faris merasa aneh. Sebab, sebenarnya Faris tidak bermaksud membuat marah.
“Aku hampir setiap hari menghadapi orang seperti itu,” kata Harry. “Setiap kali ada hal yang mengganggu emosi orang itu, dia meledak kepada siapapun. Masalah kecil di kantor bisa membuat dia menggila di rumah. Mengerikan.” lanjutnya.
“Orang labil?” tanya Widy.
“Bisa dikatakan seperti itu,” Amir mulai berbicara. Memang beberapa tahun terakhir Amir gemar mempelajari psikologi, termasuk kepribadian seseorang. Entah apa yang membuatnya gemar mempelajarinya.
“Dalam memahami kepribadian seseorang, kita tak bisa melepaskan diri dari faktor latar belakang seseorang tersebut. Kondisi sosiokulturalnya, lingkungan tempat dia tumbuh, juga mungkin pola didik dalam keluarganya. Keadaan emosi seperti itu memang wajar terjadi pada remaja. Mereka masih dalam masa perkembangan menuju kedewasaan.” jelas Amir. Selain semakin sejahtera, Amir ternyata makin cerdas, pikirku.
“Tapi itu bukan gangguan kejiwaan, kan?” tanya Faris, mengkhawatirkan keadaan adiknya.
“Itu wajar di usia adikmu. Bisa ditangani dengan memodifikasi komunikasi. Memperhalus kata-kata, adalah salah satu cara. Juga bersabar ketika berkomunikasi dengan seseorang seperti itu.” lanjut Amir. Semakin hebat saja temanku yang satu ini, pikirku.
***
Lampu tak padam lagi. Kami bertujuh masih saja larut dalam perbincangan. Semakin malam, pembicaraan semakin kemana-mana. Atau mungkin masih saja di tempatnya.
“Aku masih beranggapan bahwa dorongan seksual pada laki-laki itu lebih besar daripada perempuan,” kata Widy, mengajak berbincang tentang seksualitas.
“Dorongan seksual itu sama saja pada siapa saja. Misalnya, segelas es teh ini. Akan tetap menjadi segelas es teh, entah diminum Rohman atau diminum kamu.” tukas Harry, menanggapi.
“Tapi laki-laki lebih cepat melampiaskan dorongan seksual daripada perempuan,” kelit Widy, seperti tak terima anggapannya coba dipatahkan oleh Harry.
“Aksi sama belum tentu menghasilkan reaksi yang sama. Setiap orang punya cara sendiri untuk bereaksi pada ‘aksi’ dorongan seksual,” debat Harry.
“Tapi laki-laki sering onani, perempuan jarang marturbasi,” lanjut Widy, masih belum menyerah. Mungkin karena menjadi satu-satunya perempuan malam itu, dia merasa harus membela kaumnya.
“Kata siapa? Jangan menuduh gitu donk,” Irfan dan Harry merasa tidak nyaman diasumsikan sering onani.
“Masturbasi itu berasal dari dua kata. Pertama adalah main, yang berarti tangan. Yang kedua aku lupa kata tepatnya, yang kuingat kata itu juga merupakan kata asal dari turbulence, semacam bergerak-gerak. Jadi, masturbasi bisa berarti apapun yang menggerak-gerakkan tangan. Pada perkembangannya, memang marturbasi hanya diasosiasikan dengan seksualitas. Tapi, istilah masturbasi itu untuk laki-laki dan perempuan.” Harry mencoba menjelaskan tentang etimologi masturbasi; mencoba keluar dari bahasan laki-laki dan perempuan. Pembahasan tentang laki-laki dan perempuan yang dilakukan laki-laki dan perempuan akan menjadi perdebatan tak berujung. Begitu menurutnya.
“Wah, bahasan mulai panas. Aku nggak ngerti banyak tentang ini. Aku pamit saja. Ada beberapa berkas yang harus selesai dan diprint malam ini, buat meeting besok pagi.” Amir berkelakar, memotong perbincangan. Berpamitan.
“Kau berbicara sesuai pengalaman ya?” tanya Rohman kepada Harry, melempar candaan.
Kami bertujuh tertawa. Amir sudah beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba Rohman juga berdiri. “Aku sekalian pamit. Baru saja rekanku sms, ada hal urgent terjadi di proyek kami. Harus diselesaikan mala mini.” kata Rohman.
“Jadi, obrolan kita rampung?” tanya Faris, kepada siapapun.
“Iya, kan aku bareng Rohman,” jawab Widy, sembari memakai jaketnya.
“Tidak, harus berlanjut,” sanggah Rohman. “Tapi kali lain,” lanjutnya.
Kami bertujuh akhirnya memutuskan untuk mengakhiri nostalgia. Amir harus menyelesaikan berkas dan mengeprint untuk meeting di kantornya besok. Rohman harus menemui rekannya. Widy membonceng Rohman. Irfan dan Faris juga memutuskan untuk pulang ke kontrakan, istirahat setelah seharian bekerja. Harry, yang tadi diantar Zulfa, berjalan kaki ke warnet terdekat. Dia ingin menyapa teman-temannya di facebook. Aku? Aku belum memutuskan akan kemana. Mungkin akan ke tempatku. Meracau sendirian. Galau. Tidak kacau.
April 2011
Lampu padam lagi. Lima orang berkumpul di depan kantor Jaringan Pemuda Pemberantas Mafia (JP2M), diantara redup pendar cahaya lilin. Harry, Zulfa, Rohman, Irfan, dan Faris memang tak berjanji bertemu malam itu. Tapi, sepertinya takdir telah mempertemukan mereka. Ya, mungkin begitulah kerja takdir. Terjadi tanpa memberikan tanda jelas mengapa harus terjadi.
Lampu masih padam. Lilin juga telah habis. Hanya layar laptop Rohman yang menerangi. Tiba-tiba handphone Rohman menyala, “Widy ngajak nongkrong,” katanya sembari wajahnya tetap menatap ke layar handphone.
“Sekalian makan malam,” sahut Irfan.
“Sekalian nyari cahaya di padam malam.” seru Harry, bersemangat.
“Widy minta dijemput, aku saja. Kita langsung bertemu di Angkringan Ratna Cute Gg. Jengkol,” Rohman men-shutdown laptopnya. Satu-satunya penerangan pun hilang. Gelap. Rohman bergegas, menghilang menembus gelap.
Di tangan Irfan, rokok masih menyala. Juga di tangan Faris. Harry berdiri, berjalan menuju ke kamar mandi. Sekadar cuci muka, menyegarkan wajah setelah seharian bekerja di depan laptop. Sesaat kemudian, Harry kembali dari kamar mandi. Rokok di tangan Irfan dan Faris juga telah dicecak di asbak. Mereka berangkat ke angkringan. Irfan berboncengan dengan Faris, Harry dengan Zulfa. Memang begitulah biasanya mereka berpasangan. Zulfa tak berniat bergabung. Ada beberapa hal yang perlu ia lakukan, katanya. Ia akan langsung pulang ke rumah setelah mengantar Harry ke angkringan.
Harry mengambil tempat di samping Widy yang sudah lebih dulu tiba di angkringan. Dua nasi kucing semur bandeng dan dua tahu isi tergeletak pasrah di depannya. Menunggu dilahap. Irfan mungkin kelaparan, karena tak biasanya dia makan dua porsi nasi kucing. Ketika Harry dan Irfan menikmati ritual mengisi perut, Widy telah terlebih dulu berbincang dengan Rohman. Karbohidrat, pembelahan sel, obesitas, dan beberapa hal yang mungkin aku lewatkan masuk ke obrolan mereka. Bahkan fenomena sosial terbaru, pernikahan Komar dan Riska. Ya, gencar sekali. Riska ternyata laki-laki. Seru. Widy memang suka sekali bercerita.
***
Kami berenam memang jarang bertemu. Setiap kali bertemu, kami membicarakan apapun. Mengalir. Riska yang laki-laki, anak yang setelah dilahirkan sudah bisa mengaji, Autisme, Indigo, dan apapun yang melintas di kepala diperbincangkan. Seperti nostalgia, kami tak peduli apa yang kami bincangkan. Saling bercerita, saling tertawa. Kami sudah bahagia.
Dan kebahagiaan itu serasa bertambah ketika Amir datang. Dengan gaya berpakaian yang cuek; kaos oblong, celana pendek, topi, dan tas ransel, Amir mengambil tempat di antara Harry dan Widy.
“Kau semakin sejahtera ya, Mir?” kelakar Harry, sembari mengelus perut Amir yang semakin membuncit. Kembali, tawa meledak diantara kami. Menghentikan sejenak obrolan yang aku tak ingat sudah sampai mana. Mungkin juga masih di tempatnya.
“Apakah bisa dikatakan gangguan jiwa, saat seseorang selalu merespon ucapan orang lain dengan defense mechanism? Bayangkan saja, seseorang yang menerima pujian sebagai ejekan, saran sebagai perintah?” Dengan rokok di sela-sela jarinya, Faris mencoba melontarkan hal untuk diperbincangkan.
“Memangnya ada orang yang seperti itu?” tanya Widy.
“Tentu ada, Tuhan kan Maha Kreatif saat menciptakan alam semesta,” tukas Harry, masih dengan tawa yang tersisa di raut wajahnya.
Faris melanjutkan ceritanya. Dia menjelaskan bahwa seseorang yang dimaksud itu adalah adiknya sendiri, masih bersekolah tingkat 9. Suatu hari ketika adiknya tersebut mencuci motornya, Faris pernah bercanda dengan berkata, “Tumben nyuci motor.” Tiba-tiba adiknya menendang ember lalu menghentikan kegiatan mencuci motornya. Faris merasa aneh. Sebab, sebenarnya Faris tidak bermaksud membuat marah.
“Aku hampir setiap hari menghadapi orang seperti itu,” kata Harry. “Setiap kali ada hal yang mengganggu emosi orang itu, dia meledak kepada siapapun. Masalah kecil di kantor bisa membuat dia menggila di rumah. Mengerikan.” lanjutnya.
“Orang labil?” tanya Widy.
“Bisa dikatakan seperti itu,” Amir mulai berbicara. Memang beberapa tahun terakhir Amir gemar mempelajari psikologi, termasuk kepribadian seseorang. Entah apa yang membuatnya gemar mempelajarinya.
“Dalam memahami kepribadian seseorang, kita tak bisa melepaskan diri dari faktor latar belakang seseorang tersebut. Kondisi sosiokulturalnya, lingkungan tempat dia tumbuh, juga mungkin pola didik dalam keluarganya. Keadaan emosi seperti itu memang wajar terjadi pada remaja. Mereka masih dalam masa perkembangan menuju kedewasaan.” jelas Amir. Selain semakin sejahtera, Amir ternyata makin cerdas, pikirku.
“Tapi itu bukan gangguan kejiwaan, kan?” tanya Faris, mengkhawatirkan keadaan adiknya.
“Itu wajar di usia adikmu. Bisa ditangani dengan memodifikasi komunikasi. Memperhalus kata-kata, adalah salah satu cara. Juga bersabar ketika berkomunikasi dengan seseorang seperti itu.” lanjut Amir. Semakin hebat saja temanku yang satu ini, pikirku.
***
Lampu tak padam lagi. Kami bertujuh masih saja larut dalam perbincangan. Semakin malam, pembicaraan semakin kemana-mana. Atau mungkin masih saja di tempatnya.
“Aku masih beranggapan bahwa dorongan seksual pada laki-laki itu lebih besar daripada perempuan,” kata Widy, mengajak berbincang tentang seksualitas.
“Dorongan seksual itu sama saja pada siapa saja. Misalnya, segelas es teh ini. Akan tetap menjadi segelas es teh, entah diminum Rohman atau diminum kamu.” tukas Harry, menanggapi.
“Tapi laki-laki lebih cepat melampiaskan dorongan seksual daripada perempuan,” kelit Widy, seperti tak terima anggapannya coba dipatahkan oleh Harry.
“Aksi sama belum tentu menghasilkan reaksi yang sama. Setiap orang punya cara sendiri untuk bereaksi pada ‘aksi’ dorongan seksual,” debat Harry.
“Tapi laki-laki sering onani, perempuan jarang marturbasi,” lanjut Widy, masih belum menyerah. Mungkin karena menjadi satu-satunya perempuan malam itu, dia merasa harus membela kaumnya.
“Kata siapa? Jangan menuduh gitu donk,” Irfan dan Harry merasa tidak nyaman diasumsikan sering onani.
“Masturbasi itu berasal dari dua kata. Pertama adalah main, yang berarti tangan. Yang kedua aku lupa kata tepatnya, yang kuingat kata itu juga merupakan kata asal dari turbulence, semacam bergerak-gerak. Jadi, masturbasi bisa berarti apapun yang menggerak-gerakkan tangan. Pada perkembangannya, memang marturbasi hanya diasosiasikan dengan seksualitas. Tapi, istilah masturbasi itu untuk laki-laki dan perempuan.” Harry mencoba menjelaskan tentang etimologi masturbasi; mencoba keluar dari bahasan laki-laki dan perempuan. Pembahasan tentang laki-laki dan perempuan yang dilakukan laki-laki dan perempuan akan menjadi perdebatan tak berujung. Begitu menurutnya.
“Wah, bahasan mulai panas. Aku nggak ngerti banyak tentang ini. Aku pamit saja. Ada beberapa berkas yang harus selesai dan diprint malam ini, buat meeting besok pagi.” Amir berkelakar, memotong perbincangan. Berpamitan.
“Kau berbicara sesuai pengalaman ya?” tanya Rohman kepada Harry, melempar candaan.
Kami bertujuh tertawa. Amir sudah beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba Rohman juga berdiri. “Aku sekalian pamit. Baru saja rekanku sms, ada hal urgent terjadi di proyek kami. Harus diselesaikan mala mini.” kata Rohman.
“Jadi, obrolan kita rampung?” tanya Faris, kepada siapapun.
“Iya, kan aku bareng Rohman,” jawab Widy, sembari memakai jaketnya.
“Tidak, harus berlanjut,” sanggah Rohman. “Tapi kali lain,” lanjutnya.
Kami bertujuh akhirnya memutuskan untuk mengakhiri nostalgia. Amir harus menyelesaikan berkas dan mengeprint untuk meeting di kantornya besok. Rohman harus menemui rekannya. Widy membonceng Rohman. Irfan dan Faris juga memutuskan untuk pulang ke kontrakan, istirahat setelah seharian bekerja. Harry, yang tadi diantar Zulfa, berjalan kaki ke warnet terdekat. Dia ingin menyapa teman-temannya di facebook. Aku? Aku belum memutuskan akan kemana. Mungkin akan ke tempatku. Meracau sendirian. Galau. Tidak kacau.
April 2011



Posting Komentar