Koran kemarin kugulung lagi setelah kubaca-baca
Puas aku menikmati senyummu yang kutemu di sana
Kudekap koran itu
Kudekatkan senyummu ke dada
Dan kuamankan dari tangan malam
Yang selalu mencoba merengkuhnya
Ah,
Entah mulai kapan aku memukim di sini
Menunggu janji
Melewatkan kereta-kereta yang melambat
Enggan berhenti
: Aku datang bersama kereta terakhir
Menjinjing keranjang rindu
Kata-katamu semakin jauh
Menjelma sayap-sayap terbang
Yang akan melanglang
Lalu, kapan kereta terakhir itu datang?
Apa warna keranjang yang kau bawa, Sayang?
Bagaimana pula dengan rindumu?
Sudah lama sejak terakhir ia menggores telapak tangan
Tak pula kulihat ia tersenyum di lembaran koran
Ah, rindumu sekarang dimana, Sayang?
Masihkah ia akan datang bersama kereta terakhir?
Kalau tidak,
Mending aku pulang
Malam nanti, cinta akan tetap mampir


Posting Komentar