Sajak-sajak itu Kembali, dan Kubayangkan Kita Berdansa Lagi
diunggah pada 24 Apr 2010
Pernah aku gantung sajak-sajak di langit-langit kamarmu. Pernahkah kau melihat mereka berayun? Riang bukan? Sajak-sajak itu bukan aku, yang terlalu lelap jika bersandar di pundak kapasmu kala lelah. Sajak-sajak itu berayun, lalu bertimangan, lalu berayun, terus. Kala itu, sengaja kubuat untukmu.
Kini, entah dihembus malam apa, mungkin dihantar sepi, sajak-sajak itu kembali. Berayun-ayun diantara rusuk-rusukku, masih saja riang. Jika bisa kujepret lalu pajang di meja belajarku seperti kau memajang bingkai fotomu dan kekasihmu, akan kulakukan. Namun, dia masih membawa kelam dari kamarmu. Ingin aku melukis sudut bibir yang tawa sajak-sajak itu, tapi kuas-kuas terlalu rapuh. Aku takut mematahkannya lagi.
Cinta menyergap
Tak usah buang peluh untuk menolak
Cinta tak mengenal elak
Sajak-sajak itu kini bisa bernyanyi. Aku tidak pernah tahu mereka bisa, apakah kau yang mengajari mereka? Nyanyian merdu seperti rindu. Ah, sepertinya mereka belajar dari waktu. Tapi aku masih ingat, suara mereka suaramu. Aku masih ingat suaramu yang mengalun mengiringi dansa kita, di sebuah senja. Ah, Aku merinduimu, kekasih.
Cinta melayang
Tak usah kau usung serupa kandang
Jika sudah akan, cinta tetap terbang
Kini, diantara ayunan dan nyanyian sajak-sajak itu, kau mengawang-awang. Kau adalah yang dikenang. Bagaimana aku harus melukiskan rindu di wajahmu yang air? Kata apa yang bisa mengetuk hatimu yang angin? Ah, aku masih saja merinduimu, kekasih.
Dan, kubayangkan kita berdansa lagi.



Posting Komentar