Sejak kau katakan puisiku adalah bualan, hatiku melebam. Kuamati langit malam, semakin hitam. Pintu di dadaku yang pernah kaumerahkan dengan lipstikmu kini berubah warna, jadi hitam.
Bagaimana aku yang legam bertahan di dunia penuh iklan pemutih wajah? Bagaimana aku tidak cemas dan gelisah? Diriku kaubentuk dari kata-katamu, sedang kata-kataku tak mampu membangunkanmu.
Ah, kau dan dunia ternyata sama saja, menyembunyikan tanya dan jawaban di balik celana. Ingin sekali kurogoh tapi takut diperkarakan. Aku masih takut ditampar Tuhan.
Memang aku hitam, kau tak hitam. Atau dunia ini hitam, memaksa kita hitam. Entahlah. Perdebatan selesai. Kita sudah usai.


Posting Komentar