Sajak Sebatang Bukan Lisong

: W. S. Rendra
terinspirasi Sajak Sebatang Lisong karya W. S. Rendra


Kau bertanya
Tapi pertanyaanmu membentur pertanyaanku
Mengapa penyair-penyair salon
Masih menunggu orgasme
Mencumbu gerimis dan senja
Padahal dadanya telah membiru
Lebam dipukuli jaman

Bunga-bunga bangsa malah bergaya saat diperkosa angka
Berkaca-kaca saat kehabisan pulsa
Seperti cicak-cicak di dinding mengeluh kepanasan
Jatuh ke kursi menjadi benih
Tumbuh dipupuki radiasi layar dari pagi sampai malam hari

Tak usah kau bicarakan pendidikan
Kami sudah muak mencecap teori-teori berdasar kurikulum yang dipas-paskan
Lebih enak kami minum susu ibu muda bercampur silikon
Yang baru saja membuang bayinya di tempat sampah beserta sebungkus kondom
Mengapa kita mesti keluar ke jalan raya?
Apalagi keluar ke desa-desa
Jika yang ditemui sama saja
Persoalan-persoalan tanpa penyelesaian

Inilah sajakku yang kutulis satu jam lalu
Tentang pamflet masa daruratmu
Apa artinya kata-kata?
Jika tak terbaca dan didengarkan
Apa artinya berpikir tentang perubahan?
Jika membuat kita makin tenggelam di pengacuhan



Semarang,
mengenang satu tahun wafatnya W. S. Rendra,
6 Agustus 2010

No Response to "Sajak Sebatang Bukan Lisong"

Posting Komentar