Aku tiba-tiba merasa mempunyai cukup nyali untuk menghadapi apa saja yang akan dia katakan padaku nanti. Aku sudah menulis sebuah cerita. Aku bukan pengarang gagal yang hanya bisa ngoceh tentang sebuah cerita tanpa pernah menuliskannya, seperti yang selalu diucapkannya padaku. Aku tidak seperti itu. Dan, cerita ini, akan aku sodorkan padanya malam ini. Semalam, setelah aku selesai mengetik cerita ini di laptopku, aku segera mengiriminya pesan. Pesan yang berisi ajakan ngopi di café langganan kami.
“Cerita apa ini?” kopi yang aku hirup pelan, tiba-tiba meluncur masuk menabrak kerongkongan. Aku tersedak saat dia melontarkan pertanyaan pertamanya yang terdengar getir di telingaku.
“Kau bisa baca sendiri judulnya.” aku mencoba tenang.
“Beckham berkaki delapan? Dari judulnya sudah terlihat, kau ini pengarang gagal tapi masih saja sok nyentrik.” katanya. Kalau saja dia bukan sahabat yang sudah lama kukenal, aku pasti sudah membuat mukanya berdarah dengan menghempaskannya ke meja. Dia sahabat yang baik, tapi memang seperti itulah caranya berbicara, gamblang cenderung kasar, akan meruntuhkan nyali jika tidak tahan.
“Jangan dulu menghakimi jika belum membaca semuanya,” kata yang keluar dari mulutku di sela-sela asap rokok yang kuhisap sesaat sebelumnya.
Ini cerita tentang seekor laba-laba yang tinggal di sebuah kamar. Kamar kos seorang gadis yang sangat mengagumi David Beckham. Di kamar itu, laba-laba hanya mengenali dua manusia, gadis itu dan Beckham. Ada puluhan wajah Beckham di kamar itu; di poster, di cover majalah, di poto yang dikliping dari koran yang kemudian ditempel di dinding depan meja belajar gadis itu. Bahkan, ada poto Beckham yang dipotong sedemikian rupa lalu digabungkan dengan poto gadis itu, disandingkan manis layaknya sepasang kekasih. Dipasang di pigura lalu diletakkan di meja belajar. Gadis itu lebih sering memandangi poto-poto Beckham daripada buku-buku kuliah yang ada di meja itu. Laba-laba menduga gadis itu tidak hanya mengagumi, tapi mencintai David Beckham. Dia yakin dugaannya tidak keliru.
“Menduga? Mana mungkin laba-laba bisa menduga sesuatu?” tanya sahabatku memotong kata-kataku.
“Imajinasi. Bukankah pengarang bebas membubuhkan imajinasi ke dalam ceritanya?” kilahku.
Aku sebenarnya tahu dia berkomentar seperti itu hanya untuk mencecar ceritaku. Dan, aku yakin dia sebenarnya tahu, imajinasi membuat sebuah cerita menarik. Imajinasi itu bebas, tidak mengikat. Ada yang sudah pernah menuliskan obrolan cermin dan meja di kamar motel, dan sah-sah saja membayangkan perabot rumah ngerumpi. Bahkan, ada yang nekat berimajinasi menuliskan tentang tuhan yang memakai kacamata emas. Walaupun katanya membayangkan tuhan seperti apa itu dosa, tapi imajinasi tidak mengenal dosa. Hanya manusia yang takut dengan dosa.
Sengaja kubuat laba-laba itu memiliki sifat manusia. Namun dia tidak seperti manusia kebanyakan, yang suka berpraduga lalu merasa yakin dugaannya benar tanpa perlu membuktikan. Dia menyaksikan bukti-bukti; ucapan selamat malam dan kecupan lembut di poto setiap malam, tawa-tawa kecil yang muncul diiringi sipu setiap kali gadis itu melamum sambil memegangi poto Beckham, dan banyak hal lain yang biasanya ditayangkan sinetron-sinetron untuk menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta. Si laba-laba itu memang sering menemani gadis itu menonton TV.
“Oo, kamu ingin menceritakan cinta?” tanya kawanku. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu kujawab. Toh, dia akan mengerti nantinya ceritaku ini tentang apa setelah rampung membaca. Tapi, dengan maksud membuat dia semakin bingung dan tertarik mengikuti jalan cerita, kujawab saja.
“Iya, ini sebuah cerita cinta.” kataku. Aku merasa puas dengan jawabanku setelah melihatnya mengernyitkan dahi. Dia sepertinya semakin penasaran.
“Tapi ini bukanlah cerita cinta biasa seperti di TV. Ini bukanlah cerita tentang jejaka kaya yang mencintai gadis miskin atau gadis cantik jelita yang mencintai pemuda bloon yang entah mengapa selalu berwajah rupawan.” jelasku.
“Lalu apa? Laba-laba yang disihir peri menjadi Beckham semalam a la cinderella?” tanyanya lagi, kali ini aku tidak menjawab dan memilih melanjutkan cerita.
"Suatu siang, saat memperbaiki sarang di bawah meja yang rusak karena berhasil menjerat nyamuk semalam, laba-laba itu melihat gadis itu masuk kamar dengan tergesa-gesa, seakan-akan di luar ada cicak besar yang akan memangsa gadis itu, dan membuatnya harus masuk kamar secepatnya. Itulah yang bisa dibayangkan laba-laba. Si laba-laba memang selalu melarikan diri ke sarang jika dikejar cicak." sejenak kuhentikan ceritaku untuk menghisap kopi.
"Lalu gadis itu menangis. Si Laba-laba penasaran. Ia segera berayun ke kaki meja, lalu merayap ke tumpukan buku di atas meja belajar. Gadis itu membenamkan mukanya di bantal. Beckham cedera dan terpaksa mengakhiri kariernya. Itulah mengapa si gadis tersedu." lanjutku.
“Beckham masih bermain, berita transfernya pun masih santer. Kau terlalu mengada-ada, kawan.” Aku sudah hapal dengan keinginan menyiram mukanya dengan secangkir di depanku, selalu saja begitu tiap kali kita bercakap-cakap. Dia memojokkanku.
“Kau baca saja lanjutannya,” kusodorkan kertas-kertas itu ke sisi mejanya.
“Ah, tidak. Dari apa yang kauceritakan, aku sudah kehilangan selera membacanya. Sekarang aku makin yakin jika kau ini pengarang gagal. Kusarankan kau ganti cita-cita.” Benar-benar ingin kusiramkan kopiku ke mukanya. Tapi kuurungkan, kopiku sudah dingin. Dia tidak akan merasakan api yang disulutnya di dadaku malam ini.
“Apa yang kauinginkan dari cerita macam ini, kawan? Dibaca? Pembaca akan mendapat apa? Tulisan seharusnya membawa pencerahan kepada pembaca. Bahkan cerita fiksi harus memuat hikmah yang bisa dipelajari. Jika kau berkata ini bukan cerita di TV, aku tidak setuju. Ini sama saja, hanya tanpa wajah cantik gadis-gadis indo. Ini hanya cerita dengan kata-kata yang tidak membawa kemana-mana.” Kulihat wajahnya mulai mirip peran antagonis di sinetron-sinetron yang di-shoot close up.
“Kukira setelah semalam kau sms, aku akan mendapat cerita pendek darimu untuk kumuat di koranku. Tapi jika yang kau punya hanya cerita seperti ini, memuatnya akan meruntuhkan imageku sebagai redaktur sastra. Ceritamu bukan sastra. Ceritamu tidak layak dibaca.” Mulailah dia berbicara dengan nada yang lebih mirip deru bulldozer ketika menggusur lapak-lapak PKL di pinggir jalan. Lapak-lapak tempat aku menjual mimpiku.
“Seperti yang kukatakan tadi, kau ganti cita-cita saja. Apa sajalah, asal bukan pengarang. Renungkan sebelum kau tidur nanti.” katanya sambil berdiri dan merogoh saku belakang. Mengambil dompet dan mengeluarkan uang limapuluh ribuan. Seperti biasa, dia yang membayar walau aku yang mengundangnya ke sini.
“Oh iya, besok malam pukul delapan jangan lupa datang ke Arena. Tim Halaman Sastra akan bertanding futsal melawan Tim Halaman Kriminal. Aku memasukkanmu ke timku. Aku membutuhkan umpan Beckham berkaki delapan untuk menang.” Dia berlalu sambil tertawa.
Aku masuk kamar. Kurebahkan badanku di tempat tidur. Lampu kamar kumatikan. Aku ingin tidur melupakan kekesalanku pada sahabatku yang satu itu. Tidak, aku tidak ingin melupakan. Aku ingin meluapkan kekesalanku. Dalam tidurku kali ini, aku akan bermimpi menjadi laba-laba dengan delapan kakinya. Menjadi Beckham berkaki delapan. Bola yang akan kutendang adalah kepala sahabatku itu, dengan wajah yang nyinyir tadi. Ah, dia pasti tidak akan marah. Tuhan pasti tidak akan marah. Ruang mimpi adalah ruang untuk menjadikan nyata setiap hal yang tidak terpenuhi di ruang sebenarnya.
“Cerita apa ini?” kopi yang aku hirup pelan, tiba-tiba meluncur masuk menabrak kerongkongan. Aku tersedak saat dia melontarkan pertanyaan pertamanya yang terdengar getir di telingaku.
“Kau bisa baca sendiri judulnya.” aku mencoba tenang.“Beckham berkaki delapan? Dari judulnya sudah terlihat, kau ini pengarang gagal tapi masih saja sok nyentrik.” katanya. Kalau saja dia bukan sahabat yang sudah lama kukenal, aku pasti sudah membuat mukanya berdarah dengan menghempaskannya ke meja. Dia sahabat yang baik, tapi memang seperti itulah caranya berbicara, gamblang cenderung kasar, akan meruntuhkan nyali jika tidak tahan.
“Jangan dulu menghakimi jika belum membaca semuanya,” kata yang keluar dari mulutku di sela-sela asap rokok yang kuhisap sesaat sebelumnya.
Ini cerita tentang seekor laba-laba yang tinggal di sebuah kamar. Kamar kos seorang gadis yang sangat mengagumi David Beckham. Di kamar itu, laba-laba hanya mengenali dua manusia, gadis itu dan Beckham. Ada puluhan wajah Beckham di kamar itu; di poster, di cover majalah, di poto yang dikliping dari koran yang kemudian ditempel di dinding depan meja belajar gadis itu. Bahkan, ada poto Beckham yang dipotong sedemikian rupa lalu digabungkan dengan poto gadis itu, disandingkan manis layaknya sepasang kekasih. Dipasang di pigura lalu diletakkan di meja belajar. Gadis itu lebih sering memandangi poto-poto Beckham daripada buku-buku kuliah yang ada di meja itu. Laba-laba menduga gadis itu tidak hanya mengagumi, tapi mencintai David Beckham. Dia yakin dugaannya tidak keliru.
“Menduga? Mana mungkin laba-laba bisa menduga sesuatu?” tanya sahabatku memotong kata-kataku.
“Imajinasi. Bukankah pengarang bebas membubuhkan imajinasi ke dalam ceritanya?” kilahku.
Aku sebenarnya tahu dia berkomentar seperti itu hanya untuk mencecar ceritaku. Dan, aku yakin dia sebenarnya tahu, imajinasi membuat sebuah cerita menarik. Imajinasi itu bebas, tidak mengikat. Ada yang sudah pernah menuliskan obrolan cermin dan meja di kamar motel, dan sah-sah saja membayangkan perabot rumah ngerumpi. Bahkan, ada yang nekat berimajinasi menuliskan tentang tuhan yang memakai kacamata emas. Walaupun katanya membayangkan tuhan seperti apa itu dosa, tapi imajinasi tidak mengenal dosa. Hanya manusia yang takut dengan dosa.
Sengaja kubuat laba-laba itu memiliki sifat manusia. Namun dia tidak seperti manusia kebanyakan, yang suka berpraduga lalu merasa yakin dugaannya benar tanpa perlu membuktikan. Dia menyaksikan bukti-bukti; ucapan selamat malam dan kecupan lembut di poto setiap malam, tawa-tawa kecil yang muncul diiringi sipu setiap kali gadis itu melamum sambil memegangi poto Beckham, dan banyak hal lain yang biasanya ditayangkan sinetron-sinetron untuk menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta. Si laba-laba itu memang sering menemani gadis itu menonton TV.
“Oo, kamu ingin menceritakan cinta?” tanya kawanku. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu kujawab. Toh, dia akan mengerti nantinya ceritaku ini tentang apa setelah rampung membaca. Tapi, dengan maksud membuat dia semakin bingung dan tertarik mengikuti jalan cerita, kujawab saja.
“Iya, ini sebuah cerita cinta.” kataku. Aku merasa puas dengan jawabanku setelah melihatnya mengernyitkan dahi. Dia sepertinya semakin penasaran.
“Tapi ini bukanlah cerita cinta biasa seperti di TV. Ini bukanlah cerita tentang jejaka kaya yang mencintai gadis miskin atau gadis cantik jelita yang mencintai pemuda bloon yang entah mengapa selalu berwajah rupawan.” jelasku.
“Lalu apa? Laba-laba yang disihir peri menjadi Beckham semalam a la cinderella?” tanyanya lagi, kali ini aku tidak menjawab dan memilih melanjutkan cerita.
"Suatu siang, saat memperbaiki sarang di bawah meja yang rusak karena berhasil menjerat nyamuk semalam, laba-laba itu melihat gadis itu masuk kamar dengan tergesa-gesa, seakan-akan di luar ada cicak besar yang akan memangsa gadis itu, dan membuatnya harus masuk kamar secepatnya. Itulah yang bisa dibayangkan laba-laba. Si laba-laba memang selalu melarikan diri ke sarang jika dikejar cicak." sejenak kuhentikan ceritaku untuk menghisap kopi.
"Lalu gadis itu menangis. Si Laba-laba penasaran. Ia segera berayun ke kaki meja, lalu merayap ke tumpukan buku di atas meja belajar. Gadis itu membenamkan mukanya di bantal. Beckham cedera dan terpaksa mengakhiri kariernya. Itulah mengapa si gadis tersedu." lanjutku.
“Beckham masih bermain, berita transfernya pun masih santer. Kau terlalu mengada-ada, kawan.” Aku sudah hapal dengan keinginan menyiram mukanya dengan secangkir di depanku, selalu saja begitu tiap kali kita bercakap-cakap. Dia memojokkanku.
“Kau baca saja lanjutannya,” kusodorkan kertas-kertas itu ke sisi mejanya.
“Ah, tidak. Dari apa yang kauceritakan, aku sudah kehilangan selera membacanya. Sekarang aku makin yakin jika kau ini pengarang gagal. Kusarankan kau ganti cita-cita.” Benar-benar ingin kusiramkan kopiku ke mukanya. Tapi kuurungkan, kopiku sudah dingin. Dia tidak akan merasakan api yang disulutnya di dadaku malam ini.
“Apa yang kauinginkan dari cerita macam ini, kawan? Dibaca? Pembaca akan mendapat apa? Tulisan seharusnya membawa pencerahan kepada pembaca. Bahkan cerita fiksi harus memuat hikmah yang bisa dipelajari. Jika kau berkata ini bukan cerita di TV, aku tidak setuju. Ini sama saja, hanya tanpa wajah cantik gadis-gadis indo. Ini hanya cerita dengan kata-kata yang tidak membawa kemana-mana.” Kulihat wajahnya mulai mirip peran antagonis di sinetron-sinetron yang di-shoot close up.
“Kukira setelah semalam kau sms, aku akan mendapat cerita pendek darimu untuk kumuat di koranku. Tapi jika yang kau punya hanya cerita seperti ini, memuatnya akan meruntuhkan imageku sebagai redaktur sastra. Ceritamu bukan sastra. Ceritamu tidak layak dibaca.” Mulailah dia berbicara dengan nada yang lebih mirip deru bulldozer ketika menggusur lapak-lapak PKL di pinggir jalan. Lapak-lapak tempat aku menjual mimpiku.
“Seperti yang kukatakan tadi, kau ganti cita-cita saja. Apa sajalah, asal bukan pengarang. Renungkan sebelum kau tidur nanti.” katanya sambil berdiri dan merogoh saku belakang. Mengambil dompet dan mengeluarkan uang limapuluh ribuan. Seperti biasa, dia yang membayar walau aku yang mengundangnya ke sini.
“Oh iya, besok malam pukul delapan jangan lupa datang ke Arena. Tim Halaman Sastra akan bertanding futsal melawan Tim Halaman Kriminal. Aku memasukkanmu ke timku. Aku membutuhkan umpan Beckham berkaki delapan untuk menang.” Dia berlalu sambil tertawa.
Aku masuk kamar. Kurebahkan badanku di tempat tidur. Lampu kamar kumatikan. Aku ingin tidur melupakan kekesalanku pada sahabatku yang satu itu. Tidak, aku tidak ingin melupakan. Aku ingin meluapkan kekesalanku. Dalam tidurku kali ini, aku akan bermimpi menjadi laba-laba dengan delapan kakinya. Menjadi Beckham berkaki delapan. Bola yang akan kutendang adalah kepala sahabatku itu, dengan wajah yang nyinyir tadi. Ah, dia pasti tidak akan marah. Tuhan pasti tidak akan marah. Ruang mimpi adalah ruang untuk menjadikan nyata setiap hal yang tidak terpenuhi di ruang sebenarnya.


Posting Komentar