Tak perlu kau tanya sampai kapan
aku ada di bawah beringin yang menghujan,
juga mengapa
Tetes-tetes air dari pucuk daun itu
membakar juntai akar
mencipta asap yang kalut
serupa arah-arah yang mencerabut pada mata
Kemana lagi setelah hujan ini, sayang?
Bukankah kita menunggu pulang?
Atau kita telah pulang
tapi perjalanan terlalu pintar meluruskan tikungan?
Kita masih manusia untuk melawan lupa
Benarkah kepulangan itu hanya
perihal menunggu hujan reda?


Posting Komentar