Mencari-cari namun tidak kunjung menemukan bisa berarti kesialan itu sendiri. Lintang merasa sial hari ini. Sudah dua hari ini dia belum beranjak dari halaman 93, dia mencoba menerjemahkan Essays on Love karya Alain de Botton. Novel yang dia dapat beberapa minggu lalu memesona hatinya sejak kalimat ketiga di halaman pertama dia baca. “Tidak bisakah seseorang dimaklumi saat meyakini akan menemukan pria atau wanita yang ditakdirkan untuknya?” kira-kira begitu Lintang mengartikannya. Lintang makin bersemangat menerjemahkan, kata ke kata, kalimat ke kalimat. Dia baca perlahan karena tidak ingin melewatkan satu pun makna. Dia percaya bahwa jodoh itu sudah ditakdirkan. Dan Lintang merasa novel ini akan menjelaskan apa yang ia yakini.
Siang yang menyebalkan. Mendung menggelayut. Dan Lintang tak kunjung menemukan makna dari variety of melting pot yang bisa memuaskannya. Google translate pun hanya mengartikannya sebagai ‘jenis pot yang meleleh’. Tidak ada yang bisa dipercaya di internet, begitu pikirnya, kesal. Kekesalan yang makin membuatnya murung hari ini. Tapi ini hari jadinya. Satu tahun berpacaran. Setelah berkali-kali berpacaran, baru kali ini Lintang mencapai satu tahun. Itu suatu keberuntungan, bukan? Lintang berusaha menenangkan diri sendiri.
Lintang sibuk dengan pikirannya sendiri, kekesalan dan kesialan hari ini. Juga kecemasan akan hujan yang mungkin saja turun nanti sore atau malam. Musim tak lagi bisa dibaca. Hujan kadang datang tiba-tiba dan berlangsung lama. Dan jika itu terjadi, maka hancurlah malam hari jadinya. Lintang sudah berencana merayakannya dengan kekasihnya.
“Tunggu kejutan yang aku siapkan untukmu.” kenang Lintang tentang sms dari kekasihnya beberapa hari lalu. Lintang tersenyum. Dia memutuskan tidur siang, menenangkan pikirannya dan berharap hujan tidak turun.
****
Mendapatkan yang terakhir terkadang menjadi keberuntungan tersendiri. Itu yang dirasakan Abe setelah menemukan buku Tentang Cinta karya Alain de Botton di toko buku keempat yang ia kunjungi dalam dua hari ini. Hanya ada satu buku tersisa di rak novel terjemahan. Abe tidak malu memamerkan senyum kemenangan kepada semua orang yang berpapasan dengannya ketika berjalan ke kasir. Dia bahkan melempar terlebih dahulu kepada penjaga kasir. Dengan raut muka heran, penjaga kasir tetap membalas senyuman Abe—keramahan yang terlatih khas penjaga kasir dan kebanyakan pelayan toko.
Sore yang seperti petang. Langit mendung. Jalanan ramai oleh kendaraan-kendaraan yang bergegas pulang. Tidak dengan Abe. Hari masih terlalu sore untuk diselesaikan dengan tergesa, pikirnya. Jikapun turun hujan, itulah hujan kemenangannya. Dia ingin berhenti tersenyum membayangkan senyuman yang akan muncul di bibir Lintang. Mampu membuat seseorang yang dicintai bahagia adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Abe merasa Lintang mungkin ingin memiliki buku ini. Abe mempercayai perasaannya dan berjanji pada diri sendiri untuk mewujudkan itu. Dan sekarang, di bawah langit yang kalah. Abe merasa menang.
Tetes hujan sampai ke tanah ketika Abe memarkir motor di depan kos. Keberuntungan yang lain, pikir Abe. Di dalam kamarnya, Abe merobek plastik pembungkus buku. Membuka halaman pertama. Tentang Cinta, Alain de Botton. Ya, mungkin memang ini tentang cinta. Dua hari keluar masuk toko buku hanya mencari sesuatu yang tidak dia butuhkan. Abe tidak pernah suka dengan buku-buku yang menuliskan percintaan. Buku-buku menggambarkan cinta dengan ironis, selalu ada yang terluka. Cinta memiliki sejuta rasa, sepuluh rasa bahagia sisanya berupa duka. Mungkin karena terlalu banyak membaca buku-buku yang seperti itu banyak orang yang merana karena cinta. Cinta bukanlah duka, menurutnya. Cinta adalah anugrah yang harus dinikmati.
****
Ketika bangun tidur, Lintang mendapati sore masih saja mendung. Tapi entah mengapa dia tidak merasa cemas hujan akan turun—mungkin karena tidur siang. Dia yakin malam ini akan menjadi malam menyenangkan. “Kadang kita hanya membutuhkan keyakinan untuk merasa nyaman,” katanya pada diri sendiri.
Lintang beranjak dari kamarnya. Kamar mandi adalah tempat yang menyenangkan baginya. Walau suasana dingin, dia tidak pernah membenci mandi. Dia biasa mandi lama sekali, kadang membuat kekasihnya menunggu lama. Namun kekasihnya setia menunggu, itu salah satu alasan Lintang yakin kekasihnya benar-benar mencintainya, benar-benar jodohnya. Lugu memang, tapi cinta selalu lugu, bukan? Selain cinta itu rela berkorban.
Setelah mandi, Lintang merasa inilah waktu yang tepat untuk melanjutkan menerjemahkan, sambil menunggu malam tiba. Semoga saja dia bisa keluar dari halaman 93 dan melewatkan malam nanti tanpa rasa penasaran pada novel. Malam yang dinanti harus sepenuhnya dinikmati.
****
Entah berapa kali Abe tersenyum hari ini. Jika senyum itu air, kamarnya pastilah banjir. Abe membuat coretan di halaman pertama, tepat di bawah huruf A dan B pada Alain de Botton. Arya Bagaskoro. Nama Abe memang diberikan oleh Lintang.
“Aku tidak mau memanggilmu Arya atau Bagas, sudah banyak teman cewekmu memanggilmu itu.” Abe mengenang perkataan Lintang ketika pertama kali memanggilnya Abe. Senyum itu muncul kembali, Abe kebanjiran kebahagiaan. “Tetaplah menjadi Lintang” tulis Abe di pojok kiri atas halaman pertama.
Mendung masih di langit. Hujan tak kunjung turun. Dan malam telah tiba. Abe menekan ujung-ujung buku Tentang Cinta, memastikan buku itu tidak berlekuk walau dia tidak membungkusnya dengan kertas kado. Abe bergegas mengantarkan buku itu, dengan semangat kemenangan. Senyuman Lintang bisa menjadi piala yang menyempurnakan hari yang telah terlalu sempurna ini.
Gerbang rumah Lintang nampak, Abe merasa makin dekat dengan kemenangan.
****
Mendung masih di langit. Hujan pun tak kunjung turun. Malam telah tiba. Walau masih belum berhasil menerjemahkan Essays on Love melewati halaman 93, Lintang masih merasa yakin bahwa malam ini akan menjadi malam istimewa. Lintang bersiap, memakai kaos putih dan menyemprotkan parfum ke tengkuk dan pergelangan tangannya. Dia berdandan. Dia ingin tampil cantik malam ini.
Lintang telah siap. Kini dia menunggu sang kekasih, sembari membayangkan kejutan apa yang akan dia terima dari kekasih. Harapnya adalah mendapatkan versi terjemahan Essays on Love. Pikirannya masih tidak bisa lepas dari novel itu.
Lintang di ruang tamu, menatap pintu. Masih menunggu.
****
Abe memarkirkan motornya, bercermin ke kaca spion. Memastikan dia tampak menawan. Bel dipencetnya. Ting Tong!!
Abe menunggu.
Pintu di buka, ibu Lintang berdiri di balik pintu.
“Selamat malam, Tant. Lintang ada?” tanya Abe.
“Malam Bagas, Lintang keluar sama Galang tuh. Barusan aja.” jawab Ibu Lintang.
“Oh, saya nitip ini buat Lintang, Tant.” Abe menyerahkan buku bersampul corak langit itu.
Abe pamit. Dia pulang dengan tersenyum. Masih merasa menang.



Posting Komentar