Kubunuh Kau di Pagi yang Mendung

Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Ingin rasanya aku datang ke pintumu, mengetuknya, lalu menusukkan sembilu seketika kau membukakannya untukku. Akan kunikmati saat itu. Dadamu yang berkucuran darah, jantungmu tak lagi berdetak. Tunggu ! Bukan itu yang aku inginkan. Tubuhmu tak perlu aku bunuh. Tanah niscaya akan menjamah nanti.

Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Kau sengaja membakar mata benci di depanku yang dingin dan sepi. Aku mencintaimu tapi api-apimu tetap menjilat-jilat. Sepertinya baru kemarin kudengar kau meneriakkan namaku dalam marah. Marah yang menangis. Kulihat kala itu pupil matamu bergetar, seperti tengah terjadi perang di dalam kepalamu. Saat itu akupun berairmata, juga tertawa. Tidak mungkin kau membenciku sangat jika di dadamu tidak pernah ada cinta yang hebat.

Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Kenangan tentangmu. Bawa sekali lagi mata benci yang pernah kau beri. Kupinjam percik apinya untuk membakar semua yang pernah terjadi. Saatnya kutuntaskan masa lalu. Masa depan sudah membunyikan peluitnya. Aku akan berangkat setelah membunuhmu.

Kubunuh kau di pagi yang mendung
Hidup adalah kereta
Dan dalam setiap perjalanan,
Orang-orang bertemu
Orang-orang tidak saling kenal lagi nanti

No Response to "Kubunuh Kau di Pagi yang Mendung"

Posting Komentar