Adalah gerimis
Jatuh dari langit yang sama
Menjelma semilyar dua abu
Mungkin lebih
Yang mencari jalan kembali
Menemu awan juga bintang
Lalu memeluk berpeluk
Adalah sepi
Dan juga seperti pelukan
Di atas tanah
Bahkan terkubur di bawahnya
Diantara cacingcacing yang riang makan
Lalu membuang semua sebagai kotoran
Tidak ada jemari yang lima
Tidak pula telapak tangan bertaut atau menengadah
Hanya melewati beberapa musim hujan
Dan keringnya beberapa kemarau
Lalu pada apa keabadian itu?
Pada embun pagi yang menetes
Lalu memeluk setiap tanah
Adalah yang melarut pada laut
Juga debu yang menguap bersamanya
Ah, pohon cemara sudah dipajang indah
Menara pun mengumandang meriah
Untuk apa hiasan merah,
Apalagi teriakan tentang darah?


Posting Komentar