Selalu ada ruang antara mulut dan telinga kita. Pula telinga dan mulut kita. Kata-kata hanya kabut yang muncul samar di malam hari. Seakan ingin memeluk purnama. Tapi, mendekatinya pun tidak.
Lalu dimana harus kuletakkan gemintang?
Diantara kedua tanganmu yang kaku itu?
Aku adalah jiwa-jiwa yang dilahirkan sayap. Aku terbang, menari di awang-awang. Aku tidak akan menunggu musik yang entah akan kau mulai kapan. Aku terbang karena aku lelah, memandangi mata-mata yang menunggu kata-kata. Makna selalu salah diantara tanda.
Lalu, kapan kau ukir purnamamu sendiri?
Aku sudah mencumbu bulanku, di ranjangku sendiri.


tulisanmu???
Iyaaa...hehehe
Posting Komentar